Terkini
TeknologiBerita

Misteri Amelia Earhart Belum Terpecahkan, Ekspedisi ke Nikumaroro Pulang dengan Tangan Hampa

W

Oleh Redaksi Intarta

Selasa, 20 Okt 2026 05:31 WIB

Misteri Amelia Earhart Belum Terpecahkan, Ekspedisi ke Nikumaroro Pulang dengan Tangan Hampa
Ilustrasi pemberitaan Intarta (Foto: Intarta/Redaksi Intarta)

Reading Comfort

Ekspedisi pencarian bangkai pesawat Amelia Earhart di sebuah pulau terpencil di Samudra Pasifik berakhir tanpa hasil. Para peneliti pada Senin (19/10/2026) menyatakan tidak menemukan “bukti meyakinkan” bahwa penerbang legendaris itu pernah mendarat di Pulau Nikumaroro dengan pesawat Lockheed Electra 10E-nya hampir 90 tahun lalu.

Tim gabungan Archaeological Legacy Institute (ALI) yang berbasis di Eugene, Oregon, dan Universitas Purdue itu beranggotakan 17 orang peneliti dan teknisi. Mereka tiba di pulau tersebut pada 12 Oktober 2026.

Target utama ekspedisi adalah memeriksa objek buram di laguna yang dikenal sebagai “Objek Taraia”, yang pertama kali terdeteksi lewat citra satelit pada 2020. Ketua tim sekaligus arkeolog Rick Pettigrew semula menduga sosok menyerupai pesawat itu adalah sisa-sisa pesawat Earhart.

Ternyata Tumpukan Pohon Besar

Hasil penyelidikan di Nikumaroro justru menunjukkan anomali visual itu kemungkinan hanyalah kumpulan pohon besar yang terdampar di sepanjang gumuk pasir semenanjung. “Saat tim tiba di lokasi, sebagian besar puing sudah pecah dan hanyut terbawa ombak,” demikian pernyataan resmi Universitas Purdue.

Meski hipotesis itu terpatahkan, Rick Pettigrew selaku direktur eksekutif ALI menegaskan misi mereka tidak gagal. “Bukti untuk hipotesis pendaratan darurat yang membawa kami ke sini tetap sangat, sangat kuat,” ujarnya dalam pernyataan video. “Kami yakin Amelia dan navigatornya, Fred Noonan, memang berakhir di Pulau Nikumaroro ini.”

Steve Schultz, penasihat hukum Purdue yang ikut sebagai asisten lapangan, menambahkan bahwa gugurnya hipotesis Objek Taraia tidak mengurangi “kasus yang sangat kuat dan meyakinkan untuk hipotesis pendaratan darurat” tersebut.

Misteri Penerbang Perempuan Legendaris

Earhart dan Noonan menghilang pada 2 Juli 1937 dalam upaya berani menjadi perempuan pertama yang terbang mengelilingi dunia. Keduanya terakhir terlihat lepas landas dari Lae, Nugini, menuju Pulau Howland — perjalanan melelahkan selama 18 jam melintasi Samudra Pasifik.

Hilangnya Earhart menjadi salah satu misteri penerbangan paling memikat dalam sejarah, dan selama puluhan tahun para sejarawan serta peneliti memperdebatkan bagaimana dan di mana ia menghilang.

Pandangan utama — sekaligus kesimpulan resmi pencarian besar-besaran pemerintah Amerika Serikat sesaat setelah kejadian — menyebutkan Earhart dan Noonan kehabisan bahan bakar sehingga Electra mereka jatuh ke Pasifik di dekat tujuan yang dituju. Namun, sebagian pihak, termasuk para pemimpin ekspedisi terbaru ini, menduga keduanya mendarat 400 mil (644 kilometer) ke selatan Howland — di Nikumaroro atau sekitarnya — lalu terdampar hingga diduga meninggal karena kehausan atau kelaparan.

Bukan Pencarian Pertama yang Gagal

Upaya berulang menemukan pesawat Earhart, termasuk pencarian lain di sekitar Nikumaroro, belum ada yang membuahkan hasil. “Pulau Nikumaroro sudah digeledah lebih dari 15 kali, tanpa hasil,” kata Dorothy Cochrane, pakar Earhart sekaligus pensiunan kurator Museum Dirgantara Nasional Smithsonian di Washington DC.

Pada 2024, perusahaan eksplorasi laut Deep Sea Vision sempat mendeteksi bentuk menyerupai pesawat di citra sonar sekitar 100 mil (160 kilometer) dari Howland, tetapi ternyata hanya tumpukan batu. Ekspedisi 2019 ke Nikumaroro yang dipimpin oseanografer Bob Ballard, penemu bangkai Titanic pada 1985, juga berakhir kecewa.

Tim peneliti Amerika dalam pencarian terbaru ini menyisir laguna Nikumaroro dengan magnetometer yang mendeteksi besi dan teknologi sonar untuk mencari benda di bawah sedimen dasar laguna.

Nikumaroro, yang kini bagian dari Republik Kiribati, adalah pulau tak berpenghuni berbalut karang di Pasifik Selatan yang menjadi rumah bagi kepiting kelapa raksasa. Pulau ini begitu terpencil hingga tim membutuhkan lima hari perjalanan laut dari Tarawa, ibu kota Kiribati.

Menariknya, Yayasan Riset Purdue dulunya adalah pendana pesawat Lockheed Electra milik Earhart, dan Earhart berniat mengembalikan pesawat itu ke Purdue setelah penerbangan bersejarahnya selesai. Saat menghilang, Earhart sudah terbang sejauh 22.000 mil (35.405 kilometer) dan tinggal 7.000 mil (11.265 kilometer) lagi menuju garis finis.

Pencarian Purdue terhadap pesawat Earhart kemungkinan bukan yang terakhir. Perusahaan eksplorasi laut dalam Nauticos tengah menggalang dana US$8 juta hingga US$10 juta untuk ekspedisi terakhir ke perairan sekitar Pulau Howland, dengan area pencarian yang dipersempit berkat informasi baru dari eksperimen memakai replika sistem radio pesawat Earhart. Perusahaan itu sudah menyelesaikan tiga pencarian di dekat pulau tersebut sejak 2002.

Sumber: CNN

Tambahkan Intarta Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang

Topik

Komentar

Memuat…

Memuat komentar…

Berita Terkait

Berita Terkini

Lihat Semua