Gaji Pas-pasan, Sewa Melangit: Guru-guru Terjepit Krisis Biaya Hidup
Oleh

Reading Comfort
adjust the font size
Guru-guru di kota termahal di Italia kini kesulitan bertahan. Biaya hidup dan sewa tempat tinggal melonjak, sementara gaji mereka tidak berbeda dari guru di daerah lain di negara itu.
Mengutip data konsultan pendidikan Docenti.it, gaji guru di Italia berkisar 1.350 hingga 2.000 euro per bulan. Di sisi lain, data portal properti Idealista menunjukkan rata-rata sewa kamar di Milan mencapai sekitar 700 euro per bulan. Artinya, sewa saja bisa menghabiskan sepertiga hingga setengah penghasilan seorang guru.
Baca Juga:Gaji Selalu Habis Sebelum Akhir Bulan? Ini 6 Cara Menabung yang Masih Masuk AkalRibuan posisi kosong, guru enggan melamar
Kondisi ini membuat banyak guru enggan melamar pekerjaan di kota tersebut. Sebagian lainnya bahkan mengajukan mutasi setelah diterima bekerja. Data serikat pekerja CISL mencatat sekitar 4.300 posisi guru tersedia di wilayah metropolitan Milan menjelang tahun ajaran baru, tertinggi di Italia dari total 37.000 lowongan secara nasional. Namun, sekitar seperlima posisi itu masih belum terisi.
Stagnasi upah yang lebih luas
Persoalan ini mencerminkan masalah yang lebih besar: stagnasi upah. Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) mencatat upah riil Italia setelah disesuaikan inflasi kini lebih rendah dibandingkan 1990. Italia menjadi satu-satunya negara dari lebih 20 negara maju yang mengalami penurunan tersebut.
Data Eurostat juga menunjukkan Italia mengalami penurunan daya beli terbesar di Uni Eropa dalam lima tahun terakhir. Ketidakpuasan atas mahalnya biaya hidup memicu rencana demonstrasi dan pemogokan yang dipimpin serikat pekerja USB pada Jumat (30/10/2026), untuk memprotes kenaikan biaya hidup, rendahnya upah, serta penurunan kualitas layanan publik. Ketegangan itu bahkan sempat berujung kerusuhan di Milan bulan ini.
Konteks bagi pembaca di Indonesia
Ceritanya terasa dekat dengan Indonesia. Di kota-kota besar, guru — terutama guru honorer dan guru muda — juga menghadapi sewa kos dan biaya hidup yang naik lebih cepat dari penghasilan. Bedanya, di Indonesia tunjangan dan insentif daerah masih timpang antarwilayah, sehingga penempatan di kota mahal tanpa dukungan hunian atau transportasi yang memadai berisiko menimbulkan kekosongan guru yang sama.
Dampaknya langsung ke ruang kelas: posisi kosong berarti beban mengajar menumpuk pada guru yang tersisa, kualitas pembelajaran menurun, dan pergantian guru yang tinggi mengganggu keberlanjutan pendampingan siswa. Langkah berikutnya yang patut ditunggu adalah apakah pemerintah setempat memberi tunjangan khusus kota mahal, bantuan hunian, atau penyesuaian gaji — sebab tanpa itu, krisis rekrutmen guru diperkirakan terus berulang setiap tahun ajaran baru.
Sumber: CNBC Indonesia
Tambahkan Intarta Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Topik
intarta
Berita & Media
Diskusi
Memuat…
Memuat komentar…
Berita Terkait

Gaji Selalu Habis Sebelum Akhir Bulan? Ini 6 Cara Menabung yang Masih Masuk Akal

Ribuan Anak Muda Turun ke Jalan Menuntut Dana Pendidikan dan Biaya Hidup Lebih Terjangkau

Dari Kerja Layak hingga Guru Sejahtera, Ini Gagasan untuk Indonesia Besok

Gaji Pas-pasan, Mimpi Rumah Sendiri: Masih Mungkinkah Dikejar?

Puluhan Ribu Mahasiswa dan Pekerja Italia Turun ke Jalan Tuntut Biaya Hidup Lebih Ringan

Gegara Tersinggung Mimik Wajah, 21 Siswa Keroyok Adik Kelas di SMAN 1 Gorontalo
Berita Terkini
Lihat Semua
Gaji Selalu Habis Sebelum Akhir Bulan? Ini 6 Penyebab yang Jarang Disadari

Bukan Dompetnya yang Bermasalah, Ini 5 Pola Pikir yang Membuat Keuangan Sulit Berubah

Gaji Selalu Habis Sebelum Akhir Bulan? Ini 6 Cara Menabung yang Masih Masuk Akal

Bukan Besarnya Gaji, tapi Cara Menyimpan: Lima Kebiasaan yang Membuat Uang Terus Bekerja

