Machado: AS Dukung Pemilu Venezuela 2027, Transisi Demokrasi Disebut Tak Bisa Dibalikkan
Oleh Redaksi Intarta

Reading Comfort
adjust the font size
Pemimpin oposisi Venezuela Maria Corina Machado mengatakan negaranya sedang bergerak menuju pemilihan presiden pada 2027 yang didukung Amerika Serikat. Pernyataan itu ia sampaikan di Caracas dalam penampilan publik pertamanya setelah 10 bulan berada di pengasingan.
"Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio telah menguraikan serangkaian langkah menuju transisi demokrasi yang mencakup pemilihan presiden pada 2027," kata Machado. Ia menyebut transisi menuju demokrasi sebagai sesuatu yang "tidak bisa dibalikkan".
Baca Juga:Politisi Oposisi Tunisia Dihukum 4 Tahun Penjara karena Unggahan Media Sosial"Tanggal pemilu adalah tanggal pembebasan," ujar Machado, yang juga dikenal sebagai peraih Hadiah Nobel Perdamaian.
Prioritas: Bebaskan Tahanan Politik
Machado menegaskan prioritasnya mencakup membongkar sistem represif di Venezuela dan membebaskan ribuan tahanan politik. Ia juga membantah pernah melakukan kontak dengan Presiden sementara Delcy Rodriguez.
Baca Juga:Lula Menangi Pilpres Brasil, Kalahkan Flavio Bolsonaro di Putaran KeduaTak lama sebelum pernyataan Machado, Rodriguez mengumumkan bahwa "akan ada pemilu" di Venezuela, tanpa menyebut tanggal pelaksanaannya.
Ucapan Terima Kasih kepada Trump, Kritik terhadap Kesepakatan Minyak
Machado berterima kasih kepada Presiden AS Donald Trump atas tindakannya pada 3 Januari yang menurutnya membuka "pintu gerbang menuju kebebasan". Ia merujuk pada penangkapan mantan Presiden Nicolas Maduro oleh AS. Maduro kini menghadapi dakwaan perdagangan narkoba dan penyiksaan di AS, yang ia bantah.
"Kesepakatan ini tidak mencerminkan tingkat transparansi yang diinginkan masyarakat Venezuela."
Kutipan itu disampaikan Machado saat mengkritik kesepakatan minyak Washington dan Caracas yang disepakati awal tahun ini, di mana Venezuela diperkirakan memasok 20 persen cadangan minyaknya ke Amerika Serikat.
Di sisi lain, Machado menghindari pertanyaan yang menyoroti komentar Trump pada Januari bahwa ia belum memiliki cukup dukungan untuk segera memimpin Venezuela, serta usulan Trump pekan ini bahwa Venezuela bisa menjadi negara bagian ke-51 AS.
Latar Belakang Politik yang Rumit
Machado dilarang mencalonkan diri pada pemilu presiden 2024. Ia kemudian mendukung kandidat oposisi Edmundo Gonzalez. Para pendukung Gonzalez menyebut ia menang dengan selisih besar, meskipun otoritas pemilu menyatakan Maduro sebagai pemenang.
Kembalinya Machado setelah hampir setahun di pengasingan membuat posisi Washington semakin rumit. AS menyatakan Machado berhak berada di Venezuela, tetapi pada saat yang sama juga memuji Presiden sementara Rodriguez.
Sumber: DW News
Tambahkan Intarta Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Topik
Ikuti Intarta di
Berita terkini setiap hari, langsung di beranda Facebook Anda.
intarta
Berita & Media
Komentar
Memuat…
Memuat komentar…
Berita Terkait

Politisi Oposisi Tunisia Dihukum 4 Tahun Penjara karena Unggahan Media Sosial

Lula Menangi Pilpres Brasil, Kalahkan Flavio Bolsonaro di Putaran Kedua

Washington-Tel Aviv Kabarnya Matangkan Serangan ke Iran Usai Pemilu AS

Kuba Tuduh Amerika Serikat Ancam Negara-Negara Jelang Pemungutan Suara Embargo di PBB

Sesumbar Trump: AS Sudah Lumpuhkan Iran, Rusia dan China Disebut Tak Berperan

Obama Kecam Kekejaman dan Korupsi Era Trump di Depan Pendukung Demokrat Ohio
Berita Terkini
Lihat Semua
Bayer Menang Gugatan Roundup Pertama Sejak Putusan Mahkamah Agung AS

Binance Tangguhkan Perdagangan Usai Dugaan Peretasan Bernilai 6,3 Miliar Dolar AS

Hasil Final Pemilu Israel: Netanyahu dan Rival Sama-Sama Gagal Raih Mayoritas, Partai Arab Jadi Penentu

Zverev Ukir Sejarah, Petenis Jerman Pertama dalam 35 Tahun yang Jadi Nomor 1 Dunia

