Kabut Asap Karhutla RI Kembali, Sekolah di Johor Malaysia Ditutup Lima Hari
Oleh Redaksi Intarta
Senin, 19 Okt 2026 17:36 WIB

Reading Comfort
adjust the font size
Ancaman kesehatan akibat kabut asap dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia mendorong pemerintah Negara Bagian Johor, Malaysia, kembali menutup sekolah selama lima hari mulai Senin (19/10).
Keputusan tersebut diambil karena kualitas udara masih mengkhawatirkan dan belum menunjukkan perbaikan yang signifikan, dilansir dari Detik Health.
Ketua Komite Pendidikan dan Informasi Negara Bagian Johor, Muhammad Naqib Md Ghazali, menyampaikan keputusan itu setelah rapat Komite Koordinasi Penanganan Kabut Asap Johor pada Sabtu siang. Perpanjangan penutupan akan ditentukan berdasarkan perkembangan kualitas udara, prakiraan cuaca, dan hasil penilaian kesehatan.
"Laporan pemantauan menunjukkan bahwa pembacaan Indeks Pencemaran Udara (API) masih berada pada tingkat yang mengkhawatirkan, tanpa perbaikan yang signifikan."
Arahan Pemangku Raja Johor
Kebijakan tersebut mengikuti arahan Pemangku Raja Johor, Tunku Mahkota Ismail, sekaligus memprioritaskan kesehatan dan keselamatan masyarakat. Selama sekolah ditutup, kegiatan belajar mengajar dari rumah (PdPR) tetap berlangsung sesuai Manual PdPR Versi 2.0 yang diterbitkan Kementerian Pendidikan Malaysia.
Pengecualian terbatas diberikan bagi siswa yang harus mengikuti ujian dan penilaian. Pelaksanaannya wajib dikoordinasikan oleh Departemen Pendidikan Johor (JPNJ) dengan mengikuti prosedur kesehatan yang ketat.
"Pengecualian ini harus dikoordinasikan oleh Departemen Pendidikan Johor (JPNJ) dan dilaksanakan dengan mematuhi prosedur operasional standar (SOP) kesehatan secara ketat. Tidak ada kegiatan tambahan yang diizinkan," ujar Naqib.
Kasus ISPA Meningkat 20,7 Persen
Naqib juga mengingatkan masyarakat agar menggunakan masker dan mematuhi pedoman kesehatan. Otoritas kesehatan telah menyampaikan kekhawatiran mengenai risiko akibat paparan polusi udara dalam jangka panjang, terutama bagi anak-anak dan kelompok rentan.
Data kesehatan menunjukkan peningkatan kasus gangguan pernapasan di Johor sepanjang Oktober. "Sepanjang Oktober, tercatat 30.648 kasus asma dan infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) di negara bagian tersebut. Jumlah ini meningkat 20,7 persen secara mingguan," ujar Naqib.
Menurut Departemen Lingkungan Hidup Malaysia, Pasir Gudang mencatat indeks pencemaran udara tertinggi di negara tersebut, yakni 190, pada Minggu pukul 08.00 waktu setempat. Delapan stasiun pemantauan di Johor melaporkan kualitas udara dalam kategori tidak sehat, termasuk Larkin dan Kota Tinggi dengan indeks masing-masing 181, serta Pengerang 178.
Penutupan terbaru ini menyusul kebijakan sebelumnya ketika seluruh sekolah di Johor diperintahkan tutup selama dua hari mulai 8 Oktober, kemudian diperpanjang lima hari bagi institusi pendidikan mulai 12 Oktober.
Sumber: LensaHukum
Tambahkan Intarta Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Topik
Komentar
Memuat…
Memuat komentar…
Berita Terkait

Kabut Asap Menebal, Pemuda Pancasila Babalan Bagikan Masker Gratis ke Pengguna Jalan

Polda Kalteng Tetapkan 43 Tersangka Karhutla, Satu Korporasi Ikut Kena

Malaysia Tawarkan 3 Pesawat dan 52 Personel, Singapura Menyusul untuk Bantu Padamkan Karhutla

Asap Karhutla Kalimantan Masuk Atmosfer Jakarta, Ini yang Perlu Dilakukan

Singapura Layangkan Peringatan ke 7 Perusahaan Indonesia Terkait Kabut Asap

Peringatan Keras untuk Perusahaan Pembakar Hutan: Pemerintah Tak Akan Segan Bertindak
Berita Terkini
Lihat Semua
Diikuti Penenun Se-Sumut, Jabu Bonang Awards 2026 Jadi Apresiasi Perdana bagi Pelestari Wastra

Usai Eksepsinya Ditolak, Roy Suryo Singgung Kesaksian Freddy Damanik dan Andi Azwan soal Ijazah Jokowi

Komdigi Gempur Judi Online, Mantan Pemain: Saya Bisa Berhenti

Debat Pasal 18 Ayat 3 PKPU: DPR Sebut Pasal Selundupan, Relawan Tegaskan Aturan Tetap Sah

