Amarah Warga Eropa Pecah: Demo Biaya Hidup Meluas dari Prancis ke Italia, Belgia, hingga Portugal
Oleh Redaksi Intarta
Senin, 19 Okt 2026 17:56 WIB

Reading Comfort
adjust the font size
Rangkaian aksi itu berlangsung secara terpisah dan tidak terkoordinasi satu sama lain. Namun, kemunculan protes di banyak negara sekaligus menjadi sinyal meningkatnya ketidakpuasan warga terhadap kondisi ekonomi sekaligus menambah tekanan politik bagi pemerintah-pemerintah di Uni Eropa.
Prancis menjadi pusat gejolak terbesar. Lebih dari 550.000 orang mengikuti demonstrasi di berbagai kota, menurut data Kementerian Dalam Negeri setempat. Aksi yang bermula dari protes mahasiswa selama berminggu-minggu itu berujung bentrokan dengan aparat, penjarahan toko, hingga pembakaran fasilitas umum.
“Sungguh suatu keajaiban bahwa jumlah korban jiwa tidak lebih tinggi,” ujar Perdana Menteri Prancis Sebastien Lecornu saat mengunjungi petugas keamanan di pusat Paris.
Kerusuhan di Brussels, Lisboa, dan Milan
Lecornu menyebut sekitar 1.200 orang ditangkap dan 150 personel polisi terluka dalam rangkaian kerusuhan di Prancis.
Di Brussels, Belgia, polisi menggunakan gas air mata dan meriam air untuk membubarkan massa yang dituduh melempar benda-benda ke arah petugas dan memicu kebakaran. Sementara di Lisboa, Portugal, puluhan ribu orang berunjuk rasa menuntut perbaikan kondisi hidup, kenaikan upah, dan akses perumahan yang lebih terjangkau. Harga rumah di Portugal telah meningkat lebih dari dua kali lipat sejak 2017, dan harga sewa kontrak baru melonjak hampir sebesar itu.
Kerusuhan juga pecah di Milan, Italia. Demonstrasi yang semula berlangsung damai berubah ricuh setelah sejumlah demonstran bertopeng melempar batu ke arah polisi dan membakar barikade. Aparat merespons dengan gas air mata dan meriam air. Sedikitnya dua polisi terluka dan sekitar 50 demonstran ditahan, menurut kantor berita Italia LaPresse.
“Berdemonstrasi adalah hak. Membakar kota-kota kita bukanlah hak,” tulis Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni melalui akun X-nya, mengecam aksi kekerasan tersebut.
Di sisi lain, Wali Kota Milan Giuseppe Sala menilai tuntutan demonstran dapat dipahami, tetapi kekerasan terhadap aparat dan perusakan kota tidak dapat dibenarkan.
Diperkirakan Meluas ke Negara Lain
Profesor hukum dan kebijakan Uni Eropa di HEC Paris Business School, Alberto Alemanno, memperingatkan bahwa gelombang protes berpotensi meluas ke negara lain. Menurut dia, persoalan biaya hidup, minimnya pendanaan pendidikan, serta ketidakpastian masa depan mahasiswa menjadi keluhan bersama yang memicu demonstrasi.
Ia memperkirakan mobilisasi serupa bisa muncul di Yunani, Jerman, dan Austria dalam beberapa pekan mendatang, terlebih Eropa akan menghadapi rangkaian pemilihan nasional di Spanyol, Prancis, Italia, dan Polandia dalam 12 bulan ke depan.
“Tak pelak lagi, semua protes ini, semua mobilisasi ini, akan menjadi pusat percakapan politik,” ungkap Alemanno.
Sumber: WartaDigital
Tambahkan Intarta Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Topik
Komentar
Memuat…
Memuat komentar…
Berita Terkait

Gelombang Protes Biaya Hidup di Prancis Menyebar ke Sejumlah Negara Eropa

Empat Negara Eropa Dilanda Kerusuhan, Demo Biaya Hidup di Prancis Paling Parah

Prancis Terbakar Amarah: Demo Biaya Hidup Bakar Balai Kota Berusia 140 Tahun, 1.200 Ditangkap

Demo Biaya Hidup di Perancis Ricuh, Toko-toko Paris Dijarah Massa

BEM UI Pastikan Turun ke Jalan 20 Oktober, Evaluasi Dua Tahun Prabowo-Gibran

Wali Kota Prancis Dihajar Pemukim Israel Pakai Batang Besi di Tepi Barat
Berita Terkini
Lihat Semua
Diikuti Penenun Se-Sumut, Jabu Bonang Awards 2026 Jadi Apresiasi Perdana bagi Pelestari Wastra

Usai Eksepsinya Ditolak, Roy Suryo Singgung Kesaksian Freddy Damanik dan Andi Azwan soal Ijazah Jokowi

Komdigi Gempur Judi Online, Mantan Pemain: Saya Bisa Berhenti

Debat Pasal 18 Ayat 3 PKPU: DPR Sebut Pasal Selundupan, Relawan Tegaskan Aturan Tetap Sah

