Terkini
TeknologiBerita

IUCN Peringatkan: 96 Persen Terumbu Karang Dunia Terancam Runtuh pada 2075

W

Oleh Redaksi Intarta

Jumat, 23 Okt 2026 13:31 WIB

IUCN Peringatkan: 96 Persen Terumbu Karang Dunia Terancam Runtuh pada 2075
Ilustrasi pemberitaan Intarta (Foto: Intarta/Redaksi Intarta)

Reading Comfort

Hampir seluruh terumbu karang perairan dangkal di dunia menghadapi risiko runtuh yang sangat tinggi pada 2075, dengan perubahan iklim sebagai ancaman terbesar. Peringatan keras itu disampaikan International Union for Conservation of Nature (IUCN) pada Kamis (22/10/2026), dalam penilaian sistematis pertama terhadap 127 sistem terumbu karang tropis dan subtropis di dunia.

Hasilnya mengejutkan: 96 persen sistem terumbu karang tersebut dinyatakan berstatus kritis terancam punah (critically endangered), kategori risiko tertinggi dalam daftar IUCN. Terumbu karang perairan dangkal — ekosistem berwarna-warni yang hidup di kedalaman hingga sekitar 40 meter — merupakan rumah bagi keanekaragaman hayati laut yang luar biasa.

Sejumlah terumbu karang paling terkenal di dunia termasuk yang terdampak, antara lain Great Barrier Reef di Australia, Segitiga Terumbu Karang di Pasifik barat dan Asia Tenggara, Sistem Terumbu Mesoamerika di Karibia, serta terumbu karang di Laut Merah.

“Tekanan panas akibat perubahan iklim adalah ancaman paling konsisten yang mendorong penurunan terumbu karang di seluruh dunia,” demikian pernyataan IUCN saat mempresentasikan kajian tersebut di KTT Keanekaragaman Hayati PBB COP17 di Yerevan, Armenia.

Pemutihan Karang dan Tekanan Lokal

Karang sangat peka terhadap perubahan suhu. Ketika air laut terlalu panas, karang mengeluarkan alga kecil yang hidup di jaringannya — alga yang menjadi sumber utama makanannya. Kondisi yang dikenal sebagai pemutihan karang (coral bleaching) ini kerap berujung pada kematian karang.

Selain pemanasan laut, penangkapan ikan berlebihan juga menjadi ancaman besar, terutama penangkapan ikan kakatua (parrotfish) dan kerapu yang berperan menjaga keseimbangan ekosistem. Pembangunan pesisir, polusi, pariwisata, dan badai yang kian parah turut mempercepat kerusakan terumbu.

Ketika karang keras menghilang, strukturnya kerap digantikan alga, puing, dan spons — meninggalkan ekosistem yang kurang beragam dan tidak lagi menopang banyak spesies, mulai dari ikan karang, kerang, penyu laut, hingga hiu.

Masih Ada Jendela Aksi

Meski suram, IUCN menegaskan sebagian besar terumbu karang di dunia belum hilang. Tanpa memasukkan proyeksi perubahan iklim di masa depan dan hanya berdasarkan perubahan 50 tahun terakhir, hanya 24 persen yang akan masuk kategori kritis terancam punah.

“Ancaman perubahan iklim di masa depan sudah di depan mata dan sangat serius, dan itu menimbulkan risiko yang sangat tinggi bagi kelangsungan ekosistem ini,” kata Mishal Gudka, pimpinan ilmiah penilaian Daftar Merah Ekosistem Terumbu Karang IUCN.

Kajian IUCN menggunakan skenario “jalan tengah” dari panel iklim PBB (IPCC) yang memproyeksikan pemanasan global sekitar 2,7 derajat Celsius di atas level pra-industri pada 2100. Munculnya fenomena El Nino “super” tahun ini juga disebut menambah risiko bagi karang.

“Ini memberi kita jendela aksi yang kritis untuk meningkatkan upaya konservasi dan aksi iklim guna mencegah hasil terburuk terjadi,” ujar Gudka.
“Belum terlambat untuk memberi terumbu karang kesempatan pulih,” kata Direktur Jenderal IUCN Grethel Aguilar. “Kita tahu apa yang dibutuhkan: pengurangan emisi yang ambisius, upaya perlindungan dan restorasi yang lebih kuat, serta investasi berkelanjutan pada ekosistem pesisir yang tangguh dan masyarakat yang bergantung padanya.”

Sumber: DW News

Tambahkan Intarta Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang

Topik

Ikuti Intarta di

Facebook

Berita terkini setiap hari, langsung di beranda Facebook Anda.

i

intarta

Berita & Media

Komentar

Memuat…

Memuat komentar…

Berita Terkait

Berita Terkini

Lihat Semua