FinansialBerita

Gaji Selalu Habis Sebelum Akhir Bulan? Ini 6 Cara Menabung yang Masih Masuk Akal

Redaksi Intarta

Oleh

Gaji Selalu Habis Sebelum Akhir Bulan? Ini 6 Cara Menabung yang Masih Masuk Akal
Ilustrasi pemberitaan Intarta (Foto: Intarta/Redaksi Intarta)

Reading Comfort

Pernah merasa gaji hanya numpang lewat? Baru masuk rekening, beberapa hari kemudian saldonya tinggal angka ganjil setelah dipakai membayar sewa tempat tinggal, listrik, bensin, makan, dan pulsa. Keluhan ini bukan sekadar perasaan: menurut data yang dibahas dalam video tersebut, rata-rata pengeluaran per kapita di kota besar sudah menembus 1,6 juta rupiah per bulan pada 2024, sementara banyak pekerja muda berpenghasilan sekitar 3-4 juta rupiah.

Survei Bank Indonesia tahun 2024 yang dikutip dalam video itu menyebut lebih dari 60 persen pekerja muda merasa penghasilannya belum cukup untuk kebutuhan dasar setiap bulan. Rinciannya terasa nyata: sewa tempat tinggal 1,5 sampai 2 juta rupiah, makan 1,2 juta rupiah, transportasi sekitar 500 ribu rupiah, ditambah internet dan kebutuhan kecil lain sekitar 400 ribu rupiah. Sisa yang tersisa kadang tidak sampai satu juta rupiah.

Baca Juga:Gaji Naik tapi Tabungan Tetap Segitu? Lima Kebiasaan Sederhana Ini Bisa Mengubahnya

Ubah Dulu Cara Memandang Uang

Menurut survei Otoritas Jasa Keuangan tahun 2024, hanya sekitar 38 persen anak muda usia 20-30 tahun yang punya tabungan tetap. Menariknya, sebagian besar dari mereka yang belum menabung bukan semata karena tidak punya uang, melainkan karena tidak punya rencana yang jelas ke mana uang itu harus pergi.

Pesan kuncinya sederhana: menabung bukan sisa dari pengeluaran, melainkan pengeluaran yang direncanakan. Tidak harus mulai besar, bahkan 2 persen dari gaji pun berarti bila konsisten, karena yang dilatih adalah kebiasaan menahan diri, bukan sekadar angka di rekening.

Baca Juga:Sepuluh Ribu Sehari, Jalan Pelan Menuju Tabungan yang Terasa

Tekanan itu makin berat karena banyak pekerja muda juga membantu keluarga. Survei Katadata Insight Center tahun 2023 menyebut sekitar 35 persen pekerja muda masih menyisihkan sebagian gajinya untuk rumah. Di tengah perbandingan gaya hidup di media sosial, penting berhenti membandingkan diri dengan orang lain dan menetapkan ekspektasi yang lebih realistis.

Enam Cara Realistis yang Bisa Dicoba

Pertama, catat arus uang agar tidak kaget sendiri. Cukup memakai catatan di ponsel: hari ini keluar untuk apa, berapa, dan kenapa. Menurut survei Lifepal tahun 2023, orang yang rutin mencatat pengeluaran bisa hemat 10-15 persen lebih banyak per bulan, karena kebocoran kecil seperti jajan daring, langganan aplikasi, dan kopi nongkrong jadi terlihat polanya.
Kedua, gunakan metode amplop atau rekening terpisah. Begitu gaji masuk, langsung bagi ke beberapa kantong, misalnya 50 persen kebutuhan pokok, 30 persen keperluan pribadi, 15 persen tabungan atau dana darurat, dan 5 persen sosial atau hiburan. Proporsinya bisa disesuaikan, yang penting uang tabungan tidak tercampur dengan uang belanja.
Ketiga, bedakan kebutuhan dan keinginan dengan jeda 24 jam. Setiap kali ingin membeli sesuatu yang tidak mendesak, tahan dulu sehari. Bila esok hari masih terasa butuh, itu kebutuhan; bila tidak, itu dorongan sesaat. Sebagian besar belanja impulsif dipicu emosi seperti stres, bosan, atau keinginan memberi hadiah pada diri sendiri.
Keempat, manfaatkan diskon tanpa menjadi korbannya. Promo hanya dipakai untuk barang yang memang sudah direncanakan dibeli, dengan batas yang ditentukan sejak awal. Data Jakpat 2024 yang dikutip dalam video menyebut 67 persen responden sering belanja daring karena promo, tetapi 58 persen di antaranya menyesal seminggu kemudian karena sadar barangnya tidak penting.
Kelima, cari tambahan kecil yang realistis, bukan keajaiban besar. Menjual keahlian, pekerjaan lepas, menjual barang bekas, atau membantu pekerjaan kecil di waktu luang bisa menambah ruang gerak. Laporan McKinsey 2024 menyebut sekitar 27 persen pekerja muda di Asia Tenggara punya penghasilan tambahan kecil yang membantu mereka menabung 10-20 persen lebih banyak tiap bulan.
Keenam, bangun kebiasaan kecil yang konsisten: selalu menyimpan kembalian, tidak langsung mengambil semua uang di ATM, atau mengatur transfer otomatis 50 ribu rupiah tiap awal bulan ke rekening terpisah. Kebiasaan kecil inilah yang perlahan membentuk otak untuk melihat menabung bukan sebagai beban, melainkan rutinitas.

Dampaknya Bagi Pembaca di Sini

Bagi pembaca di tanah air, pelajaran ini relevan karena biaya hidup di kota besar terus menekan, sementara tanggung jawab kepada keluarga sering kali tidak bisa ditawar. Tanpa tabungan, satu kejadian darurat saja, seperti kendaraan rusak, anggota keluarga sakit, atau mendadak harus pindah kerja, bisa langsung mengacaukan keuangan.

Sebaliknya, mereka yang punya dana darurat merasa lebih tenang dan lebih berani mengambil keputusan, seperti pindah kerja, memulai usaha kecil, atau membantu keluarga tanpa menunggu waktu yang tepat. Menurut OJK 2024, hanya sekitar 30 persen anak muda yang punya dana darurat, tetapi mayoritas dari mereka merasa lebih siap menghadapi kejutan hidup.

Menabung dengan penghasilan terbatas bukan soal menjadi kaya lebih cepat, melainkan soal panik lebih jarang. Tidak harus berhenti menikmati hal-hal kecil, seperti kopi sore atau makan bersama teman, asal batas dan tujuannya jelas. Yang penting, mulai sekarang, sedikit pun berarti, asal jalan terus.

Tambahkan Intarta Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang →

Topik

i

intarta

Berita & Media

Diskusi

Memuat…

Memuat komentar…

Berita Terkait

Berita Terkini

Lihat Semua