Ratusan Ribu Warga Serbia Turun ke Jalan Jelang Pemilu Penentu Nasib Vucic
Oleh Redaksi Intarta
Jumat, 23 Okt 2026 18:04 WIB

Reading Comfort
adjust the font size
Massa membanjiri alun-alun pusat Beograd dari berbagai arah hingga memenuhi beberapa blok kawasan sekitarnya. Kelompok pemantau independen Archive of Public Gatherings memperkirakan sekitar 150.000 orang menghadiri aksi tersebut.
Baca Juga:
Ribuan Warga Israel Gelar Aksi di Tel Aviv, Tuntut Penyelidikan Independen Serangan 7 OktoberRibuan peserta meneriakkan “kemenangan” menjelang pemungutan suara pada Minggu (25/10), yang digelar setelah dua tahun aksi protes yang dipimpin mahasiswa menentang Vucic. Gerakan ini bermula dari runtuhnya kanopi Stasiun Novi Sad yang baru direnovasi pada 2024 — tragedi yang menewaskan 16 orang — dan meluas dari tuntutan investigasi independen menjadi desakan pemilu dini.
Daftar Mahasiswa, Ancaman Terbesar bagi SNS
Ancaman terbesar bagi Vucic datang dari Daftar Mahasiswa (Student List), gerakan tanpa pemimpin yang mengusung kandidat-kandidat didukung mahasiswa sebagai penantang utama.
“Saya datang untuk mendukung Daftar Mahasiswa karena kaum muda akhirnya memberi saya harapan bahwa hidup di negara yang normal itu mungkin,” ujar Marija Nedeljkovic Radic (47) kepada kantor berita AFP saat tiba di lokasi aksi. “Sungguh, untuk pertama kalinya dalam hidup saya, saya percaya itu mungkin.”
“Kami mengakhiri 14 tahun penghinaan, kekacauan, dan pengkhianatan, serta puluhan tahun mengutamakan kepentingan pribadi dan partai di atas kepentingan kalian. Kalian layak mendapatkan yang lebih baik, dan kami tahu cara mewujudkannya. Mahasiswa akan menang!”
Respons Vucic dan Kekhawatiran Kerusuhan
Vucic telah mendominasi politik Serbia selama lebih dari satu dekade, baik sebagai perdana menteri maupun presiden. Di tengah tekanan protes yang meningkat, ia mengumumkan pemilu dini bulan lalu dan mengundurkan diri dari kursi presiden — langkah yang dinilai banyak pihak sebagai taktik agar bisa mencalonkan diri sebagai perdana menteri.
Ini menjadi tantangan elektoral terbesar bagi partainya, Partai Progresif Serbia (SNS), yang berkuasa sejak 2012. Sang pemimpin berulang kali menuduh gerakan mahasiswa sebagai kudeta yang didanai asing.
“Jangan pernah lupakan bagaimana mereka mencoba menjatuhkan negara kita. Mari selalu lindungi dan pertahankan negara ini. Mari keluar dan kalahkan mereka! Kalahkan mereka dengan telak!” ujar Vucic di hadapan pendukungnya dalam sebuah aula olahraga, Kamis.
Sejumlah pihak mewaspadai potensi kerusuhan pasca-pemilu. Sebanyak 24 organisasi masyarakat sipil memperingatkan bahwa syarat pemilu yang “bebas dan adil” belum terpenuhi. Para analis menilai hasil yang tipis bisa memicu ketidakstabilan bila kedua kubu sama-sama mengklaim kemenangan. Vucic — yang mengendalikan kepolisian Serbia — menyatakan akan menindak tegas setiap kerusuhan setelah pemungutan suara.
Meski beberapa partai kecil ikut bertarung, para pengamat menilai pemilu ini bernuansa referendum antara Vucic dan gerakan mahasiswa, yang bisa menyingkirkan partai-partai lain dalam perebutan 250 kursi parlemen.
Sumber: DW News
Tambahkan Intarta Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Topik
Ikuti Intarta di
Berita terkini setiap hari, langsung di beranda Facebook Anda.
intarta
Berita & Media
Komentar
Memuat…
Memuat komentar…
Berita Terkait

Ribuan Warga Israel Gelar Aksi di Tel Aviv, Tuntut Penyelidikan Independen Serangan 7 Oktober

Ratusan Ribu Warga Turun ke Jalan, Aksi di Prancis Berujung 135 Penangkapan

Amarah Warga Eropa Pecah: Demo Biaya Hidup Meluas dari Prancis ke Italia, Belgia, hingga Portugal

Prancis Kembali Bergejolak, Ratusan Ribu Warga Turun ke Jalan Menentang Mahalnya Biaya Hidup

Gelombang Protes Kembali Mengguncang Prancis, Hampir 1.000 Orang Ditangkap

Prancis Terbakar Amarah: Demo Biaya Hidup Bakar Balai Kota Berusia 140 Tahun, 1.200 Ditangkap
Berita Terkini
Lihat Semua
Keuskupan Agung New York Sepakat Bayar 800 Juta Dolar AS kepada Para Korban

Tembakan dari Mobil di Luar Arena Tinju Dekat Brisbane, Empat Orang Terluka

Udara Singapura Mulai Membaik, Tiga Wilayah Keluar dari Zona Tidak Sehat

Arab Saudi Tembak Jatuh Rudal Houthi ke Riyadh, Trump Isyaratkan Serangan ke Iran

