Misteri Amelia Earhart Belum Terpecahkan, Ekspedisi ke Nikumaroro Pulang dengan Tangan Hampa
Oleh Redaksi Intarta
Selasa, 20 Okt 2026 05:31 WIB

Reading Comfort
adjust the font size
Tim gabungan Archaeological Legacy Institute (ALI) yang berbasis di Eugene, Oregon, dan Universitas Purdue itu beranggotakan 17 orang peneliti dan teknisi. Mereka tiba di pulau tersebut pada 12 Oktober 2026.
Target utama ekspedisi adalah memeriksa objek buram di laguna yang dikenal sebagai “Objek Taraia”, yang pertama kali terdeteksi lewat citra satelit pada 2020. Ketua tim sekaligus arkeolog Rick Pettigrew semula menduga sosok menyerupai pesawat itu adalah sisa-sisa pesawat Earhart.
Ternyata Tumpukan Pohon Besar
Hasil penyelidikan di Nikumaroro justru menunjukkan anomali visual itu kemungkinan hanyalah kumpulan pohon besar yang terdampar di sepanjang gumuk pasir semenanjung. “Saat tim tiba di lokasi, sebagian besar puing sudah pecah dan hanyut terbawa ombak,” demikian pernyataan resmi Universitas Purdue.
Baca Juga:
Malaysia Tawarkan 3 Pesawat dan 52 Personel, Singapura Menyusul untuk Bantu Padamkan KarhutlaMeski hipotesis itu terpatahkan, Rick Pettigrew selaku direktur eksekutif ALI menegaskan misi mereka tidak gagal. “Bukti untuk hipotesis pendaratan darurat yang membawa kami ke sini tetap sangat, sangat kuat,” ujarnya dalam pernyataan video. “Kami yakin Amelia dan navigatornya, Fred Noonan, memang berakhir di Pulau Nikumaroro ini.”
Misteri Penerbang Perempuan Legendaris
Hilangnya Earhart menjadi salah satu misteri penerbangan paling memikat dalam sejarah, dan selama puluhan tahun para sejarawan serta peneliti memperdebatkan bagaimana dan di mana ia menghilang.
Pandangan utama — sekaligus kesimpulan resmi pencarian besar-besaran pemerintah Amerika Serikat sesaat setelah kejadian — menyebutkan Earhart dan Noonan kehabisan bahan bakar sehingga Electra mereka jatuh ke Pasifik di dekat tujuan yang dituju. Namun, sebagian pihak, termasuk para pemimpin ekspedisi terbaru ini, menduga keduanya mendarat 400 mil (644 kilometer) ke selatan Howland — di Nikumaroro atau sekitarnya — lalu terdampar hingga diduga meninggal karena kehausan atau kelaparan.
Bukan Pencarian Pertama yang Gagal
Upaya berulang menemukan pesawat Earhart, termasuk pencarian lain di sekitar Nikumaroro, belum ada yang membuahkan hasil. “Pulau Nikumaroro sudah digeledah lebih dari 15 kali, tanpa hasil,” kata Dorothy Cochrane, pakar Earhart sekaligus pensiunan kurator Museum Dirgantara Nasional Smithsonian di Washington DC.
Pada 2024, perusahaan eksplorasi laut Deep Sea Vision sempat mendeteksi bentuk menyerupai pesawat di citra sonar sekitar 100 mil (160 kilometer) dari Howland, tetapi ternyata hanya tumpukan batu. Ekspedisi 2019 ke Nikumaroro yang dipimpin oseanografer Bob Ballard, penemu bangkai Titanic pada 1985, juga berakhir kecewa.
Tim peneliti Amerika dalam pencarian terbaru ini menyisir laguna Nikumaroro dengan magnetometer yang mendeteksi besi dan teknologi sonar untuk mencari benda di bawah sedimen dasar laguna.
Nikumaroro, yang kini bagian dari Republik Kiribati, adalah pulau tak berpenghuni berbalut karang di Pasifik Selatan yang menjadi rumah bagi kepiting kelapa raksasa. Pulau ini begitu terpencil hingga tim membutuhkan lima hari perjalanan laut dari Tarawa, ibu kota Kiribati.
Menariknya, Yayasan Riset Purdue dulunya adalah pendana pesawat Lockheed Electra milik Earhart, dan Earhart berniat mengembalikan pesawat itu ke Purdue setelah penerbangan bersejarahnya selesai. Saat menghilang, Earhart sudah terbang sejauh 22.000 mil (35.405 kilometer) dan tinggal 7.000 mil (11.265 kilometer) lagi menuju garis finis.
Pencarian Purdue terhadap pesawat Earhart kemungkinan bukan yang terakhir. Perusahaan eksplorasi laut dalam Nauticos tengah menggalang dana US$8 juta hingga US$10 juta untuk ekspedisi terakhir ke perairan sekitar Pulau Howland, dengan area pencarian yang dipersempit berkat informasi baru dari eksperimen memakai replika sistem radio pesawat Earhart. Perusahaan itu sudah menyelesaikan tiga pencarian di dekat pulau tersebut sejak 2002.
Sumber: CNN
Tambahkan Intarta Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Topik
Komentar
Memuat…
Memuat komentar…
Berita Terkait

Misi Bersejarah Jepang: Menguak Misteri Dua Bulan Mars yang Tak Seharusnya Ada

Malaysia Tawarkan 3 Pesawat dan 52 Personel, Singapura Menyusul untuk Bantu Padamkan Karhutla

Membanggakan, Lulusan Profesi Ners Unaya Aceh Raih Peringkat Pertama UKNI 2026

Dilema DPR Setelah Putusan MK soal Ijazah Gibran: Bergerak Disalahkan, Diam Pun Disorot

PWI Aceh Tenggara Soroti Oknum Mengaku Wartawan yang Diduga Memeras Kepala Sekolah

Yan Diomande Pecahkan Rekor Real Madrid Usai Tampil Gemilang Lawan Sevilla
Berita Terkini
Lihat Semua
Tottenham Akhiri Paceklik Kemenangan, Bungkam Coventry City 3-1 di Liga Inggris

Misi Bersejarah Jepang: Menguak Misteri Dua Bulan Mars yang Tak Seharusnya Ada

Antisipasi Banjir, Dinas SDABMBK Deliserdang Minta Kades Petakan Wilayah Rawan

Diikuti Penenun Se-Sumut, Jabu Bonang Awards 2026 Jadi Apresiasi Perdana bagi Pelestari Wastra

