Ditolak Mentah-mentah, Warga Pennsylvania Tolak Uang Rp154 Juta demi Menolak Pusat Data Raksasa
Oleh Redaksi Intarta
Minggu, 25 Okt 2026 15:51 WIB

Reading Comfort
adjust the font size
Warga Hazle Township di Pennsylvania, Amerika Serikat, membuat keputusan yang mengejutkan banyak pihak. Mereka secara bulat menolak tawaran uang tunai sebesar US$10.000 atau sekitar Rp154 juta per rumah tangga, asalkan mereka menyetujui pembangunan pusat data raksasa di wilayah tempat tinggal mereka.
Proyek yang ditolak itu bernama Project Hazelnut, yang dikembangkan oleh NorthPoint Development. Kompleks pusat data tersebut direncanakan berdiri di atas lahan seluas lebih dari 1.300 hektare.
Tawaran Besar yang Tetap Ditolak
Demi memuluskan rencana tersebut, pengembang sudah menyiapkan paket komitmen yang tidak kecil. Selain uang tunai per rumah tangga, ada dana komunitas sebesar Rp231 miliar untuk pendidikan dan fasilitas umum, pembukaan lebih dari 2.000 lapangan kerja, serta janji mempertahankan hutan seluas 1.100 hektare.
Namun tawaran itu tidak menggoyahkan warga. Padahal, hampir 17 persen warga setempat hidup di bawah garis kemiskinan. Bagi banyak warga, uang itu justru terasa seperti upaya membeli persetujuan.
"Uang itu setetes air di lautan dibanding kerugian yang akan kita tanggung," ujar Ed Negra, warga sekaligus pemilik usaha kecil. "Nilai properti kita akan jatuh drastis. Jika ini bukan suap, saya tidak tahu apa namanya lagi."
Warga lainnya, Brian Malloy, menegaskan sikap serupa. "Kami tidak menjual lingkungan tempat tinggal kami," katanya.
Kekhawatiran soal Listrik, Air, dan Kebisingan
Penolakan warga bukan tanpa alasan. Di kota kecil terdekat, Archbald, rencana enam kampus pusat data telah memicu kemarahan. Pusat data itu menempati hingga 14 persen wilayah kota, menguras pasokan listrik, menaikkan tarif energi, dan menimbulkan kebisingan siang malam. Dewan kota yang menyetujui rencana itu bahkan digulingkan warga lewat pemilihan.
Warga Hazle Township khawatir hal serupa menimpa mereka. Kebutuhan listrik raksasa dikhawatirkan menaikkan tarif seluruh warga, mesin pendingin yang beroperasi 24 jam menimbulkan kebisingan terus-menerus, dan pemakaian air pendingin berisiko mengganggu pasokan warga. Harga properti pun dikhawatirkan anjlok karena berdekatan dengan aktivitas industri.
Kekhawatiran itu semakin memuncak karena proses persetujuan proyek justru dipercepat. Gubernur Pennsylvania, Josh Shapiro, memasukkan proyek ini ke dalam program jalur cepat sehingga izin bisa diselesaikan dalam waktu lebih singkat.
Risiko Nyata bagi Raksasa Teknologi
Penolakan warga kini menjadi risiko nyata bagi perusahaan teknologi besar. Menurut laporan Reuters, pada kuartal pertama 2026 saja, 75 proyek pusat data menghadapi penolakan warga yang terorganisasi. Total nilai investasi yang terancam mencapai US$130 miliar atau sekitar Rp2.000 triliun.
Para investor mulai menyadari satu hal penting: membangun infrastruktur kecerdasan buatan bukan hanya soal listrik dan kabel, tetapi juga soal izin warga. Dan uang, ternyata, tidak selalu bisa membeli persetujuan.
Sumber: CNBC Indonesia
Tambahkan Intarta Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Topik
Ikuti Intarta di
Berita terkini setiap hari, langsung di beranda Facebook Anda.
intarta
Berita & Media
Komentar
Memuat…
Memuat komentar…
Berita Terkait

Warga Alberta Tolak Referendum Kemerdekaan, Pilih Tetap di Kanada

Eks Karyawan OpenAI Pasang Alat Perekam, Jaksa: Didukung Pemerintah Saudi

Jelang Rilis Kinerja, Belanja AI Meta dan Adopsi Asisten Muse Jadi Sorotan

Siemens Ingatkan: Jangan Hapus Pekerjaan Pemula, AI Tetap Butuh Pengawasan Manusia

Waspada 'Teman Maya 24 Jam': Anak Rentan Terjebak Ikatan Emosional dengan AI

Celah Kritis PHP Ditemukan Lewat Kecerdasan Buatan, Sejumlah Negara Tutup Situs Pemerintah
Berita Terkini
Lihat Semua
Keuskupan Agung New York Sepakat Bayar 800 Juta Dolar AS kepada Para Korban

Tembakan dari Mobil di Luar Arena Tinju Dekat Brisbane, Empat Orang Terluka

Udara Singapura Mulai Membaik, Tiga Wilayah Keluar dari Zona Tidak Sehat

Arab Saudi Tembak Jatuh Rudal Houthi ke Riyadh, Trump Isyaratkan Serangan ke Iran

