Terkini
PolitikBerita

Demo Biaya Hidup di Perancis Ricuh, Toko-toko Paris Dijarah Massa

W

Oleh Redaksi Intarta

Senin, 19 Okt 2026 17:23 WIB

Demo Biaya Hidup di Perancis Ricuh, Toko-toko Paris Dijarah Massa
Ilustrasi pemberitaan Intarta (Foto: Intarta/Redaksi Intarta)

Reading Comfort

Paris — Unjuk rasa nasional menuntut penurunan biaya hidup di Perancis berujung ricuh dan memicu aksi penjarahan massal di sejumlah kota pada Sabtu (17/10/2026), dengan titik terparah di Ibu Kota Paris.

Berdasarkan data Kementerian Dalam Negeri Perancis, demonstrasi di berbagai kota diikuti sekitar 550.000 orang. Namun serikat pekerja CGT yang turut berpartisipasi mengklaim jumlah peserta mencapai 800.000 orang.

Di Paris, kelompok-kelompok pemuda bertopeng menjarah toko-toko di pusat kota nyaris tanpa perlawanan berarti di sejumlah titik. Kaca jendela toko dipecahkan, pintu gulung dijebol, dan rak-rak berisi rokok, kacamata, pakaian, perhiasan, hingga makanan dikosongkan. Wartawan menyaksikan para penjarah keluar dari supermarket sambil membawa tas penuh kue, jus buah, dan minuman keras.

Place de la Republique Porak-poranda

Di kawasan ikonik Place de la Republique, pecahan kaca dan puing berserakan, sepeda-sepeda dibakar mengepulkan asap tebal. Di Champs-Élysées, etalase toko-toko mewah hancur dan sejumlah di antaranya dijarah.

Wali Kota Paris Emmanuel Gregoire menyebut sejumlah jalan di Ibu Kota rusak parah setelah kelompok pemuda bertopeng membakar mobil-mobil yang terparkir dan menjarah banyak toko.

Ribuan Ditangkap, Ratusan Petugas Terluka

Kementerian Dalam Negeri melaporkan sekitar 2.400 orang ditangkap dalam kerusuhan itu, sementara sekitar 1.000 polisi dan gendarme terluka, tujuh di antaranya luka serius. Sekitar 1.500 usaha rusak di seluruh negeri, dan balai kota Limoges yang berdiri sejak abad ke-19 dibakar massa.

Untuk mengendalikan situasi, polisi melepaskan gas air mata dan menggunakan meriam air menghadapi pengunjuk rasa yang melemparkan berbagai benda dan menembakkan kembang api.

Perdana Menteri Perancis Sebastien Lecornu mengecam aksi kekerasan berintensitas ekstrem tersebut. Unjuk rasa yang digerakkan gerakan rompi kuning, pelajar, dan serikat pekerja ini menambah ketidakpastian politik Perancis menjelang pemilihan presiden dalam enam bulan ke depan.

Sumber: Kompas

Tambahkan Intarta Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang

Topik

Komentar

Memuat…

Memuat komentar…

Berita Terkait

Berita Terkini

Lihat Semua