Terkini
EkonomiBerita

Diikuti Penenun Se-Sumut, Jabu Bonang Awards 2026 Jadi Apresiasi Perdana bagi Pelestari Wastra

W

Oleh Redaksi Intarta

Senin, 19 Okt 2026 23:33 WIB

Diikuti Penenun Se-Sumut, Jabu Bonang Awards 2026 Jadi Apresiasi Perdana bagi Pelestari Wastra
Ilustrasi pemberitaan Intarta (Foto: Intarta/Redaksi Intarta)

Reading Comfort

TOBA — Sebanyak 65 kain tenun lolos kurasi dalam ajang Jabu Bonang Awards 2026 yang digelar untuk pertama kalinya di Gedung Serbaguna Yayasan Del, Laguboti, Kabupaten Toba. Kegiatan dua hari ini menjadi bentuk apresiasi bagi para pelaku tenun sekaligus dorongan untuk melestarikan wastra tradisional dan mengembangkan ekonomi kreatif di Sumatera Utara.
Managing Director Jabu Bonang, Trisna Pardede, mengatakan penghargaan ini dirancang sebagai wadah apresiasi bagi para penenun, pelaku usaha kerajinan, dan desainer yang mengembangkan produk turunan tenun.

"Melalui apresiasi ini, kita berharap muncul semangat yang lebih kuat dan semangat baru dari para pelaku kerajinan dalam ekosistem tenun, baik penenun, panirat, maupun desainer," ujar Trisna di sela kegiatan, Senin (19/10).

Menurut Trisna, kegiatan ini juga mempererat kebersamaan para pelaku tenun dari berbagai daerah di Sumatera Utara yang memiliki kekayaan wastra khas masing-masing, seperti ulos, uis, hiou, oles, tenun Melayu, dan kain tenun khas Nias.

Dua Kategori, 65 Kain Lolos Kurasi

Pada penyelenggaraan perdana ini, penghargaan menghadirkan dua kategori, yakni tenun tradisi dan tenun kreasi. Keduanya khusus untuk kain yang dibuat dengan teknik tenun duduk atau hundul, yakni teknik tradisional dengan posisi penenun duduk di lantai atau alas.

Salah satu syarat utama yang ditetapkan panitia adalah penggunaan pewarna alami dalam pembuatan kain. Trisna menyebut kedua kategori dihadirkan untuk menjaga pengetahuan budaya dan tradisi adat, sekaligus membuka ruang bagi pengembangan kreativitas dan nilai ekonomi produk tenun.

Dari 65 kain yang lolos kurasi, 46 kain masuk kategori tenun kreasi dan 19 kain kategori tenun tradisi. Peserta berasal dari berbagai daerah, di antaranya Kabupaten Dairi, Toba, Samosir, Simalungun, Kota Pematangsiantar, Kota Medan, hingga Tapanuli Selatan. Ajang ini tidak hanya diperuntukkan bagi penenun mitra binaan Jabu Bonang, tetapi juga terbuka bagi pelaku tenun dari seluruh Sumatera Utara.

Dewan Juri dan Para Juara

Proses penilaian melibatkan tiga juri dari perspektif berbeda, yakni Ratna Panggabean, peneliti kriya tradisi dari Institut Teknologi Bandung (ITB); Sepwan Sinaga, pelaku tenun tradisi; serta Zul Said, perancang busana asal Sumatera Utara yang telah membawa kain tenun daerah tersebut ke berbagai ajang.

Pada kategori tenun tradisi, penghargaan pilihan juri untuk juara pertama diraih Nesli Simarmata melalui kain bulang dari Simalungun. Sementara itu, juara pertama kategori tenun kreasi berasal dari Tapanuli Utara.

Penyerahan penghargaan kepada juara pertama kategori tenun kreasi ditandai pemberian hadiah sebesar Rp3 juta sebagai bentuk apresiasi atas kreativitas dan pengembangan kain tenun Sumatera Utara.

Edukasi Wastra bagi Pelajar

Selain penyerahan penghargaan, rangkaian acara diisi diskusi budaya dan edukasi pewarnaan alami. Pada hari pertama, kegiatan menghadirkan diskusi mengenai tenun Simalungun serta pembahasan perbedaan tenun tradisi dan tenun kreasi dengan narasumber Nesli Simarmata, dilanjutkan seremoni penyerahan penghargaan kepada para pemenang.

Pada hari kedua, panitia menjadwalkan edukasi pewarnaan alami dan pengenalan wastra tenun Sumatera Utara kepada sekitar 300 pelajar dan mahasiswa di Kabupaten Toba. Peserta berasal dari SMA Unggul Del, mahasiswa Institut Teknologi Del (IT Del), SMK Pariwisata Balige, serta pelajar lain yang mendaftar melalui undangan pribadi.

Dalam kegiatan tersebut, peserta mempraktikkan teknik pencelupan kain shibori menggunakan bahan pewarna alami. Trisna menyebut edukasi ini menjadi bagian penting dalam memperkenalkan kekayaan tenun Sumatera Utara kepada generasi muda agar pengetahuan dan keterampilan tradisional dapat terus diwariskan.

Penyelenggaraan Jabu Bonang Awards 2026 mendapat dukungan dari BNI, Yayasan Del, Kementerian Kehutanan melalui KPH Wilayah IV Balige dan BPDAS Asahan Barumun, Toba Tenun, Universitas Sumatera Utara (USU), serta Del FM. BPDAS Asahan Barumun turut menyediakan 1.000 bibit pohon untuk dibagikan kepada para penenun sebagai bagian dari dukungan terhadap pemanfaatan bahan pewarna alami.

"Melalui benang-benang yang menyusun kain tenun, kita ingin membangun rasa kebersamaan di antara para pelaku tenun di Sumatera Utara," kata Trisna.

Trisna menyebutkan, Jabu Bonang Awards direncanakan menjadi agenda tahunan sesuai arahan pembina dan ketua yayasan. "Melalui kegiatan ini, Jabu Bonang berharap pelestarian tenun tradisional dapat berjalan seiring dengan pengembangan kreativitas, penguatan jejaring pelaku tenun, serta peningkatan nilai ekonomi wastra khas Sumatera Utara," pungkasnya.

Sumber: Waspada.id

Tambahkan Intarta Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang

Topik

Komentar

Memuat…

Memuat komentar…

Berita Terkait

Berita Terkini

Lihat Semua