Terkini
TeknologiBerita

Tes Usia Biologis Makin Populer, Seberapa Akurat Hasilnya?

W

Oleh Redaksi Intarta

Minggu, 25 Okt 2026 15:02 WIB

Tes Usia Biologis Makin Populer, Seberapa Akurat Hasilnya?
Ilustrasi pemberitaan Intarta (Foto: Intarta/Redaksi Intarta)

Reading Comfort

Berapa usia Anda menurut akta kelahiran, dan berapa usia tubuh Anda sebenarnya? Pertanyaan sederhana itu kini dijawab oleh tes usia biologis — layanan yang mengklaim bisa memperkirakan seberapa cepat tubuh seseorang menua, lewat analisis sampel darah.

Tes semacam ini awalnya dirancang untuk penelitian laboratorium. Namun kini semakin banyak perusahaan kebugaran dan longevity yang menjualnya langsung ke konsumen dengan harga ratusan dolar, dengan janji mengungkap "usia sesungguhnya" tubuh. Para ahli menilai konsepnya menjanjikan, tetapi akurasi dan manfaatnya untuk pemakaian perorangan masih perlu dicermati.

Tiga Generasi Jam Biologis

Tes yang paling dikenal bekerja dengan membaca perubahan pada DNA yang disebut metilasi DNA — penanda yang memengaruhi aktif atau tidaknya suatu gen. Penemuan bahwa sebagian penanda ini berubah secara teratur seiring bertambahnya usia melahirkan jam Horvath pada 2013, yang dibuat oleh ahli genetika Steve Horvath dan dianggap sebagai tes usia biologis pertama.

Sejak itu lahir tiga generasi tes. Generasi pertama, seperti jam Horvath, memprediksi usia berdasarkan pola metilasi DNA. Generasi kedua, seperti PhenoAge dan GrimAge, mengaitkan penanda tersebut dengan risiko kematian relatif seseorang. Generasi ketiga, seperti DunedinPACE yang muncul pada 2022, mengukur seberapa cepat seseorang menua.

Para peneliti menggambarkannya dengan analogi mobil: generasi pertama dan kedua seperti odometer yang menunjukkan jarak tempuh, sedangkan generasi ketiga seperti speedometer yang menunjukkan kecepatan. Menurut Daniel Belsky dari Columbia University, pengembang DunedinPACE, jam generasi kedua dan ketiga terbukti lebih informatif untuk memprediksi kesehatan jangka panjang dan lebih peka terhadap perubahan gaya hidup maupun pengobatan.

Masih Ada Sejumlah Kelemahan

Meski begitu, para ahli mengingatkan sejumlah keterbatasan. Hasil tes bisa dipengaruhi hal-hal sepele seperti waktu pengambilan sampel, kapan terakhir makan, hingga kualitas tidur malam sebelumnya. Selain itu, tiap tes bisa memberi angka berbeda karena mengukur hal yang sedikit berbeda dan memakai kumpulan data pembanding yang tidak sama.

"Saya rasa orang tidak perlu terlalu terpaku pada angka yang mereka dapatkan," kata Morgan Levine, pengembang PhenoAge. Kelemahan lain, menurut Mohammad Arfan Ikram dari Erasmus Medical Center, tes ini tidak menjelaskan apa yang sebenarnya bermasalah di dalam tubuh dan bagaimana memperbaikinya — ibarat hanya tahu mobil sudah menempuh 100.000 mil, tanpa tahu rem, mesin, atau koplingnya yang akan rusak lebih dulu.

Masalah lainnya: sampel darah hanya menguji DNA sel darah putih, sehingga tidak menggambarkan kondisi sel otak, hati, atau pankreas. Untuk mengatasi hal ini, sebagian peneliti kini menguji ribuan protein dari berbagai jaringan tubuh — pendekatan yang dinilai lebih bermanfaat, tetapi lebih mahal dan belum tersedia luas untuk publik.

Kapan Tes Ini Berguna?

Di dunia penelitian, tes usia biologis sudah terbukti berguna untuk menilai dalam waktu singkat apakah suatu obat atau intervensi, misalnya suplemen atau pembatasan kalori, berpotensi memperlambat penuaan — sesuatu yang mustahil diketahui bila harus menunggu puluhan tahun. Tes ini juga dipakai untuk mengukur dampak pengalaman hidup, seperti kehamilan atau kehilangan orang tercinta, terhadap kesehatan.

Namun untuk konsumen, para ahli sepakat tes sekali pakai saat ini belum terlalu informatif. Manfaat yang lebih masuk akal adalah memakainya secara berkala dengan satu jenis tes yang sama, untuk melihat perubahan dari waktu ke waktu, misalnya setelah memulai obat atau rutinitas kesehatan baru.

Sebagai gantinya, Ikram menyarankan pemeriksaan standar di dokter, seperti kolesterol dan glukosa, yang memberi gambaran lebih jelas sekaligus menunjukkan hal yang bisa langsung ditangani. Pada akhirnya, tes usia biologis paling banter memberi gambaran kasar: orang yang berolahraga, makan seimbang, dan tidak merokok kemungkinan besar mendapat skor lebih rendah — dan itu pun sebenarnya sudah bisa diperkirakan tanpa tes.

Sumber: CNA

Tambahkan Intarta Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang

Topik

Ikuti Intarta di

Facebook

Berita terkini setiap hari, langsung di beranda Facebook Anda.

i

intarta

Berita & Media

Komentar

Memuat…

Memuat komentar…

Berita Terkait

Berita Terkini

Lihat Semua