Protes Prancis Disebut Ledakan Kebencian terhadap Macron
Oleh Redaksi Intarta
Selasa, 20 Okt 2026 18:45 WIB

Reading Comfort
adjust the font size
Aksi protes di Prancis disebut sebagai "ledakan kebencian" terhadap Presiden Emmanuel Macron. Juru bicara serikat mahasiswa Prancis Alice Cohen-Morzadec mengatakan protes pendidikan di sana mencerminkan kemarahan yang kian membesar atas kebijakan Macron yang membuat para pelajar hidup dalam kemiskinan dan ketidakpastian tempat tinggal.
Aksi yang bermula September 2026, ketika siswa SMA memblokade sekolah-sekolah untuk memprotes kelas yang penuh sesak, kekurangan guru, fasilitas yang rusak, dan sistem penerimaan universitas yang dinilai tidak adil, kini telah meluas menjadi gerakan nasional.
Baca Juga:
Prancis Terbakar Amarah: Demo Biaya Hidup Bakar Balai Kota Berusia 140 Tahun, 1.200 DitangkapSetengah Juta Turun ke Jalan
Mobilisasi puncak terjadi Sabtu, 17 Oktober, ketika sekitar 550.000 orang turun ke jalan di seluruh Prancis menurut Kementerian Dalam Negeri. Guru, orang tua, serikat pekerja, petani, dan kelompok lain bergabung, menuntut perbaikan biaya hidup, harga bahan bakar, layanan publik, kesehatan, perumahan, dan kesejahteraan.
Meski sebagian besar aksi damai, kekerasan pecah di sejumlah kota. Di Limoges, massa membakar balai kota bersejarah. Toko-toko dijarah di Paris dan kota-kota lain. Otoritas mencatat sekitar 2.000–2.400 penangkapan dan ribuan usaha rusak atau dijarah. Sekitar 60.000 polisi dan aparat keamanan dikerahkan.
Macron Tolak Mundur
Presiden Macron mengakui kegagalan perencanaan dan intelijen, menolak pengunduran diri Menteri Dalam Negeri Laurent Nuñez, dan memerintahkan peninjauan metode kepolisian. Serikat mahasiswa Union Étudiante mengecam Macron yang tidak menyebut satu pun kata soal pelajar yang terluka dalam penindakan, serta menuntut respons konkret: pendapatan, perumahan, layanan makanan, kesehatan, kondisi belajar, akses gelar, dan penghentian represi.
Perdana Menteri Sébastien Lecornu menyalahkan kelompok kiri atas kekacauan — klaim yang ditolak kubu oposisi, yang menuding pemerintah justru menyiapkan kekacauan lewat ketidakmampuan menangani keuangan publik.
Gelombang protes serupa juga melanda Spanyol, Portugal, Italia, Belgia, dan Albania dengan pemicu berbeda — perumahan, pekerjaan, pendidikan, korupsi, dan biaya hidup — namun menyuarakan pertanyaan yang sama: mengapa rakyat biasa yang harus menanggung beban kebijakan ekonomi.
Sumber: Al Jazeera
Tambahkan Intarta Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Topik
Komentar
Memuat…
Memuat komentar…
Berita Terkait

Prancis Terbakar Amarah: Demo Biaya Hidup Bakar Balai Kota Berusia 140 Tahun, 1.200 Ditangkap

Mahasiswa Blokade Museum Louvre sebagai Solidaritas Gerakan Protes

Gelombang Protes Biaya Hidup di Prancis Menyebar ke Sejumlah Negara Eropa

Macron Bawa Pulang Komitmen 200.000 Ton Solar dari Tur Teluk

Amarah Warga Eropa Pecah: Demo Biaya Hidup Meluas dari Prancis ke Italia, Belgia, hingga Portugal

Demo Biaya Hidup di Perancis Ricuh, Toko-toko Paris Dijarah Massa
Berita Terkini
Lihat Semua
Serangan Drone Hantam Pasar Ramai di Abyei, Sedikitnya 153 Orang Tewas

Mahasiswa Turun ke Jalan, Tagih Lima Tuntutan di Dua Tahun Prabowo-Gibran

Diduga Intimidasi Mahasiswa Usai Demo Karhutla, Ajudan Gubernur Kaltim Terancam Sanksi

Kabut Asap Kembali Mengepung Palembang, Kualitas Udara Sentuh Level Berbahaya

