Desakan Kader Menguat, Jokowi Belum Menjawab Tawaran Pucuk Pimpinan PSI
Oleh Redaksi Intarta
Senin, 26 Okt 2026 12:35 WIB

Reading Comfort
adjust the font size
Desakan agar Presiden ke-7 Republik Indonesia Joko Widodo memimpin Partai Solidaritas Indonesia (PSI) semakin menguat dari bawah. Aspirasi itu disampaikan sejumlah pengurus daerah, tetapi Jokowi sendiri belum memberikan jawaban, dan PSI menegaskan belum ada keputusan final.
Usulan tersebut mencuat setelah Wakil Ketua Umum PSI Ronald Sinaga, yang akrab disapa Bro Ron, mendatangi kediaman Jokowi di Solo, Jawa Tengah. Dalam pertemuan itu, aspirasi kader daerah disampaikan secara langsung, mulai dari keinginan agar Jokowi menjadi ketua umum hingga menjadi ketua dewan pembina.
Aspirasi dari bawah, keputusan lewat mekanisme partai
Ketua DPP PSI menegaskan bahwa aspirasi di PSI bergerak dari bawah ke atas. Sejumlah DPD disebut telah menyuarakan keinginan serupa, antara lain dari Surakarta, Jakarta Utara, Sukoharjo, Cirebon, dan Kabupaten Bogor, meski bentuk jabatan yang diinginkan tidak selalu sama.
PSI menyatakan semua aspirasi itu akan ditampung dan dibahas secara internal. Jika Jokowi pada akhirnya masuk kepengurusan, jabatan yang diembannya tetap harus mengikuti mekanisme partai, termasuk kongres untuk pemilihan ketua umum dan mekanisme tersendiri untuk dewan pembina.
“Semua aspirasi kami tampung, tetapi keputusan mengenai struktur kepengurusan harus melalui mekanisme partai yang berlaku.”
Ketua Harian DPP PSI Ahmad Ali juga mengingatkan soal waktu yang tepat. PSI disebut masih menggodok aspirasi dari bawah hingga tingkat pimpinan, termasuk mempertimbangkan momentum rapat pimpinan nasional PSI pada November mendatang.
Mengapa nama Jokowi menguat?
Pengamat politik Agung Baskoro menilai dorongan itu lahir dari kebutuhan magnet elektoral. PSI masih memiliki pekerjaan rumah besar, yakni lolos ambang batas parlemen, sementara wacana ambang batas disebut sempat bergerak dari 4 persen hingga 5 persen, bahkan 7 persen.
Di sisi lain, Jokowi dinilai membutuhkan benteng politik karena serangan politik terhadapnya belum berhenti. Hubungan itu pun digambarkan sebagai simbiosis mutualisme: PSI membutuhkan daya tarik Jokowi, sementara Jokowi membutuhkan kendaraan politik.
Jokowi sendiri belakangan kerap menunjukkan kartu tanda anggota PSI saat safari politik. Ia menyebut langkah itu sebagai penegasan keseriusannya membesarkan PSI, dan menegaskan akan all out untuk partai berlambang gajah tersebut.
Efek elektoral masih jadi perdebatan
Direktur Eksekutif Voxpol Center Pangi Syarwi Chaniago menilai partai-partai di Indonesia masih sangat bertumpu pada figur. Dalam konteks itu, nama Jokowi memang berpotensi menjadi daya tarik, tetapi tidak otomatis menjamin kenaikan suara.
Ia mengingatkan bahwa PSI pernah mencoba memanfaatkan citra Jokowi, namun hasil elektoralnya tidak berbanding lurus dengan strategi tersebut. Dalam diskusi itu disebut angka survei 2,6 persen dari Voxpol, 4,3 persen dari LKPI, dan 4,1 persen dari SMRC, yang semuanya masih berada dalam rentang yang jauh dari ambang batas, meski trennya diklaim meningkat.
Risiko lain yang disorot adalah persepsi publik soal nepotisme dan dinasti politik, serta isu ijazah yang terus melekat pada Jokowi dan putranya, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. PSI menilai isu-isu tersebut harus dikelola dengan baik agar tidak menjadi beban elektoral.
Di internal PSI, perdebatan juga menyangkut basis pemilih. Pemilih PSI disebut mayoritas berada di perkotaan dan kalangan muda, sementara pendukung Jokowi lebih banyak berada di perdesaan dan usia lebih senior. Karena itu, PSI masih perlu merapatkan asosiasi politik antara partai dan Jokowi.
Untuk saat ini, satu hal yang pasti: posisi Jokowi di PSI masih sebatas anggota atau kader biasa, meski putra bungsunya, Kaesang Pangarep, menjabat sebagai ketua umum. Apakah desakan kader ini berujung pada kursi ketua umum, ketua dewan pembina, atau justru tidak sama sekali, jawabannya masih menunggu keputusan internal PSI.
Sumber: YouTube - KOMPASTV
Tambahkan Intarta Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Topik
Ikuti Intarta di
Berita terkini setiap hari, langsung di beranda Facebook Anda.
intarta
Berita & Media
Komentar
Memuat…
Memuat komentar…
Berita Terkait

Jokowi-Gibran Tampil Bersama, Pengamat: Wajar, tapi Desakan Mundur Tetap Menguat

Ade Armando: Gibran Sempat Tolak Empat Kali, Baru Menerima di Tawaran Kelima

Lukas: Jokowi Kerap Lempar Isu Tuduhan ke Arah Prabowo

Sidang Kasus Ijazah Jokowi di PN Jaktim: Saksi Akui Tak Pernah Lihat Dokumen Asli

Perlawanan Roy Suryo Ditolak, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Berlanjut ke Pembuktian

Eksepsi Ditolak, Roy Suryo Minta Ijazah Asli Jokowi Dibuka di Ruang Sidang
Berita Terkini
Lihat Semua
Dituduh Asusila, Terapis Pijat di Johar Baru Diperas Rp600 Ribu, Lima Pelaku Ditangkap

Lula Menangi Pilpres Brasil, Kalahkan Flavio Bolsonaro di Putaran Kedua

Jokowi-Gibran Tampil Bersama, Pengamat: Wajar, tapi Desakan Mundur Tetap Menguat

Ade Armando: Gibran Sempat Tolak Empat Kali, Baru Menerima di Tawaran Kelima

