Terkini
PolitikBerita

Kenapa Gen Z Israel Berbondong-bondong Dukung Kubu Kanan Jauh

W

Oleh Redaksi Intarta

Rabu, 21 Okt 2026 12:24 WIB

Kenapa Gen Z Israel Berbondong-bondong Dukung Kubu Kanan Jauh
Ilustrasi pemberitaan Intarta (Foto: Intarta/Redaksi Intarta)

Reading Comfort

Menjelang pemilihan umum Israel pekan depan, sosok Itamar Ben-Gvir — menteri keamanan nasional dari kubu kanan jauh — kerap dikelilingi kerumunan pendukung muda yang antusias, mengibarkan bendera besar partai di atas barisan pengawal pribadinya.

Dulu ditolak masuk tentara Israel karena dinilai terlalu ekstrem secara politik, Ben-Gvir kini duduk di lingkaran dalam pemerintahan. Lebih dari 500 ribu pemilih pemula akan memberikan suaranya dalam pemilu yang oleh banyak warga Israel disebut menentukan masa depan keamanan dan identitas negara.

Sebuah jajak pendapat Yedioth Ahronoth menunjukkan lebih dari 16 persen pemilih pemula berencana mendukung partai kanan jauh — Otzma Yehudit (Kekuatan Yahudi) milik Ben-Gvir atau Partai Zionisme Religius yang dipimpin sekutunya, Bezalel Smotrich. Survei lain dari televisi Channel 12 mencatat hampir tiga perempat pemilih muda menyebut dirinya berhaluan kanan atau kanan tengah.

Keamanan dan Trauma 7 Oktober

Para pendukung muda punya alasan sendiri. Mordechai, 20 tahun, mengaku Ben-Gvir memberinya rasa aman. Nadav, 18 tahun, yakin politikus itu akan membela mereka yang akan masuk dinas militer.

Meir Schreiber, 23 tahun, mengatakan serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 yang memicu perang Gaza membuatnya mantap memilih Ben-Gvir. "Anak muda paham perdamaian bukan sesuatu yang bisa kita lakukan," katanya, "karena apa yang terjadi saat kamu muda membentuk kepribadian — kami menyaksikan 7 Oktober."

Namun Ben-Gvir adalah tokoh yang memecah belah. Pandangannya mencakup aneksasi Tepi Barat yang diduduki, pendudukan kembali Gaza, dan "emigrasi sukarela" warga Palestina — sikap yang dikecam luas warga Israel liberal. Sejumlah negara Barat bahkan menjatuhkan sanksi atau larangan perjalanan terhadap Ben-Gvir dan Smotrich atas tuduhan hasutan terhadap warga Palestina. Keduanya adalah menteri kuat dalam koalisi pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.

Kecenderungan Jangka Panjang

Analis politik Dahlia Scheindlin menilai fenomena ini bukan sekadar buntut 7 Oktober. Selama sekitar 20 tahun terakhir, pemilih Yahudi Israel muda memang lebih kanan dibanding rata-rata, bahkan jauh lebih kanan dibanding kelompok usia di atas 55 tahun.

"Mereka tumbuh di tengah serangkaian perang tanpa pengalaman pribadi akan upaya perdamaian. Namun sebagian besar mereka disosialisasikan ke dalam istilah-istilah paling ekstrem dalam perdebatan — aneksasi, perluasan permukiman, dan — setelah 7 Oktober — aneksasi Gaza. Dan kini mereka memilih untuk pertama kalinya," ujarnya.

Faktor media sosial juga berperan. Yonatan Shalev, 24 tahun, kandidat dari partai oposisi kanan tengah Beyachad ("Bersama") yang dipimpin mantan perdana menteri Naftali Bennett, menyebut Ben-Gvir lebih cepat memahami kekuatan TikTok. "Politisi liberal tidak percaya TikTok, tidak percaya Instagram, dan dia memanfaatkan arena itu," katanya.

Survei menunjukkan pemilih pemula sangat termotivasi untuk mencoblos — lebih dari 80 persen menyatakan kemungkinan besar akan datang — namun juga lebih skeptis terhadap institusi demokrasi dan kurang tertarik pada aksi protes atau petisi politik.

Dalam pemilu yang diperkirakan ketat antara blok pro-pemerintah dan anti-pemerintah, kehadiran para pemilih baru ke bilik suara bisa menjadi penentu hasil.

Sumber: BBC News

Tambahkan Intarta Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang

Topik

Komentar

Memuat…

Memuat komentar…

Berita Terkait

Berita Terkini

Lihat Semua