EkonomiBerita

Harga Logam Mulia Terjun ke Level Terendah Setahun, Masih Bisa Turun Lebih Dalam?

Redaksi Intarta

Oleh

Harga Logam Mulia Terjun ke Level Terendah Setahun, Masih Bisa Turun Lebih Dalam?
Ilustrasi pemberitaan Intarta (Foto: Intarta/Redaksi Intarta)

Reading Comfort

Harga emas dunia terjun ke level terendah dalam setahun pada perdagangan terakhir pekan ini, Jumat (30/10/2026). Merujuk Refinitiv, harga emas ditutup di posisi US$ 3.875,03 per troy ons, ambruk 3,6 persen.

Pelemahan ini memperpanjang derita emas dengan jatuh 4,7 persen dalam dua hari. Harga penutupan tersebut juga menjadi yang terendah sejak 2 Oktober 2025, atau lebih dari setahun terakhir. Dalam sepekan, harga emas jatuh 3,02 persen, artinya emas sudah jatuh selama tiga pekan beruntun, dan secara bulanan melemah 6,76 persen.

Baca Juga:Emas Antam hingga Galeri 24 Kompak Anjlok Hari Ini, Segini Harganya

Inflasi dan Suku Bunga Tinggi Jadi Tekanan Utama

Tekanan terhadap logam mulia datang dari lonjakan harga energi dan kekhawatiran inflasi yang tak kunjung mereda. Kondisi ini memperkuat ekspektasi bahwa suku bunga akan bertahan tinggi lebih lama, sehingga mengurangi daya tarik aset yang tidak memberikan imbal hasil seperti emas.

Wakil Presiden sekaligus Senior Metals Strategist Zaner Metals, Peter Grant, mengatakan kekhawatiran inflasi membuat sejumlah bank sentral tetap mengambil sikap hawkish atau cenderung ketat dalam kebijakan moneter. Meski bank-bank sentral utama menahan suku bunga pada pekan ini, sinyal yang disampaikan menunjukkan suku bunga tinggi akan bertahan lebih lama, dan kondisi ini menekan harga logam mulia.

Baca Juga:Nilai Rupiah Belum Beranjak dari Rp 18.100-an, Gejolak Politik Dalam Negeri Jadi Beban Tambahan

Sejumlah bank sentral utama memang menahan kenaikan suku bunga pada pekan ini, namun mereka menegaskan perjuangan melawan inflasi belum berakhir. Bank Sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve (The Fed) dan Bank Sentral Eropa sama-sama menyoroti risiko inflasi akibat lonjakan biaya energi. Data yang dirilis Kamis juga menunjukkan inflasi meningkat pada September karena konsumen harus membayar lebih mahal untuk bensin dan sejumlah barang lainnya, sehingga memperkuat perkiraan ekonom bahwa The Fed berpotensi kembali menaikkan suku bunga pada Desember.

Saham Teknologi Rontok, Emas Ikut Tertekan

Tekanan terhadap emas juga datang dari kejatuhan saham teknologi. Analis Commerzbank menilai penurunan tajam saham teknologi berpotensi memicu aksi jual paksa dan margin call, yakni permintaan tambahan jaminan dari broker ketika nilai aset investor merosot. Meski demikian, Commerzbank menilai penurunan harga logam mulia sudah berlebihan dan masih memperkirakan adanya pemulihan.

Permintaan fisik emas di pasar utama Asia juga belum menunjukkan pemulihan berarti. Pembeli di India menunda transaksi karena memperkirakan harga masih bisa turun, sementara permintaan di China sebagai konsumen emas terbesar dunia tetap lesu.

Bisa Jatuh ke US$ 3.600?

Tekanan terhadap emas berpotensi belum berakhir. Harga emas spot kini telah menghapus kenaikan yang dibukukan selama setahun terakhir. Logam mulia tersebut diperdagangkan sedikit di bawah US$ 4.000 per troy ounce, setara dengan level sekitar Halloween tahun lalu dan sekitar 25 persen di bawah puncaknya pada akhir Februari.

Ekonom Senior Iklim dan Komoditas Capital Economics, Kieran Tompkins, memperkirakan harga emas masih menghadapi tekanan lebih lanjut. Secara historis, harga emas cenderung bergerak berlawanan arah dengan imbal hasil obligasi pemerintah yang dilindungi dari inflasi tenor 10 tahun, tetapi hubungan tersebut kembali terputus dalam dua bulan terakhir.

Pertemuan The Fed pekan ini mengindikasikan pergeseran ke arah kebijakan yang lebih hawkish, tercermin dari perubahan bahasa dalam pernyataan kebijakan dan dua pejabat yang berbeda pendapat karena menginginkan kebijakan lebih ketat. Tim ekonomi Capital Economics memperkirakan The Fed masih akan menaikkan suku bunga dua kali lagi, sejalan dengan ekspektasi pasar berjangka, dengan risiko cenderung mengarah pada kenaikan suku bunga yang lebih besar.

Ancaman lain datang dari potensi pecahnya gelembung saham kecerdasan buatan, yang diperkirakan dapat terwujud pada tahun depan. Capital Economics memperkirakan harga emas akan berakhir di level US$ 3.600 per troy ounce pada akhir 2027, jauh di bawah konsensus pasar yang memperkirakan harga sekitar US$ 4.600 pada kuartal keempat 2027. Jika proyeksi tersebut terwujud, emas masih berpotensi menghadapi tekanan besar setelah kehilangan kenaikan setahun terakhir.

Tambahkan Intarta Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang →

Topik

i

intarta

Berita & Media

Diskusi

Memuat…

Memuat komentar…

Berita Terkait

Berita Terkini

Lihat Semua