InternasionalBerita

Menang Tanpa Mayoritas, Kekuatan Sang Petahana Diuji di Meja Koalisi

Redaksi Intarta

Oleh

Menang Tanpa Mayoritas, Kekuatan Sang Petahana Diuji di Meja Koalisi
Ilustrasi pemberitaan Intarta (Foto: Intarta/Redaksi Intarta)

Reading Comfort

Benjamin Netanyahu unggul dalam pemilu pada Selasa (27/10), tetapi tetap gagal mengamankan ambang batas mayoritas suara untuk membentuk pemerintahan. Hasil penghitungan suara menunjukkan tidak ada satu kubu pun yang memperoleh suara mayoritas di parlemen.

Per Kamis (29/10), dengan lebih dari 99 persen suara telah dihitung, baik kubu Netanyahu maupun blok oposisi tidak ada yang berhasil mengamankan 61 kursi sebagai ambang batas mayoritas. Blok Netanyahu mengamankan 53 kursi di Knesset, sedangkan blok mantan panglima militer Gadi Eisenkot mendapat 48 kursi. Partai-partai Arab sementara itu memegang 19 kursi, jumlah yang belum pernah diperoleh sebelumnya.

Baca Juga:Pemilu Israel Buntu: Blok Netanyahu Unggul Tipis, Mayoritas Masih Jauh dari Genggaman

Pemilu ini merupakan yang pertama sejak serangan kelompok milisi Hamas pada 7 Oktober 2023 dan dimulainya agresi ke Jalur Gaza. Hasil tersebut membuat peluang Netanyahu untuk kembali memimpin bergantung pada kemampuannya melobi dan membentuk koalisi dengan partai-partai lain.

Dinilai Tetap Menang Secara Politik

Mantan penasihat Netanyahu, Aviv Bushinsky, menilai hasil pemilu tetap menunjukkan keberhasilan politik sang petahana meskipun gagal meraih suara mayoritas. Ia menggambarkan hasil tersebut sebagai kebangkitan politik Netanyahu setelah menghadapi tekanan besar akibat serangan Hamas pada 2023, yang menewaskan 1.200 warga dan memicu kritik terhadap kegagalan sistem keamanan di bawah kepemimpinannya.

Baca Juga:Hasil Final Pemilu Israel: Netanyahu dan Rival Sama-Sama Gagal Raih Mayoritas, Partai Arab Jadi Penentu

Menurut Bushinsky, kegagalan memperoleh mayoritas parlemen justru dapat memperkuat kembali dominasi Netanyahu dalam politik. Netanyahu tetap berhasil mengumpulkan dukungan mayoritas pemilih Yahudi dan membawa blok politiknya menjadi kekuatan terbesar dalam pemilu kali ini.

Analis regional sekaligus mantan perwira intelijen militer, Danny Citrinowicz, menilai pencapaian terbesar Netanyahu bukan sekadar memenangkan pemilu, melainkan berhasil mempertahankan kekuasaannya yang hampir menyentuh dua dekade di tengah berbagai tekanan politik dalam dan luar negeri. Ia menyimpulkan dengan kalimat singkat: Netanyahu menang karena tidak kalah, dan berhasil bertahan.

Partai Arab Jadi Penentu

Salah satu sejarah dalam pemilu kali ini adalah meningkatnya partisipasi pemilih warga Arab, kelompok masyarakat keturunan Palestina yang memiliki kewarganegaraan dan mencakup sekitar 21 persen dari total populasi. Jumlah suara tertinggi dalam sejarah ini membuat partai-partai Arab berpotensi memegang peran penting dalam menentukan siapa yang akan memimpin pemerintahan berikutnya.

Mantan negosiator perdamaian Timur Tengah Amerika Serikat, Dennis Ross, menilai hasil pemilu kali ini memberikan pengaruh politik yang belum pernah dimiliki partai-partai Arab sebelumnya. Meski demikian, peluang oposisi untuk menggulingkan Netanyahu tidak mudah, karena pembentukan pemerintahan alternatif kemungkinan membutuhkan dukungan langsung atau tidak langsung dari partai-partai Arab.

Persoalan tersebut dapat menyulitkan oposisi karena sejumlah calon mitra koalisi dari sayap kanan, seperti Naftali Bennett dan Avigdor Lieberman, berpotensi menolak bekerja sama dengan partai-partai Arab. Netanyahu sendiri akan tetap menjabat sebagai perdana menteri sementara hingga presiden menentukan siapa yang mendapat mandat untuk membentuk pemerintahan baru, dan posisi itu memberinya keuntungan dalam proses pembentukan koalisi.

Dua Skenario ke Depan

Para analis melihat dua kemungkinan utama, yakni pembentukan pemerintahan persatuan nasional yang lebih luas atau penyelenggaraan pemilu ulang. Bushinsky menilai pemerintahan persatuan nasional menjadi pilihan paling realistis, dengan skenario itu berpotensi terwujud apabila Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mendorong Netanyahu untuk merangkul para pesaing politiknya dan menyingkirkan sejumlah menteri sayap kanan jauh, termasuk Itamar Ben-Gvir dan Bezalel Smotrich.

Jika upaya tersebut gagal, kebuntuan politik dapat berujung pada pemilu ulang. Namun sejumlah analis menilai pemilu berikutnya justru dapat semakin menguntungkan Netanyahu dibandingkan mengubah peta kekuatan politik, karena sebagian besar partai politik tidak menginginkan pemilu ulang. Karena itu, pemerintahan persatuan nasional yang dipimpin Netanyahu dan melibatkan Eisenkot atau Bennett menjadi jalan keluar yang paling masuk akal.

Sementara itu, Eisenkot berusaha memanfaatkan hasil pemilu untuk menantang legitimasi politik Netanyahu. Mantan panglima militer berusia 66 tahun tersebut, yang kehilangan seorang putra dan dua keponakannya selama agresi di Jalur Gaza sejak Oktober 2023, menjadikan pemilu ini sebagai referendum terhadap kepemimpinan Netanyahu dan menyebutnya kini memimpin pemerintahan transisi yang telah kehilangan kepercayaan publik. Di sisi lain, Netanyahu juga masih menghadapi persidangan kasus dugaan korupsi yang berkepanjangan serta penolakan terhadap penyelidikan independen atas kegagalan keamanan dalam serangan 2023.

Tambahkan Intarta Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang →

Topik

i

intarta

Berita & Media

Diskusi

Memuat…

Memuat komentar…

Berita Terkait

Berita Terkini

Lihat Semua