Kyiv Kini di Garis Depan: Serangan Rusia Makin Gencar, Warga Tidur Berdesakan di Stasiun Bawah Tanah
Oleh Redaksi Intarta
Sabtu, 24 Okt 2026 11:22 WIB

Reading Comfort
adjust the font size
Ibu kota Ukraina, Kyiv, kini makin menyerupai kota garis depan. Setelah beberapa tahun relatif tenang dibandingkan wilayah di garis depan perang, serangan Rusia ke ibu kota dalam beberapa bulan terakhir makin intensif dan mematikan.
Dengan jumlah tempat perlindungan yang jauh dari cukup untuk 4 juta penduduk, stasiun bawah tanah Kyiv berubah fungsi menjadi asrama darurat. Mulai sekitar pukul 22.00 setiap malam, warga menggelar kasur dan tenda kecil di peron. Anak-anak meringkuk di sisi orang dewasa, hewan peliharaan mencari ketenangan di antara dinding-dinding dingin.
"Kami masih hidup. Kami beruntung sekali lagi," kata Halyna, sambil memeluk putranya, Roman, yang berusia 5 tahun.
Sebagian besar malam, bahkan ketika sirene serangan udara tidak berbunyi, Halyna membawa putranya ke stasiun bawah tanah terdekat. Apartemennya berada di distrik Lukyanivka, yang menurutnya secara sistematis menjadi sasaran Rusia selama 4 tahun 8 bulan perang.
Serangan yang Menargetkan Anak-anak
Pada September lalu, Daniel Umanskyj, remaja berusia 14 tahun, sedang mengerjakan PR di kamarnya ketika drone Rusia menghantam gedung apartemen di distrik pusat Pechersk. Tetangganya, Vlad, kebetulan berada di lorong bersama putrinya saat serangan terjadi.
"Hari itu kami terlambat — dan itu menyelamatkan nyawa kami," kata Vlad. "Kematian Daniel adalah tragedi." Ia menambahkan, "Monster-monster sakit ini tidak peduli siapa yang mereka bunuh."
Bunga-bunga kini ditanam di depan gedung apartemen yang rusak itu untuk mengenang Daniel.
Rusia juga menargetkan tempat-tempat berkumpulnya anak-anak. Pada awal Oktober, sebuah drone menghantam gedung sekolah di barat daya Kyiv. Untungnya, murid dan guru sudah berada di tempat perlindungan saat itu.
"Kami mengajar semua murid secara tatap muka karena kami memiliki tempat perlindungan besar yang bisa menampung lebih dari 500 siswa," kata Valentyna Chorna, kepala sekolah tersebut. Berkat ruang yang cukup, siswa kelas 1 hingga 9 tetap bisa bersekolah.
Apakah kegiatan belajar bisa berjalan tidak hanya bergantung pada keputusan orang tua dan pihak sekolah, tetapi juga pada ketersediaan tempat perlindungan dan lamanya sirene serangan udara berbunyi. Jika alarm berbunyi pagi hari saat anak masih di rumah, mereka mungkin tak bisa berangkat sekolah hari itu.
"Ini beban yang sangat berat bagi orang tua," kata seorang rekan dari biro DW di Kyiv yang putrinya bersekolah. "Anda harus pergi bekerja — dan anak tinggal sendirian di rumah."
Bahkan perjalanan ke sekolah pun berbahaya karena alarm serangan udara bisa berbunyi kapan saja. Putrinya bersekolah tak jauh dari pabrik pesawat Antonov. Suatu hari sang putri mengiriminya pesan tentang betapa dahsyatnya ledakan yang baru saja didengarnya. Pada September lalu, drone Rusia juga menghantam gedung apartemen mereka; apartemennya sendiri tak rusak dan putrinya sedang di sekolah pagi itu — namun itu menjadi pengingat betapa bertahan hidup kini hanya soal keberuntungan.
2026 Berpotensi Jadi Tahun Paling Mematikan
Serangan Rusia pada 2026 menjadi lebih mematikan. Menurut administrasi militer Kyiv, 140 orang tewas di ibu kota selama delapan bulan pertama tahun ini, dibandingkan 172 orang sepanjang 2025. Jika tren ini berlanjut, 2026 bisa menjadi tahun paling mematikan bagi Kyiv sejak invasi Rusia dimulai pada 2022.
Serangan ke gudang-gudang menyebabkan kelangkaan di supermarket dalam skala yang tak terlihat sejak bulan-bulan awal perang. Pada akhir September, pemadaman listrik darurat kembali terjadi di Kyiv. Kereta bawah tanah lumpuh akibat serangan Rusia. Dengan serangan ke infrastruktur energi, belum jelas bagaimana ibu kota bisa memasok panas, listrik, dan air secara andal bagi warga pada musim dingin mendatang.
Meski demikian, 72 persen warga Kyiv menyatakan pada September siap bertahan selama perang berlangsung, menurut Kyiv International Institute of Sociology pada awal Oktober. Pihak berwenang berupaya menjaga kehidupan normal: jam malam dipersingkat dan kini berlaku pukul 01.00 hingga 05.00.
Beberapa fasilitas bahkan diizinkan tetap beroperasi saat peringatan "kuning". Namun saat peringatan "merah", warga harus segera mencari perlindungan — itu bisa berarti rudal balistik, rudal jelajah, atau serangan gabungan besar-besaran.
Sumber: DW News
Tambahkan Intarta Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Topik
Ikuti Intarta di
Berita terkini setiap hari, langsung di beranda Facebook Anda.
intarta
Berita & Media
Komentar
Memuat…
Memuat komentar…
Berita Terkait

Rusia Serang Kramatorsk Tiga Kali dalam Sehari, Empat Orang Tewas

Dimediasi Melania Trump, Rusia dan Ukraina Sepakat Gencatan Senjata di Kota Oleshky

Rudal Rusia Menghantam Kyiv, Tepat saat AS Mendorong Perundingan Damai

Penasihat Zelensky: Warga Ukraina Tewas karena AS Batasi Berbagi Intelijen

NATO Tambah Armada Pengintai di Laut Hitam usai Serangan Rusia Makin Brutal

Trump, Putin, dan Xi Satu Meja Tanpa Ukraina: Apa yang Diincar Moskow dan Beijing
Berita Terkini
Lihat Semua
Keuskupan Agung New York Sepakat Bayar 800 Juta Dolar AS kepada Para Korban

Tembakan dari Mobil di Luar Arena Tinju Dekat Brisbane, Empat Orang Terluka

Udara Singapura Mulai Membaik, Tiga Wilayah Keluar dari Zona Tidak Sehat

Arab Saudi Tembak Jatuh Rudal Houthi ke Riyadh, Trump Isyaratkan Serangan ke Iran

