Kebiasaan Makan Terlalu Cepat Ternyata Berisiko, Ini 5 Dampaknya untuk Tubuh
Oleh Redaksi Intarta
Minggu, 25 Okt 2026 13:42 WIB

Reading Comfort
adjust the font size
Jadwal yang padat kerap membuat seseorang makan dengan terburu-buru. Makanan ditelan sebelum dikunyah sempurna, lalu sendok berikutnya langsung menyusul. Tanpa sadar, sepiring makanan habis hanya dalam beberapa menit.
Kebiasaan ini bukan sekadar membuat seseorang kurang menikmati rasa makanan. Makan terlalu cepat juga bisa mendatangkan berbagai risiko bagi kesehatan, mulai dari gangguan pencernaan hingga kenaikan berat badan.
Ciri-Ciri Orang yang Makan Terlalu Cepat
Mengutip Cleveland Clinic, orang yang makan cepat biasanya mampu menghabiskan lebih banyak makanan dalam waktu 20 menit dibanding orang yang makan perlahan. Akibatnya, perut terasa penuh dan tidak nyaman.
Ciri lainnya adalah tidak mengunyah makanan dengan baik. Padahal, mengunyah berfungsi memecah makanan menjadi bagian yang lebih kecil agar lebih mudah ditelan. Orang yang makan terburu-buru juga cenderung tidak memberi jeda di antara suapan, sehingga sinyal kenyang dari tubuh ke otak belum sempat diterima.
Alhasil, seseorang tidak sadar bahwa dirinya sudah kenyang dan terus makan melampaui kebutuhan, hingga perut terasa kembung dan begah.
5 Dampak Makan Terlalu Cepat bagi Kesehatan
1. Gangguan pencernaan
Makan terlalu cepat bisa membuat perut kembung dan memicu penumpukan gas di saluran pencernaan, karena udara lebih mudah tertelan saat makan. Penelitian memang belum memastikan kaitan langsung kecepatan makan dengan GERD, kondisi saat asam lambung naik ke kerongkongan, tetapi rasa tidak nyaman di perut kerap menyertai kebiasaan ini.
2. Penyerapan nutrisi kurang maksimal
Kecepatan makan yang tinggi diduga mengganggu proses pemecahan makanan dan penyerapan nutrisi oleh tubuh. Bila berlangsung terus-menerus, tubuh berpotensi tidak menyerap vitamin, mineral, dan zat gizi penting dalam jumlah yang cukup.
3. Gula darah melonjak
Makan dengan cepat dapat meningkatkan kadar glukosa darah dan menurunkan respons insulin, hormon pengatur gula darah. Penelitian menemukan, orang yang menghabiskan makanan kurang dari 10 menit mengalami kenaikan gula darah lebih cepat dibanding yang makan selama 20 menit, dan lonjakan biasanya terjadi dua jam setelah makan.
4. Risiko diabetes tipe 2
Karena otak membutuhkan waktu sekitar 20 menit untuk menerima sinyal kenyang, orang yang makan cepat cenderung makan berlebihan sebelum merasa kenyang. Asupan berlebih ini dapat mendorong kenaikan kadar glukosa darah, meski hubungan langsung makan cepat dengan diabetes masih perlu penelitian lebih lanjut.
5. Berat badan naik
Respons kenyang yang lambat membuat seseorang terus makan sebelum sadar sudah kenyang. Dalam jangka panjang, asupan kalori berlebih inilah yang membuat berat badan bertambah.
Kabar baiknya, kebiasaan ini bisa diperbaiki. Makanlah dengan perlahan, kunyah makanan hingga benar-benar halus, dan beri jeda di antara suapan agar tubuh sempat mengirim sinyal kenyang ke otak.
Sumber: Antara
Tambahkan Intarta Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Topik
Ikuti Intarta di
Berita terkini setiap hari, langsung di beranda Facebook Anda.
intarta
Berita & Media
Komentar
Memuat…
Memuat komentar…
Berita Terkait

Daun Binahong, Tanaman Herbal yang Disebut Bantu Turunkan Kolesterol dan Cegah Diabetes

Bukan Sekadar Pencari Nafkah, Ini Sosok Ayah yang Diinginkan Alquran

Tes Usia Biologis Makin Populer, Seberapa Akurat Hasilnya?

MBG Dinilai Bisa Bantu Lahirkan Petinju Kelas Berat Masa Depan

Yunarto Wijaya: MBG dan Kopdes Merah Putih Tak Boleh Berjalan Pakai Insting

Diduga Keracunan MBG, 100 Anak Cirebon Dilarikan ke Rumah Sakit, Dapur SPPG Dibekukan
Berita Terkini
Lihat Semua
Keuskupan Agung New York Sepakat Bayar 800 Juta Dolar AS kepada Para Korban

Tembakan dari Mobil di Luar Arena Tinju Dekat Brisbane, Empat Orang Terluka

Udara Singapura Mulai Membaik, Tiga Wilayah Keluar dari Zona Tidak Sehat

Arab Saudi Tembak Jatuh Rudal Houthi ke Riyadh, Trump Isyaratkan Serangan ke Iran

