PolitikBerita

Calon Wali Kota Berlin Diterpa Kritik Usai Catatan Internal Wawancaranya Bocor ke Media

R

Oleh Redaksi Intarta

Calon Wali Kota Berlin Diterpa Kritik Usai Catatan Internal Wawancaranya Bocor ke Media
Ilustrasi pemberitaan Intarta (Foto: Intarta/Redaksi Intarta)

Reading Comfort

Elif Eralp, kandidat Partai Kiri (Die Linke) yang berpeluang menjadi wali kota Berlin berikutnya, diterpa kritik tajam setelah catatan internal dalam proses persetujuan wawancaranya dengan majalah Der Spiegel ikut terkirim ke redaksi. Catatan itu menyinggung kekhawatiran keamanan bagi dirinya dan keluarganya, yang disebut berkaitan dengan aktivis pro-Palestina di kota itu.

Kontroversi ini mencuat pada Kamis, 29 Oktober 2026. Dalam proses peninjauan kutipan wawancara — praktik yang lazim di Jerman, di mana narasumber memeriksa dan menyetujui kutipan langsung sebelum dimuat — Eralp mengembalikan naskah wawancara dengan satu pertanyaan dicoret dan disertai komentar tentang keselamatan dirinya.

Baca Juga:Amazon Gelontorkan 16 Miliar Euro untuk Jerman Tahun Depan

Der Spiegel mengutip komentar yang tertulis dalam dokumen Word hasil suntingan itu: “Saya tidak bisa membahayakan diri saya dan keluarga saya demi Der Spiegel.” Dalam catatan lain yang dikutip majalah tersebut, Eralp bertanya kepada juru bicara pers dan kolega partainya, “Apa yang kita lakukan sekarang? Membatalkan seluruh wawancara?” serta menulis bahwa ia seharusnya tidak pernah menyetujui wawancara itu.

Catatan internal yang tak sengaja terkirim

Wawancara tersebut dilakukan pada Senin di kantor Eralp di Gedung Perwakilan Berlin. Politikus berusia 45 tahun itu ditanya soal tuduhan antisemitisme yang diarahkan kepada anggota partainya, setelah sejumlah sosok dengan latar belakang yang dipertanyakan hadir dalam perayaan kemenangan partainya pada pemilihan lokal bulan lalu.

Baca Juga:Obama Kecam Kekejaman dan Korupsi Era Trump di Depan Pendukung Demokrat Ohio

Salah satu sorotan adalah perayaan Partai Kiri di distrik Neukölln yang dihadiri aktivis pro-Palestina kontroversial, Ibrahim Ibrahim, yang dikaitkan dengan Front Populer untuk Pembebasan Palestina (PFLP) — organisasi yang diklasifikasikan Uni Eropa sebagai organisasi teroris. Ibrahim pada masa lalu pernah menyebut Yahya Sinwar, mantan kepala Hamas di Gaza yang yang dianggap luas sebagai dalang serangan terhadap Israel pada 7 Oktober 2023, sebagai “martir” dan “pahlawan”. Ibrahim sendiri menolak tuduhan antisemitisme maupun dukungan terhadap terorisme atau Hamas.

Ketika Der Spiegel bertanya apakah yang ia maksud adalah insiden Ibrahim, Eralp awalnya menjawab “ya”. Namun dalam naskah yang dikembalikan, pertanyaan itu dicoret dan diganti komentar soal keselamatan dirinya dan keluarganya. Dalam catatan yang disertakan pada versi naskah yang disetujui — yang diyakini Der Spiegel tertinggal secara tidak sengaja — Eralp menulis bahwa polisi Berlin sebelumnya menyarankan dirinya untuk tidak berkomentar tentang individu tertentu.

Der Spiegel menjelaskan keputusannya mempublikasikan catatan tersebut. “Ada alasan untuk tidak mempublikasikan — kekhawatiran keamanan Eralp yang utama,” tulis majalah itu. “Namun kepentingan politik dari catatannya lebih besar. Der Spiegel meyakini publik harus tahu.” Majalah itu menambahkan pertanyaan: apakah seorang perempuan yang terlalu takut menyebut pendukung teroris dalam wawancara bisa bertanggung jawab atas keamanan seluruh warga Berlin?

Reaksi SPD dan Hijau

Kritik datang dari sejumlah politikus, termasuk dari Partai Sosial Demokrat (SPD) dan Partai Hijau — dua partai yang rencananya akan menjalani pembicaraan koalisi dengan Partai Kiri di Berlin bulan depan.

Karl Lauterbach dari SPD, yang dikenal luas saat menjabat menteri kesehatan Jerman pada masa pandemi Covid-19, berkata ia akan menyarankan partainya menjauh dari aliansi dengan Partai Kiri. Juru bicara urusan dalam negeri SPD, Sebastian Fiedler, menambahkan bahwa pembicaraan koalisi lebih lanjut dengan partai itu seharusnya tidak lagi dipertimbangkan oleh sosial demokrat mana pun.

Ketua kelompok parlemen Partai Hijau, Katharina Dröge, mempertanyakan dalam surat kabar Süddeutsche Zeitung apakah Eralp akan terus membiarkan dirinya dipengaruhi oleh pihak di barisannya sendiri yang dekat dengan kelompok kriminal dan menoleransi ancaman serta intimidasi terhadap kandidat utama mereka sendiri, atau justru mampu memberi jawaban yang jelas dan tegas.

Ketua Dewan Pusat Yahudi di Jerman, Josef Schuster, memperingatkan bahwa SPD dan Hijau berkewajiban untuk tidak menyerahkan tanggung jawab pemerintahan atas Berlin dan keamanan komunitas Yahudi kepada Partai Kiri. Menurutnya, kisah ini menunjukkan Partai Kiri tidak mampu menjauhkan diri dari pendukung teroris dan antisemit.

Eralp membalas: debat yang benar-benar beracun

Eralp membalas pada Kamis malam dengan mengecam apa yang ia sebut sebagai “debat yang benar-benar beracun”. Ia bersumpah tidak akan diintimidasi dan berjanji bersikap tegas “melawan kejahatan terorganisasi, melawan organisasi yang mengagungkan kekerasan, melawan kekerasan, melawan teror.”

Ia tidak berkomentar soal detail laporan Der Spiegel, tetapi menegaskan akan “menjamin keamanan seluruh warga Berlin.” Dukungan datang dari wakil presiden parlemen Jerman sekaligus kolega senior Partai Kiri, Bodo Ramelow, yang mengkritik laporan Der Spiegel sebagai “lebih dari sekadar dipertanyakan”. Menurut Ramelow, pemberitaan itu menyasar seseorang yang merasa rentan dan membuatnya semakin rentan, serta memakai komunikasi internal untuk menggambarkan klise kuno tentang “perempuan yang lemah”.

Sumber: DW News

Tambahkan Intarta Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang

Topik

Ikuti Intarta di

Facebook

Berita terkini setiap hari, langsung di beranda Facebook Anda.

i

intarta

Berita & Media

Komentar

Memuat…

Memuat komentar…

Berita Terkait

Berita Terkini

Lihat Semua