Terkini
PolitikBerita

Prancis Terbakar Amarah: Demo Biaya Hidup Bakar Balai Kota Berusia 140 Tahun, 1.200 Ditangkap

W

Oleh Redaksi Intarta

Senin, 19 Okt 2026 19:10 WIB

Prancis Terbakar Amarah: Demo Biaya Hidup Bakar Balai Kota Berusia 140 Tahun, 1.200 Ditangkap
Ilustrasi pemberitaan Intarta (Foto: Intarta/Redaksi Intarta)

Reading Comfort

Paris — Ratusan ribu orang turun ke jalan dalam demonstrasi nasional menentang kenaikan biaya hidup di Prancis pada Sabtu, 17 Oktober 2026. Aksi yang digelar di sekitar 110 titik di seluruh negeri itu berujung ricuh di sejumlah kota: balai kota bersejarah dibakar, toko-toko dijarah, dan kendaraan dirusak massa.

Kementerian Dalam Negeri Prancis mencatat sekitar 550.000 orang mengikuti aksi tersebut. Namun, serikat pekerja CGT memperkirakan jumlah peserta mencapai 800.000 orang. Perdana Menteri Prancis Sébastien Lecornu menyebut sekitar 1.200 orang telah ditangkap dan lebih dari 150 anggota polisi terluka dalam bentrokan.

“Sungguh suatu keajaiban bahwa jumlah korban jiwa tidak lebih tinggi,” ujar Lecornu saat meninjau petugas keamanan yang dikerahkan di pusat kota Paris.

Balai Kota Limoges Berusia 140 Tahun Rata dengan Api

Kerusakan paling parah terjadi di kota Limoges. Gedung balai kota yang telah berdiri lebih dari 140 tahun itu hangus dilalap api. Massa bertopeng dilaporkan membakar mobil polisi di depan gedung, memecahkan jendela, lalu masuk ke dalam sebelum menyulut api hingga menara jam bersejarah bangunan itu ambruk.

Di kota Lyon, kantor pariwisata kota juga ikut dibakar saat sekitar 20.000 orang mengikuti demonstrasi. Sementara di Marseille, demonstran berpakaian hitam menerobos masuk ke balai kota dan merusak bangunan dengan coretan grafiti.

Butik Mewah di Paris hingga Toko Elektronik Jadi Sasaran Jarah

Penjarahan meluas ke berbagai jenis usaha di sembilan kota besar. Di Paris, kelompok pemuda bertopeng memutus sambungan kamera pengawas sebelum memecahkan kaca pertokoan dan mengambil barang dagangan. Korban meliputi supermarket, apotek, butik mewah, toko kacamata, gerai kosmetik, hingga toko elektronik.

Di Marseille, puluhan toko dibobol, termasuk butik merek mewah Hermès. Di Lille, perusuh secara spesifik menyasar gerai Apple Store di pusat kota. Aksi serupa dilaporkan terjadi di Nice, Nantes, Bordeaux, Toulouse, dan Strasbourg.

Polisi menggunakan gas air mata dan meriam air untuk membubarkan massa yang melemparkan batu, petasan, dan bom molotov. Bentrokan sengit terjadi di alun-alun Place de la République, Paris. Wakil Wali Kota Paris Emmanuel Gregoire menggambarkan kerusakan di ibu kota begitu parah.

“Seluruh ruas jalan di Paris telah hancur lebur.” — Emmanuel Gregoire, Wakil Wali Kota Paris

Macron Ancam Tindakan Hukum Tegas

Presiden Prancis Emmanuel Macron mengecam keras aksi kekerasan dan penjarahan yang menodai unjuk rasa tersebut. Ia menegaskan seluruh pelaku perusakan akan diproses melalui jalur hukum.

“Tidak ada tempat untuk kekerasan di republik kita. Mereka yang telah menghancurkan, menyerang prefektur serta bisnis, bahkan menjarah balai kota kami, akan dituntut dan dihukum.” — Emmanuel Macron, Presiden Prancis

Lecornu menuding kelompok sayap kiri radikal dan para pelaku kriminal sebagai biang kericuhan. Tudingan itu dibantah tokoh sayap kiri Jean-Luc Mélenchon, yang meminta para peserta aksi menghindari tindakan anarkis. Sebaliknya, kandidat sayap kanan Marine Le Pen mengecam para perusuh dan berjanji melindungi masyarakat dari kekerasan.

Akar Protes dan Rembetan ke Negara Lain

Gelombang protes ini dipicu penurunan daya beli masyarakat Prancis yang terus merosot sejak 2024. Beban ekonomi keluarga kian berat akibat lonjakan harga bahan bakar minyak, ditambah memburuknya kondisi sekolah yang memicu demonstrasi pelajar selama berminggu-minggu. Aksi pelajar menuntut lebih banyak guru dan fasilitas belajar yang layak.

Situasi kian memanas menjelang pemilihan presiden April dan Mei 2027 untuk mencari pengganti Macron. Sejumlah pejabat pemerintah dijadwalkan bertemu pada Minggu malam untuk membahas penanganan dampak kerusuhan.

Rembetan aksi menentang mahalnya biaya hidup juga terasa di negara tetangga. Di Brussel, Belgia, polisi memakai gas air mata untuk membubarkan demonstran. Di Milan, Italia, aksi damai berubah menjadi bentrokan setelah demonstran bertopeng melempari polisi dengan batu. Di Lisboa, Portugal, puluhan ribu orang turun ke jalan menuntut kenaikan upah dan hunian yang terjangkau.

Sumber: YouTube - Official iNews

Tambahkan Intarta Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang

Topik

Komentar

Memuat…

Memuat komentar…

Berita Terkait

Berita Terkini

Lihat Semua