Scroll Untuk Membaca
HiburanKhazanahRagamTerkini

Berikut 3 Amalan yang Dianjurkan dalam Menyongsong Ramadhan

Berikut 3 Amalan yang Dianjurkan dalam Menyongsong Ramadhan

Medan, INTARTA.com-Ramadhan sudah semakin dekat. Hal ini berarti umat Muslim akan kembali menyambut bulan yang sarat dengan keberkahan, ampunan, pahala, serta berbagai nilai kebaikan lainnya.

Bulan suci Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar dan haus, melainkan juga menjadi momen penting untuk memperbaiki diri, meningkatkan kualitas ibadah, serta mendekatkan diri kepada Allah SWT. Sehingga, kehadirannya layak disambut dengan penuh kegembiraan serta kesiapan spiritual yang optimal. Dalam salah satu redaksi hadis disebutkan:

Scroll Untuk Membaca
Iklan

أَتَاكُمْ شَهْرُ رَمَضَانَ شَهْرٌ مُبَارَكٌ فَرَضَ الله عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ تُفْتَحُ فِيْهِ أبْوَابُ الجَنَّةِ وتُغْلَقُ فِيْهِ أبوَابُ الجَحِيْمِ وتُغَلُّ فِيْهِ مَرَدَةُ الشَّيَاطِيْنِ وَفِيْهِ لَيْلَةٌ هِيَ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ

Artinya: “Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan yang penuh berkah. Allah mewajibkan kalian berpuasa di dalamnya. Pada bulan ini, pintu-pintu langit dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan yang jahat dibelenggu. Di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Barang siapa terhalang dari kebaikannya, maka sungguh ia telah merugi.” (HR an-Nasa’i)

Hadis di atas menunjukkan betapa mulianya bulan Ramadhan. Karenanya, para ulama dan generasi salaf tidak menunggu hingga bulan tersebut datang, melainkan sudah mempersiapkan diri sejak jauh hari sebelumnya.

Setidaknya ada tiga amalan yang dianjurkan untuk dilakukan sebagai persiapan menyambut bulan suci Ramadhan sebagai berikut:

1. Memanjatkan doa agar dipertemukan dengan Ramadhan

Salah satu kebiasaan para ulama terdahulu adalah memperbanyak doa menjelang tibanya Ramadhan. Mereka memohon kepada Allah agar diberi kesempatan hidup hingga dapat bertemu dengan bulan suci, dimudahkan dalam menjalankan ibadah, serta diterima segala amal kebaikan yang dilakukan di dalamnya. Di antara doa yang masyhur dibaca oleh Rasulullah SAW pada bulan Sya’ban adalah:

Baca Juga :  DPRD Tebingtinggi 'Pecah' Terjadi Dua Kubu Untuk Memparipurnakan Pengumuman Wali Kota dan Wakil Wali Kota Terpilih

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ رَجَبَ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ

Artinya: “Ya Allah, berkatilah kami pada bulan Rajab dan Sya’ban, serta sampaikan kami kepada Ramadhan.” (HR al-Baihaqi)

Doa ini berisi harapan agar Allah SWT mencurahkan keberkahan pada bulan-bulan sebelum Ramadhan, sekaligus memberikan kesempatan untuk menikmati keutamaan bulan suci tersebut.

Selain itu, Imam al-Baihaqi (wafat 360 H) dalam kitabnya juga menyebutkan bahwa para ulama salaf menganjurkan membaca doa berikut sebagai persiapan menyambut Ramadhan:

اللَّهُمَّ سَلِّمْنِي لِرَمَضَانَ، وَسَلِّمْ رَمَضَانَ لِي، وَتَسَلَّمْهُ مِنِّي مُتَقَبَّلًا

Artinya: “Ya Allah, sampaikanlah aku kepada Ramadhan, jadikan Ramadhan tetap ada untukku, dan terimalah amalanku di dalamnya dengan penerimaan yang baik.” (Ad-Du’a li Thabrani [Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah], vol. 1, h. 284)

Doa-doa tersebut menumbuhkan kesadaran bahwa kesempatan berjumpa dengan bulan suci Ramadhan merupakan anugerah yang sangat agung, lebih dari sekadar rutinitas yang datang setiap tahun.

2. Memperbanyak istighfar dan bertaubat

Selain berdoa, amalan penting lainnya ialah memperbanyak istighfar serta memperbarui taubat. Ramadhan merupakan bulan penyucian jiwa, sehingga menyambutnya dengan hati yang bersih akan membuat ibadah terasa lebih ringan dan penuh kekhusyukan.

Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki (wafat 1425 H) menjelaskan bahwa istighfar termasuk dzikir yang paling utama, terutama pada waktu-waktu yang mulia seperti bulan Sya’ban dan menjelang Ramadhan. Beliau menyebutkan:

Baca Juga :  GRIB Jaya Sergai Bagikan 10 Ribu Takjil untuk Warga di Bulan Ramadhan

الِاسْتِغْفَارُ مِنْ أَعْظَمِ وَأَوْلَى مَا يَنْبَغِي عَلَى الْمُسْلِمِ الْحَرِيصِ أَنْ يَشْتَغِلَ بِهِ فِي الْأَزْمِنَةِ الْفَاضِلَةِ، الَّتِي مِنْهَا شَعْبَانُ… وَفِيهِ تَكْفِيرٌ لِلذُّنُوبِ

“Istighfar termasuk amalan yang paling agung dan paling utama untuk dilakukan seorang muslim yang bersungguh-sungguh, terutama pada waktu-waktu utama, di antaranya bulan Sya’ban. Di dalamnya terdapat penghapusan dosa.” (Madza fi Sya’ban [Surabaya: Haiah as-Shafwah al-Malikiyyah], h. 57)

Dengan memperbanyak bacaan istighfar, seorang Muslim dapat menyucikan diri dari dosa-dosa yang berpotensi menghambat turunnya keberkahan Ramadhan.

3. Membiasakan puasa sunnah

Amalan selanjutnya adalah menjalankan puasa sunnah, terutama bagi mereka yang sudah terbiasa melakukannya, seperti puasa Senin-Kamis, atau puasa Daud.

Puasa di bulan Sya’ban ini menjadi sarana latihan, baik secara fisik maupun spiritual, sebelum memasuki Ramadhan. Imam az-Zarqani (wafat 1122 H) menjelaskan bahwa puasa di bulan Sya’ban berfungsi sebagai persiapan agar seseorang tidak merasa berat saat memasuki Ramadhan. Menurutnya, puasa Sya’ban ibarat latihan yang bisa membuat seseorang akan terbiasa merasakan manisnya ibadah puasa sebelum Ramadhan tiba. Sehingga ia akan menyambut Ramadhan dengan kekuatan dan semangat yang lebih besar.

Selain itu, melalui latihan tersebut, tubuh dan jiwa menjadi lebih siap menjalani puasa selama sebulan penuh, sehingga ibadah di bulan Ramadhan dapat dilaksanakan secara optimal.

وَقَدْ قِيلَ فِي صَوْمِ شَعْبَانَ مَعْنًى آخَرُ: وَهُوَ أَنَّ صِيَامَهُ كَالتَّمْرِينِ عَلَى صِيَامِ رَمَضَانَ، لِئَلَّا يَدْخُلَ فِي صِيَامِهِ عَلَى مَشَقَّةٍ وَكُلْفَةٍ، بَلْ يَكُونَ قَدْ تَمَرَّنَ عَلَى الصِّيَامِ وَاعْتَادَهُ، وَوَجَدَ بِصِيَامِ شَعْبَانَ قَبْلَ رَمَضَانَ حَلَاوَةَ الصَّوْمِ وَلَذَّتَهُ، فَيَدْخُلَ فِي صِيَامِ رَمَضَانَ بِقُوَّةٍ وَنَشَاطٍ

Baca Juga :  Derby Sengit, Senayan FC dan Bina Taruna Berbagi Poin, Sama-Sama Lolos ke 8 Besar

“Dan telah disebutkan makna lain dari puasa di bulan Sya’ban, yaitu bahwa puasa Sya’ban berfungsi sebagai latihan untuk puasa Ramadhan, agar seseorang tidak memasuki puasa Ramadhan dalam keadaan berat dan penuh keterpaksaan. Sebaliknya, ia telah terlatih dan terbiasa berpuasa serta merasakan manis dan nikmatnya puasa melalui puasa Sya’ban sebelum Ramadhan. Sehingga ia memasuki puasa Ramadhan dengan kekuatan dan semangat.” (Syarh az-Zarqani [Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah], vol. 11 h. 287)

Walhasil, tiga amalan tersebut, mulai dari memperbanyak doa, istighfar, hingga puasa sunnah merupakan bentuk persiapan yang diajarkan para ulama dalam menyongsong bulan suci Ramadhan.

Persiapan di sini tidak hanya bersifat fisik semata, tetapi juga spiritual agar kita memasuki bulan suci dengan hati yang bersih, niat yang kokoh, serta semangat ibadah yang tinggi. Sebab bulan Ramadhan merupakan momentum yang mengandung kesempatan paling berharga bagi seorang Muslim. Dan tidak ada yang tahu, apakah tahun selanjutnya ia bisa menjumpai bulan suci itu kembali.

Oleh karena itu, bagi seorang Muslim, menyambut bulan suci Ramadhan dengan penuh kesiapan dan kesungguhan merupakan wujud rasa syukur atas nikmat usia dan kesempatan yang Allah berikan.

Semoga kita termasuk orang-orang yang diberi kesempatan untuk kembali dipertemukan dengan bulan Ramadhan dan mampu meraih keberkahannya secara sempurna. Amin.(MUI)