Ribuan Pekerja Korea Utara Diperlakukan Seperti Budak di Pabrik Drone Rusia, Ungkap Laporan Baru
Oleh Redaksi Intarta
Rabu, 21 Okt 2026 12:33 WIB

Reading Comfort
adjust the font size
Sebuah laporan terbaru mengungkap praktik ketenagakerjaan yang mengejutkan di sebuah pabrik drone milik Rusia. Sebanyak hingga 12.000 pekerja Korea Utara di kompleks industri Yelabuga, Tatarstan, dilaporkan menjadi korban pelanggaran hak asasi manusia berat dan perdagangan manusia.
Temuan itu dimuat dalam laporan gabungan yang dirilis pada 14 Oktober oleh Center for Strategic and International Studies (CSIS) yang berbasis di Washington bersama George W. Bush Institute di Dallas. Laporan tersebut menganalisis peran Rusia, Korea Utara, Tiongkok, dan Iran dalam ekspansi produksi pesawat nirawak di pabrik Yelabuga, serta keuntungan yang dinikmati masing-masing negara.
Rusia Langgar Resolusi PBB, Korea Utara Potong Upah 90 Persen
Menurut laporan itu, Moskow memperoleh akses ke lebih dari 5.500 drone per bulan untuk perang melawan Ukraina. Sementara Tiongkok menjadi pemasok utama komponen ganda seperti baterai, perangkat elektronik, mesin, dan sistem navigasi. Iran memasok drone Shahed yang membantu Rusia mengembangkan varian lokal bernama Geran.
Adapun Korea Utara meraup keuntungan dengan memotong hingga 90 persen upah para pekerjanya, tulis laporan tersebut.
"Rezim Korea Utara menjual tenaga kerja warganya dalam kesepakatan antarnegara, mengendalikan apakah mereka boleh pergi, dan mengambil sebagian besar upah mereka. Inilah definisi kerja paksa," demikian isi laporan.
Laporan itu menyebut Rusia dan Korea Utara secara terbuka menentang Resolusi Dewan Keamanan PBB 2397 yang dikeluarkan Desember 2017, yang mewajibkan seluruh negara anggota memulangkan pekerja Korea Utara dalam waktu dua tahun.
"Perbudakan Demi Keuntungan Negara"
"Situasinya mengerikan, dan kami tahu ini tidak hanya terjadi di Yelabuga. Ada pekerja konstruksi di wilayah pendudukan Ukraina, warga Korea Utara di kamp-kamp kayu, dan tentu saja puluhan ribu tentara yang dikirim untuk bertempur — dan gugur — di garis depan Ukraina," ujar Song.
"Hidup di Korea Utara tidak mudah, tetapi orang-orang ini dikirim ke Rusia sebagai budak, tanpa kebebasan, dan hanya boleh menyimpan sebagian kecil dari upah mereka," tambahnya.
"Resolusi Dewan Keamanan PBB tentang pekerja Korea Utara, proliferasi senjata, dan penjualan teknologi ganda semuanya diabaikan. Jadi bisa kita katakan rezim sanksi PBB sudah mati," kata Pinkston.
Laporan tersebut mendesak Departemen Luar Negeri Amerika Serikat bekerja sama dengan negara lain untuk membongkar jaringan perdagangan manusia dan menjatuhkan sanksi kepada pihak yang bertanggung jawab. Laporan itu juga meminta PBB menyelidiki kompleks Yelabuga secara multilateral serta menuntut pertanggungjawaban pelaku dan perlindungan bagi korban.
Sumber: DW News
Tambahkan Intarta Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Topik
Komentar
Memuat…
Memuat komentar…
Berita Terkait

Rusia Serang Kramatorsk Tiga Kali dalam Sehari, Empat Orang Tewas

Sengketa Tawanan Perang Korea Utara, Korsel Tarik Lebih Banyak Staf dari Ukraina

Foto Terbaru Kim Jong Un Dirilis, Patahkan Kabar Kematiannya

Penasihat Zelensky: Warga Ukraina Tewas karena AS Batasi Berbagi Intelijen

NATO Tambah Armada Pengintai di Laut Hitam usai Serangan Rusia Makin Brutal

Trump Tuduh Zelensky Tak Mau Perang Berakhir, Bela Alasan Longgarkan Sanksi Rusia
Berita Terkini
Lihat Semua
Elon Musk Sebut Penggabungan SpaceX dan Tesla 'Ide yang Bagus'

Belajar Membatik di Bintan, Anak Muda Jadi Penjaga Warisan Budaya

AfD Jerman Siapkan Dokumen Rombak Besar Uni Eropa, Weidel Tampil di Parlemen Eropa

Wamenkop Akui Sejumlah Gedung Koperasi Merah Putih Tak Strategis, Segera Dievaluasi

