Misi Bersejarah Jepang: Menguak Misteri Dua Bulan Mars yang Tak Seharusnya Ada
Oleh Redaksi Intarta
Selasa, 20 Okt 2026 03:32 WIB

Reading Comfort
adjust the font size
MMX diluncurkan menggunakan roket H3 dari Pusat Antariksa Tanegashima di Prefektur Kagoshima, Selasa (20/10) dini hari waktu Indonesia Barat. Misi robotik yang dipimpin Badan Antariksa Jepang (JAXA) ini merupakan kolaborasi internasional dengan melibatkan instrumen ilmiah dari NASA, Badan Antariksa Eropa (ESA), Badan Antariksa Prancis (CNES), dan Badan Antariksa Jerman (DLR).
Misteri Terbesar Tata Surya
Phobos dan Deimos selama ini menjadi teka-teki besar bagi dunia sains. Kedua bulan itu berbentuk gumpalan tak beraturan, sangat kecil, dan tidak bisa dijelaskan keberadaannya.
“Ini semacam salah satu misteri terbesar yang belum terpecahkan dalam pembentukan tata surya, yaitu asal-usul Phobos dan Deimos. Kita benar-benar membutuhkan misi seperti MMX untuk memecahkannya,” kata Dr. Daniel Glavin, ilmuwan senior di Pusat Penerbangan Antariksa Goddard NASA, yang menjadi ilmuwan partisipan dalam misi MMX.
“Apa sebenarnya kentang luar angkasa kecil ini? Kita tidak bisa menjelaskan Phobos atau Deimos saat ini. Mereka seharusnya tidak ada, tapi mereka ada,” ujar Dr. Abigail Fraeman, ilmuwan riset di Laboratorium Propulsi Jet NASA. “Mereka sangat aneh, sangat kecil, dan sangat membingungkan.”
Para ilmuwan kini mengerucut pada dua hipotesis utama: sebuah benda raksasa menabrak Mars dan melontarkan material yang kemudian menyatu menjadi kedua bulan, atau keduanya adalah asteroid yang tertarik gravitasi Mars. Sejauh ini, tak satu pun data yang ada cocok dengan kedua teori tersebut.
Menjelajah Phobos, Mengintip Deimos
Misi MMX akan berfokus pada Phobos, bulan yang lebih besar dan lebih dekat ke Mars, sembari mengambil citra Deimos untuk memahami persamaan dan perbedaan keduanya.
Phobos sejatinya adalah bulan yang “celaka”: setiap 100 tahun ia mendekati Mars sejauh 1,8 meter. Para ilmuwan memperkirakan bongkahan tak beraturan itu akan menabrak planet tersebut dalam sekitar 50 juta tahun mendatang, atau terurai menjadi cincin berbatu. Ciri khasnya adalah kawah Stickney, lubang selebar 9,7 kilometer yang menutupi hampir separuh permukaan bulan mungil itu. Sementara itu, Deimos yang lebih kecil dan lebih jauh perlahan justru menjauhi Mars.
Pesawat MMX terdiri atas tumpukan tiga modul — propulsi, eksplorasi, dan kembali ke Bumi. Setelah sekitar satu tahun perjalanan, wahana ini akan mengorbit Phobos selama kurang lebih tiga tahun. Dua kamera Super Hi-Vision di dalamnya akan merekam gambar 4K dan 8K dengan resolusi tertinggi untuk Mars dan bulan-bulannya.
Rover Idefix dan Sampel Batuan
Pada awal 2029, wahana akan menurunkan rover mungil bernama Idefix yang dikembangkan Jerman dan Prancis. Rover seukuran peti minuman berbobot 25 kilogram itu akan dijatuhkan dari ketinggian 40 hingga 100 meter; gravitasi Phobos yang sangat lemah akan membuat beratnya hanya 15 gram saat beroperasi di permukaan, selama misi 100 hari.
Idefix akan memetakan area ilmiah menarik sekaligus lokasi pendaratan yang aman. Tim misi kemudian memilih dua titik pendaratan — sisi Phobos yang menghadap Mars dan sisi yang membelakanginya — karena citra orbiter menunjukkan kedua sisi tampak memiliki jenis permukaan berbeda.
Pendarat MMX punya dua cara mengambil sampel: alat bor yang menembus 2 sentimeter ke bawah permukaan, dan alat pneumatik yang menyemprotkan gas bertekanan untuk mengangkat material permukaan. Targetnya: membawa pulang lebih dari 10 gram material Phobos ke Bumi pada 2031.
“Kita akan memilih lokasi pendaratan pertama, lalu melakukan operasi pendaratan, dan setelah itu kita lepas landas dan kembali ke orbit,” kata Dr. Tomohiro Usui, ilmuwan JAXA yang telah mengerjakan misi ini selama 10 tahun. “Operasi pendaratan sangat berisiko.”
Berpacu dengan China
Jika sampel mengandung serpihan Mars, MMX berpotensi menjadi misi pertama yang berhasil membawa material Planet Merah kembali ke Bumi — berpacu dengan misi Tianwen-3 milik China yang menargetkan peluncuran pada 2028 dan kembali pada tahun yang sama, 2031.
Para ilmuwan juga membidik jawaban atas pertanyaan besar: apakah kedua bulan kaya air dan materi organik yang bisa menjadi “benih kehidupan” di Mars? Glavin, yang sebelumnya terlibat dalam misi OSIRIS-REx yang membawa pulang sampel asteroid Bennu, menyebut timnya akan mencari asam amino, molekul pembentuk protein, dalam sampel Phobos.
“Asam amino tampaknya benar-benar ada di mana-mana yang kita amati di tata surya,” kata Glavin. “Yang akan kami lihat adalah perbedaan jumlah dan kompleksitas asam amino, serta kelimpahan relatifnya, yang bisa memberi tahu kita tentang asal-usulnya.”
Sumber: CNN
Tambahkan Intarta Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Topik
Komentar
Memuat…
Memuat komentar…
Berita Terkait

BEM UI Pastikan Turun ke Jalan 20 Oktober, Evaluasi Dua Tahun Prabowo-Gibran

2,5 Menit Saja, Lagu Ini Mampu Hentikan Tangisan Bayi Seketika

Prancis Terbakar Amarah: Demo Biaya Hidup Bakar Balai Kota Berusia 140 Tahun, 1.200 Ditangkap

Gantikan Tito Karnavian, Maruli Simanjuntak Pimpin Badan Pengelola Perbatasan

Dua Kali Mangkir Panggilan KPK, Menteri ATR/BPN Nusron Wahid Terancam Dijemput Paksa

Empat Negara Eropa Dilanda Kerusuhan, Demo Biaya Hidup di Prancis Paling Parah
Berita Terkini
Lihat Semua
Antisipasi Banjir, Dinas SDABMBK Deliserdang Minta Kades Petakan Wilayah Rawan

Diikuti Penenun Se-Sumut, Jabu Bonang Awards 2026 Jadi Apresiasi Perdana bagi Pelestari Wastra

Usai Eksepsinya Ditolak, Roy Suryo Singgung Kesaksian Freddy Damanik dan Andi Azwan soal Ijazah Jokowi

Komdigi Gempur Judi Online, Mantan Pemain: Saya Bisa Berhenti

