Scroll Untuk Membaca
BeritaEkonomiTerkini

Irigasi Ditutup, Ratusan Hektare Sawah di Sei Rampah Terancam Gagal Panen.

Irigasi Ditutup, Ratusan Hektare Sawah di Sei Rampah Terancam Gagal Panen.

Sergai, INTARTA.com – Ratusan hektare lahan persawahan di Dusun II dan III, Desa Sei Rejo, Kecamatan Sei Rampah, Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai), terancam gagal panen akibat saluran irigasi tidak dialiri air selama dua pekan terakhir.

Kekeringan terjadi karena aliran irigasi yang selama ini menjadi sumber utama pengairan sawah ditutup, sehingga petani terpaksa menggunakan mesin pompa air sebagai alternatif. Namun, kemampuan petani untuk bertahan dengan pompa air hanya berlangsung sekitar dua minggu karena tingginya biaya operasional.

Scroll Untuk Membaca
Iklan

Mulihardi (56), petani di Dusun II Desa Sei Rejo, Rabu (11/2/2026), mengatakan kondisi sawahnya mulai mengering dan tanaman padi terancam mati apabila tidak segera mendapat pasokan air.

“Kami sudah tidak sanggup lagi menggunakan pompa air, biaya semakin besar. Kami berharap pemerintah jangan hanya diam saja,” ujar Mulihardi.

Hal senada disampaikan Bambang (50), petani di Dusun III. Ia menyebut kekeringan terjadi akibat ditutupnya saluran irigasi sehingga air tidak lagi mengalir ke lahan pertanian warga.

Baca Juga :  Ketua APPI Sumut Nilai Penanaman Semangka di Lahan PTPN IV Adolina Berpotensi Langgar Aturan.

Menurut Bambang, kondisi sawahnya kini mulai retak dan tanaman padi menunjukkan tanda-tanda kekeringan.

“Baru saja mengalami gagal panen akibat banjir, kini kembali lagi dilanda kekeringan karena irigasi tidak berfungsi akibat saluran ditutup hingga air tidak berjalan,” katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sergai Dedi Iskandar yang dikonfirmasi melalui layanan WhatsApp menjelaskan, penutupan irigasi terjadi akibat adanya perselisihan antara GP3A Desa Sei Rejo dengan pemilik lahan tempat saluran irigasi melintas.

Ia mengatakan pihaknya sedang berupaya melakukan mediasi ulang agar persoalan tersebut dapat segera diselesaikan sehingga aliran air kembali normal.

Ketua GP3A Desa Sei Rejo, Sasrianto, tidak membantah adanya perseteruan dengan pemilik lahan bernama Yanto. Ia mengakui saluran irigasi sepanjang kurang lebih 30 meter tersebut berada di atas tanah milik yang bersangkutan dan telah ada sejak tahun 1973.

Menurut Sasrianto, saluran itu ditutup karena kesalahpahaman pribadi yang berujung konflik.

“Memang ada saluran irigasi berada di atas tanah yang bersangkutan, kurang lebih panjangnya 30 meter dan itu sudah ada sejak tahun 1973. Sekarang ditutup sama Yanto karena tersinggung sama aku,” ujar Sasrianto.

Baca Juga :  Hari Buruh, Bupati Serdang Bedagai Tampung Aspirasi Serikat Pekerja

Ia menambahkan, persoalan tersebut telah tiga kali dimediasi, namun belum menemukan titik temu. Dalam proses mediasi, disebutkan ada permintaan agar dirinya diberhentikan dari jabatan Ketua GP3A sebagai syarat pembukaan kembali saluran irigasi.

Akibat konflik tersebut, puluhan petani menjadi terdampak dan ratusan hektare sawah kini terancam gagal panen jika aliran air tidak segera dipulihkan.(DH)