Waspada 'Teman Maya 24 Jam': Anak Rentan Terjebak Ikatan Emosional dengan AI
Oleh Redaksi Intarta
Selasa, 20 Okt 2026 18:28 WIB

Reading Comfort
adjust the font size
Transformasi digital nasional tak hanya soal penguatan jaringan, tetapi juga soal melindungi 70 juta anak Indonesia dari risiko ketergantungan pada kecerdasan buatan (AI). Penerapan regulasi berbasis risiko seperti PP TUNAS menjadi langkah penting pemerintah bersama industri dan tenaga pendidik agar teknologi tidak memangkas kecerdasan sosial anak dan mengikis ikatan emosional dalam keluarga.
Meski AI berpotensi membuka kreativitas dan mempermudah cara belajar, anak-anak dinilai rentan menjadi korban paparan informasi keliru, deepfake, hingga ikatan emosional buatan dengan chatbot. Karakter AI yang selalu ramah, siap mendengarkan 24 jam, dan cenderung selalu mengiyakan pendapat pengguna berisiko perlahan mengikis ikatan emosional antara anak dan orang tua.
Fenomena Curhat ke AI
Pakar digital Enda Nasution menyoroti fenomena anak dan remaja yang makin masif menjadikan AI sebagai tempat meluapkan isi hati. Tantangannya sangat berbeda dibanding era awal internet.
"Kalau dulu kita mengingatkan anak supaya jangan mudah percaya dengan apa yang mereka baca di internet, sekarang mereka bisa bertanya langsung ke AI dan mendapat jawaban yang terdengar sangat meyakinkan. Padahal AI juga bisa salah, bahkan bisa memberikan informasi yang sama sekali tidak benar, tetapi disampaikan seolah-olah benar," kata Enda kepada Republika, Sabtu (17/10/2026).
Menurut dia, orang tua perlu melatih anak berpikir kritis: tidak langsung memercayai informasi yang dihasilkan AI, memeriksa sumbernya, dan membandingkannya dengan informasi lain. Anak juga perlu memahami bahwa AI tetaplah mesin yang bisa keliru, meski disampaikan dengan bahasa yang meyakinkan.
Bahaya Berbagi Data Pribadi
Anak juga perlu memahami pentingnya menjaga data pribadi saat berinteraksi dengan AI. Respons AI yang ramah dan terkesan memahami bisa membuat anak nyaman menceritakan berbagai hal pribadi — tanpa menyadari informasi itu masuk ke layanan teknologi yang punya ketentuan sendiri soal penyimpanan dan penggunaan data.
"Anak dan remaja bisa curhat ke chatbot, minta nasihat soal hubungan, persoalan keluarga, atau hal-hal yang mungkin sulit mereka ceritakan ke orang lain. Jadi saya rasa sekarang perlu mendapat perhatian khusus, terutama untuk remaja, yaitu ketergantungan emosional kepada AI," kata Enda.
Butuh Kerja Sama Semua Pihak
Melalui kampanye Bijak Ber-AI dan Bijak Bersosmed, anak bisa diberi pemahaman soal menjaga privasi, menangkal hoaks, hingga mencegah ketergantungan emosional pada AI. Perlindungan anak di ruang digital membutuhkan kerja sama orang tua, sekolah, pemerintah, dan perusahaan teknologi.
"Jangan semua dibebankan kepada pengguna. Mereka yang membuat dan menyediakan teknologinya juga harus memikirkan keamanan anak sejak awal," tegas Enda.
Sumber: Republika
Tambahkan Intarta Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Topik
Komentar
Memuat…
Memuat komentar…
Berita Terkait

Eks Karyawan OpenAI Pasang Alat Perekam, Jaksa: Didukung Pemerintah Saudi

Bocah Penyandang Disabilitas di Surabaya Tewas, Diduga Dirundung Teman Sebaya

Siemens Ingatkan: Jangan Hapus Pekerjaan Pemula, AI Tetap Butuh Pengawasan Manusia

Menelisik Bahaya Agentic AI: Ketika Mesin Bisa Bertindak Sendiri

Jelang Rilis Kinerja, Belanja AI Meta dan Adopsi Asisten Muse Jadi Sorotan

Marak Bullying hingga Tewaskan Anak, Puan Minta Perlindungan Anak Dievaluasi
Berita Terkini
Lihat Semua
Serangan Drone Hantam Pasar Ramai di Abyei, Sedikitnya 153 Orang Tewas

Mahasiswa Turun ke Jalan, Tagih Lima Tuntutan di Dua Tahun Prabowo-Gibran

Diduga Intimidasi Mahasiswa Usai Demo Karhutla, Ajudan Gubernur Kaltim Terancam Sanksi

Kabut Asap Kembali Mengepung Palembang, Kualitas Udara Sentuh Level Berbahaya

