Intarta
EkonomiBerita

Gaya Purbaya Yudhi Sadewa Kelola Gaji: Nabung 30 Persen, Anti-Flexing, dan Urutan Investasi yang Benar

W

Oleh Redaksi Intarta

Sabtu, 17 Okt 2026 17:35 WIB

Gaya Purbaya Yudhi Sadewa Kelola Gaji: Nabung 30 Persen, Anti-Flexing, dan Urutan Investasi yang Benar
Ilustrasi pemberitaan Intarta (Foto: Intarta/Redaksi Intarta)

Reading Comfort

adjust the font size

JAKARTA — Mantan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa berbagi kiat mengelola keuangan pribadi sekaligus memberi gambaran sederhana tentang cara membaca keuangan negara. Dalam sebuah wawancara yang diunggah kanal YouTube TirtoID, ia menekankan satu prinsip utama: belanja sesuai kebutuhan, sisanya ditabung dan diinvestasikan.
Menurut Purbaya, langkah pertama begitu menerima gaji adalah menentukan porsi tabungan, bukan sebaliknya. "Kalau masih tinggal dengan orang tua, tabung saja 50 persen. Kalau sudah hidup sendiri, targetkan sekitar 30 persen dari gaji ditabung setiap bulan," katanya. Kebiasaan menabung sedikit demi sedikit disebutnya jauh lebih menentukan ketimbang mengejar kenaikan gaji yang selalu habis untuk konsumsi.
Belanja Sesuai Kebutuhan, Bukan untuk Pamer
Purbaya mengingatkan agar belanja tidak didorong oleh keinginan pamer ke orang lain. Tanda seseorang sudah berbelanja melebihi kemampuannya, menurut dia, adalah ketika mulai berutang demi membeli barang yang tidak benar-benar dibutuhkan.
"Belanja sesuai kebutuhan. Kalau mahal pun tidak apa-apa asal dibutuhkan, dan bisa memberikan hasil yang bagus."
Ia juga menyoroti layanan bayar belakangan atau paylater yang menurutnya bukan produk yang terlalu baik karena memancing orang berbelanja barang yang tidak perlu. Kuncinya, kata Purbaya, adalah kehati-hatian: gunakan hanya sesuai kebutuhan, bukan karena tergoda kemudahan.
Urutan Investasi yang Benar
Soal investasi, Purbaya menyarankan tahapan bertahap sesuai tingkat pemahaman. Pertama, simpan dana di deposito yang bunganya idealnya sedikit di atas inflasi. Setelah itu, naik ke obligasi ritel pemerintah, lalu reksa dana pendapatan tetap, reksa dana saham, dan barulah saham secara langsung setelah benar-benar belajar ilmunya.
Emas bisa dipakai sebagai pelindung nilai terhadap kenaikan harga. Aset kripto disebutnya menarik karena berpotensi memberi keuntungan besar, tetapi berisiko tinggi bagi yang tidak memahaminya. Ia mencontohkan seorang muridnya yang mengumpulkan modal dari Rp500 ribu hingga puluhan miliar rupiah dalam dua tahun — kuncinya adalah belajar fundamental dan teknikal secara serius.
Ia juga memberi peringatan keras soal tawaran investasi menjanjikan: "Kalau ada yang menawarkan keuntungan terlalu tinggi dan dijamin, pasti bohong. Acuan yang bisa dijamin itu hanya deposito dan suku bunga bank."
Utang atau Investasi Dulu?
Bagi yang penghasilannya pas-pasan dan sudah berutang, Purbaya menyarankan melunasi utang terlebih dahulu. Logikanya sederhana: bila bunga utang 6 persen sedangkan potensi imbal hasil investasi hanya 3 persen, lebih baik utang dilunasi. Investasi boleh didahulukan hanya bila keuntungannya jelas di atas bunga utang.
Tips Mencapai Rp100 Juta Pertama
Untuk anak muda bergaji setara UMR Jakarta, Purbaya memberi tips praktis: kendalikan pengeluaran makan dengan memasak sendiri dan membawa bekal ke kantor. Menurut dia, cara itu bisa menghemat hingga Rp1–2 juta per bulan tanpa menurunkan kualitas hidup. Dana itu kemudian dibagi: sebagian ke deposito, sebagian ke investasi.
Ia juga berpesan agar tidak tertekan melihat keberhasilan orang lain. "Jangan takut ketinggalan. Selama ekonomi tumbuh, kesempatan selalu ada. Jangan FOMO," ujarnya.
Membaca Utang Negara ala Menkeu
Purbaya juga menjelaskan cara membaca utang negara: bandingkan dengan ukuran ekonominya, yakni produk domestik bruto (PDB). Indonesia menetapkan acuan defisit anggaran di bawah 3 persen PDB dan rasio utang di bawah 40 persen PDB — jauh di bawah ambang yang dipakai negara Eropa. "Dengan standar paling ketat di dunia pun kita masih amat aman," katanya.
Untuk jangka panjang, ia menekankan investasi negara di tiga bidang: pendidikan, penguatan sektor manufaktur, serta infrastruktur dan energi. Selain itu, anggaran harus benar-benar dibelanjakan sesuai desainnya agar menjadi penggerak pertumbuhan, bukan mengendap tanpa dipakai.
Sumber: Tips Kelola Keuangan Pribadi & Negara Ala Purbaya: Menabung, Investasi, Anti-Flexing — YouTube - TirtoID

Tambahkan WartaNusa Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang

Topik

Komentar

Memuat…

Memuat komentar…

Berita Terkait

Berita Terkini

Lihat lainnya