Intarta
RagamBerita

Waspada Gagal Ginjal di Usia Muda, Ini Penjelasan Dokter Spesialis Ginjal

W

Oleh Redaksi Intarta

Sabtu, 17 Okt 2026 17:10 WIB

Waspada Gagal Ginjal di Usia Muda, Ini Penjelasan Dokter Spesialis Ginjal
Ilustrasi pemberitaan Intarta (Foto: Intarta/Redaksi Intarta)

Reading Comfort

adjust the font size

Kasus gagal ginjal tidak lagi didominasi usia lanjut. Dalam sebuah perbincangan podcast, dokter spesialis penyakit dalam subspesialis ginjal dan hipertensi dr. Decsa Medika Hertanto menyebut pasien yang menjalani cuci darah kini banyak berusia 30 hingga 40-an tahun.
Menurut dr. Decsa, ada sejumlah faktor yang membuat angka gagal ginjal meningkat di kalangan anak muda. Pertama, pola makan yang terlalu asin atau terlalu manis. Kedua, minimnya aktivitas fisik karena terbiasa naik motor ke mana-mana. Ketiga, kebiasaan begadang karena pusat-pusat kuliner buka hingga larut malam. Keempat, tingkat stres yang tinggi akibat beban kerja.
Enam Fungsi Penting Ginjal
Sebelum membahas lebih jauh, dr. Decsa menjelaskan enam fungsi utama ginjal. Pertama, menyaring racun dan sisa metabolisme tubuh. Kedua, mengatur keseimbangan cairan — membuang kelebihan air dan menahan air saat tubuh kekurangan. Ketiga, menjaga tekanan darah tetap stabil. Keempat, memproduksi hormon eritropoietin yang merangsang pembentukan sel darah merah. Kelima, mengaktifkan vitamin D sehingga tulang tetap kokoh. Keenam, mengatur keseimbangan elektrolit dan asam-basa.
Ketika ginjal gagal menjalankan fungsinya, dampaknya berlapis: racun menumpuk hingga pasien bisa tak sadarkan diri, kaki membengkak karena cairan tertahan, tekanan darah melonjak hingga berisiko stroke dan serangan jantung, hingga tulang mudah patah karena vitamin D tak lagi aktif.
Gagal Ginjal Kronis Tak Bisa Sembuh
Hal yang perlu dipahami, menurut dr. Decsa, adalah gagal ginjal kronis saat ini tidak bisa disembuhkan. Sel ginjal yang rusak tidak dapat beregenerasi seperti luka di kulit. Terapinya adalah terapi pengganti ginjal dengan tiga pilihan: cuci darah (hemodialisis), CAPD, atau cangkok ginjal.
Dari ketiganya, cangkok ginjal disebut paling mendekati kesembuhan. Namun prosedurnya ketat: donor harus sukarela dan di Indonesia harus berasal dari kerabat (living related). Praktik jual beli ginjal adalah ilegal — dr. Decsa mengaku beberapa pasiennya pernah ditawari cangkok oleh pihak ketiga yang membawa ke luar negeri, yang diduga merupakan bagian dari sindikat perdagangan organ.
Puasa Ramadan Justru Menyehatkan Ginjal
Menjawab pertanyaan soal puasa Ramadan, dr. Decsa menegaskan puasa justru menyehatkan ginjal yang sehat. Saat tidak ada asupan air selama belasan jam, ginjal bekerja menahan air agar tubuh tetap bisa beraktivitas — untuk pertama kalinya ginjal "beristirahat" dari menyaring makanan dan minuman yang tidak penting.
Namun ia memberi catatan penting: pasien yang sudah gagal ginjal perlu evaluasi ketat bila ingin berpuasa, dan pasien gagal ginjal kronis stadium 4 dan 5 disarankan untuk tidak berpuasa. Saat berbuka, ia menyarankan air putih sebagai pilihan terbaik dan kurma secukupnya, bukan langsung menyantap gorengan dan makanan berat yang membuat ginjal "protes".
Bahaya Alkohol Berlebihan dan Obat Pereda Nyeri
Terkait alkohol, dr. Decsa menjelaskan konsumsi dalam dosis wajar — misalnya satu sloki — sebenarnya tidak bermasalah bagi ginjal. Yang berbahaya adalah konsumsi berlebihan dan kronis, karena alkohol menyebabkan penyempitan pembuluh darah yang lama-kelamaan membuat pembuluh darah ginjal kaku dan rusak. Jauh lebih berbahaya lagi adalah metanol (alkohol oplosan) yang bisa menyebabkan kebutaan mendadak, gagal napas, dan gagal ginjal akut.
Ia juga mengingatkan soal obat pereda nyeri golongan NSAID yang kerap dibeli bebas di warung. Dikonsumsi rutin dan menahun, obat jenis ini bisa merusak tubulus ginjal. Begitu pula antibiotik yang harus selalu dikonsumsi sesuai indikasi dan di bawah pengawasan dokter, bukan dibeli sendiri untuk batuk pilek yang disebabkan virus.
Skrining Sejak Dini
Pesan terakhir dr. Decsa sederhana: kesehatan adalah tanggung jawab pribadi. Jangan mengandalkan sepenuhnya pada jaminan kesehatan ketika sakit sudah datang. Skrining paling minimal yang bisa dilakukan adalah cek urine secara berkala, karena gangguan ginjal stadium awal kerap tidak menimbulkan gejala sama sekali.
Sumber: #ngopenk PEMBAHASAN LEBIH DALAM SEPUTAR GINJAL BERSAMA AHLINYA: dr. DECSA MEDIKA HERTANTO, Sp.PD-KGH — YouTube - Tirta PengPengPeng

Tambahkan WartaNusa Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang

Topik

Komentar

Memuat…

Memuat komentar…

Berita Terkait

Berita Terkini

Lihat lainnya