Kasus Ebola Pertama Muncul di Ibu Kota Nigeria, Pasien Tiba dari Uganda
Oleh Redaksi Intarta
Rabu, 21 Okt 2026 11:32 WIB

Reading Comfort
adjust the font size
Menteri Kesehatan Muhammad Ali Pate mengatakan pasien mulai menunjukkan gejala pada 7 Oktober, lalu dirawat di sebuah rumah sakit swasta di Abuja pada 11 Oktober sebelum hasil tes laboratorium memastikan diagnosis Ebola pada 20 Oktober.
"Kami melakukan segala upaya untuk menahan kasus ini dengan menelusuri semua kontak yang mungkin pernah dimiliki pasien," kata Pate.
Tim pelacakan telah mengidentifikasi 44 orang sebagai kontak pasien. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Nigeria (NCDC) mengaktifkan sistem manajemen insiden untuk mengoordinasikan respons nasional, dengan dukungan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan mitra lainnya.
Nigeria sudah bersiap sejak wabah merebak di Kongo
Nigeria sejatinya sudah meningkatkan kewaspadaan jauh sebelum kasus ini terdeteksi. Sejak Juni lalu negara itu membentuk gugus tugas Ebola menyusul wabah yang dinyatakan di Kongo sejak 15 Mei 2026.
"Kami tidak ingin mengulangi apa yang terjadi pada wabah terakhir ketika seorang pembawa masuk ke negara ini dan semua orang berebutan merespons," kata Femi Gbajabiamila, kepala staf Presiden Bola Tinubu, saat gugus tugas itu dibentuk.
Wabah terbesar kedua dalam sejarah
Wabah kali ini melibatkan strain yang kurang dikenal, Bundibugyo Ebolavirus, dengan lebih dari 9.000 kasus terkonfirmasi dan lebih dari 4.300 kematian — angka kematian hampir 50 persen. Hampir seluruh kasus terkonsentrasi di Kongo timur, terutama Provinsi Ituri.
Direktur Jenderal Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Afrika (Africa CDC) Jean Kaseya menyebut situasi ini sebagai ancaman yang sangat serius. "Wabah Ebola Bundibugyo ini telah menjadi yang paling luas secara geografis dalam sejarah, memengaruhi beberapa negara di tiga kawasan Afrika," katanya.
Selain Nigeria, Kenya juga mencatat sembilan kasus bulan ini yang diyakini merupakan satu klaster; kasus perdana di sana menimpa seorang pendatang yang kemudian meninggal di rumah sakit Nairobi. Uganda sendiri sempat mencatat 20 kasus dan dua kematian pada awal tahun ini, lalu dinyatakan bebas Ebola oleh WHO pada akhir Agustus setelah 42 hari tanpa kasus — status yang kini kembali dipertanyakan menyusul riwayat perjalanan pasien Nigeria.
Nigeria menjadi negara kelima yang mendeteksi virus tersebut sejak wabah dinyatakan di Republik Demokratik Kongo. Meski Ebola tidak menular semudah flu atau COVID-19, virus ini jauh lebih berbahaya bagi yang terinfeksi.
Sumber: DW News
Tambahkan Intarta Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Topik
Komentar
Memuat…
Memuat komentar…
Berita Terkait

Kasus Ebola di Kenya Capai Sembilan, Nigeria Konfirmasi Kasus Pertama

Waspada Gagal Ginjal di Usia Muda, Ini Penjelasan Dokter Spesialis Ginjal

Misteri Amelia Earhart Belum Terpecahkan, Ekspedisi ke Nikumaroro Pulang dengan Tangan Hampa

Ledakan Mengguncang Riyadh, Arab Saudi Klaim Rudal Houthi Berhasil Dicegat

Foto Terbaru Kim Jong Un Dirilis, Patahkan Kabar Kematiannya

Prancis Terbakar Amarah: Demo Biaya Hidup Bakar Balai Kota Berusia 140 Tahun, 1.200 Ditangkap
Berita Terkini
Lihat Semua
Tolak Rumahnya Dieksekusi PT KAI, Pria di Medan Siram Bensin dan Acungkan Parang

Komdigi Bantah Minta Platform Turunkan Konten Karhutla di Medsos

9 Gudang di Jatiuwung Ludes Dilalap Api, Diduga Korsleting di Gudang Es Krim

Elon Musk Sebut Penggabungan SpaceX dan Tesla 'Ide yang Bagus'

