EkonomiBerita

Gaji Pas-pasan, Mimpi Rumah Sendiri: Masih Mungkinkah Dikejar?

Redaksi Intarta

Oleh

Gaji Pas-pasan, Mimpi Rumah Sendiri: Masih Mungkinkah Dikejar?
Ilustrasi pemberitaan Intarta (Foto: Intarta/Redaksi Intarta)

Reading Comfort

Bagi banyak pekerja bergaji minimum, pertanyaan tentang rumah sendiri terasa semakin berat. Setiap pagi berangkat kerja dengan pikiran yang sama: kapan bisa punya tempat tinggal yang benar-benar milik sendiri, bukan sekadar kamar kos atau kontrakan yang sewanya terus berjalan?

Rumah bukan sekadar bangunan. Ia adalah simbol stabilitas, tempat menaruh lelah setelah seharian bekerja, dan rasa aman bahwa ada tempat untuk pulang. Sayangnya, rasa aman itu kini dibanderol dengan harga yang terasa makin jauh dari jangkauan.

Baca Juga:Gaji Selalu Habis Sebelum Akhir Bulan? Ini 6 Cara Menabung yang Masih Masuk Akal

Jurang Angka yang Terus Melebar

Dalam video tersebut dipaparkan gambaran yang gamblang. Gaji minimum di ibu kota pada 2025 disebut sekitar Rp5,06 juta per bulan, naik sekitar 3,3 persen dari tahun sebelumnya yang sekitar Rp4,9 juta. Sementara itu harga rumah tapak disebut naik rata-rata 7 hingga 10 persen per tahun dalam satu dekade terakhir, sedangkan kenaikan gaji minimum hanya sekitar 3 hingga 5 persen per tahun.

Perbandingannya terasa timpang. Rumah tapak rata-rata sudah di atas Rp1 miliar, rumah sederhana di pinggiran sering menembus Rp600 hingga Rp800 juta, dan apartemen studio seluas 21 meter persegi bisa berharga Rp400 hingga Rp500 juta. Uang muka 10 persen saja untuk rumah seharga Rp600 juta sudah Rp60 juta, belum biaya notaris, pajak, dan biaya KPR. Cicilannya pun bisa mencapai Rp4 hingga Rp5 juta per bulan selama 15 hingga 20 tahun — nyaris sebesar gaji sebulan penuh.

Baca Juga:Bukan Besarnya Gaji, tapi Cara Menyimpan: Lima Kebiasaan yang Membuat Uang Terus Bekerja

Hitungan sederhananya begini: dari gaji Rp5 juta, setelah dipotong kontrakan Rp1 juta, makan Rp2 juta, serta transport dan pulsa Rp1 juta, tersisa sekitar Rp1 juta. Bila disiplin menabung tanpa putus selama setahun, terkumpul Rp12 juta, dan dalam lima tahun menjadi Rp60 juta — baru cukup untuk uang muka, belum cicilan yang menanti. Rasio harga rumah terhadap pendapatan tahunan pun disebut bisa mencapai 20 hingga 25 kali, jauh di atas rasio di beberapa negara lain yang sekitar lima hingga enam kali.

Bukan Sekadar Soal Uang

Di balik angka-angka itu ada tekanan yang lebih halus: tekanan sosial. Unggahan teman seangkatan yang sudah mengambil rumah pertama membuat banyak orang membuka kalkulator dan membandingkan diri sendiri. Gaya hidup pun ikut naik tanpa sadar — kopi puluhan ribu setiap pagi, langganan berbagai platform hiburan, gawai yang diganti tiap dua tahun — padahal semuanya dibayar dari penghasilan yang sama.

Ada pula siklus yang melelahkan: gajian datang, lalu hilang untuk tagihan, transport, makan, dan sesekali pelarian kecil seperti belanja daring atau makan enak. Bukan karena boros semata, melainkan karena setelah bekerja berjam-jam, orang hanya ingin merasa hidup. Di sinilah perang paling berat terjadi, antara gengsi dan kebutuhan, antara keinginan tampil mapan dan kenyataan saldo yang tipis.

Strategi yang Masih Masuk Akal

Meski begitu, video tersebut menegaskan bahwa menyerah bukanlah jawaban. Langkah pertama bukan langsung berhemat membabi buta, melainkan mencatat. Catat semua pengeluaran selama sebulan penuh, termasuk yang receh, lalu pilah menjadi kebutuhan dasar, kebutuhan fungsional, dan kebutuhan emosional. Dengan gaji sekitar Rp5 juta, pola yang disarankan adalah 60 persen untuk kebutuhan hidup, 30 persen untuk tabungan dan investasi, serta 10 persen untuk hiburan.

Langkah kedua, ubah urutannya: menabung di awal, bukan dari sisa. Begitu gajian masuk, langsung sisihkan minimal 10 hingga 20 persen ke rekening terpisah yang tidak memakai kartu ATM agar tidak tergoda. Menyisihkan Rp500 ribu per bulan selama lima tahun saja sudah menghasilkan Rp30 juta, belum termasuk bunga atau hasil investasi ringan — sebuah fondasi, bukan sekadar wacana.

Langkah berikutnya adalah penghasilan tambahan dan peningkatan keterampilan. Pekerjaan lepas seperti menulis, desain, penyuntingan video, menjadi tutor, atau admin media sosial disebut bisa menambah Rp500 ribu hingga Rp1 juta per bulan. Setelah dana darurat minimal tiga kali pengeluaran bulanan terkumpul, uang bisa mulai bekerja lewat instrumen ringan seperti reksa dana pasar uang dengan imbal hasil sekitar 4 hingga 6 persen per tahun. Sebaliknya, utang konsumtif seperti pinjaman daring dan cicilan gawai perlu dihindari, karena ia mencuri masa depan sedikit demi sedikit.

Jalur Alternatif Menuju Hunian Sendiri

Bila membeli rumah di tengah kota terasa nyaris mustahil, ada jalur memutar yang lebih realistis. Pertama, KPR subsidi lewat program FLPP yang diperuntukkan bagi pekerja bergaji maksimal Rp8 juta per bulan, dengan bunga tetap sekitar 5 persen per tahun — jauh di bawah KPR komersial yang bisa 10 hingga 12 persen. Rumah subsidi tipe 36 di kawasan penyangga masih ada di kisaran Rp180 hingga Rp250 juta, dengan uang muka sekitar Rp18 hingga Rp25 juta dan cicilan Rp1,2 hingga Rp1,8 juta per bulan, tergantung tenor.

Kedua, investasi tanah di pinggiran. Harga tanah di kawasan berkembang disebut mulai dari Rp1 hingga Rp1,5 juta per meter persegi, bisa dibeli dalam bentuk kapling kecil bahkan dengan cicilan dari pengembang lokal, lalu nilainya dibiarkan tumbuh sebelum dibangun. Ketiga, gaya hidup minimalis — bukan pelit, melainkan efisien: memakai barang yang benar-benar dibutuhkan dan menahan dorongan konsumsi yang tak sadar. Keempat, hunian berbagi atau co-living yang sewanya lebih murah daripada apartemen, sehingga selisihnya bisa dialihkan ke tabungan.

Dan kelima, cara pandang yang perlu diluruskan: menyewa bukan berarti kalah. Menyewa murah sambil tetap menabung 20 persen dari penghasilan adalah strategi waktu yang sah, bukan kegagalan. Bagi banyak keluarga di kota besar, stabilitas keuangan jauh lebih menentukan daripada sertifikat yang dipaksakan dengan cicilan mencekik.

Pada akhirnya, membeli rumah dengan gaji minimum memang bukan jalan yang lurus. Ia menuntut keberanian mendefinisikan ulang arti rumah: bukan selalu bangunan besar di lokasi idaman, melainkan tempat yang memberi rasa aman dan dibangun perlahan dari kebiasaan kecil yang diulang setiap bulan. Rumah besar dimulai dari langkah kecil — dan langkah kecil itu bisa dimulai hari ini, tanpa menunggu gaji naik atau harga turun.

Tambahkan Intarta Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang →

Topik

i

intarta

Berita & Media

Diskusi

Memuat…

Memuat komentar…

Berita Terkait

Berita Terkini

Lihat Semua