Terkini
PolitikBerita

Refleksi Hari Santri 2026: Menjaga Kedalaman Ilmu Pesantren di Era Kecerdasan Buatan

W

Oleh Redaksi Intarta

Kamis, 22 Okt 2026 10:30 WIB

Refleksi Hari Santri 2026: Menjaga Kedalaman Ilmu Pesantren di Era Kecerdasan Buatan
Ilustrasi pemberitaan Intarta (Foto: Intarta/Redaksi Intarta)

Reading Comfort

Sejarah Hari Santri tidak dapat dilepaskan dari peran Nahdlatul Ulama (NU) dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Demikian disampaikan KH. Nurul Badruttamam, Ketua Yayasan Ma'hadul Islam Mardhotillah Jakarta sekaligus Sekretaris Lembaga Dakwah PBNU 2022-2027, dalam refleksi Hari Santri Nasional 2026.

Pada 22 Oktober 1945, para ulama NU mengeluarkan Resolusi Jihad yang menyerukan perjuangan mempertahankan Republik Indonesia dari ancaman kembalinya kolonialisme. Seruan berakar pandangan keagamaan itu menegaskan membela tanah air merupakan bagian tanggung jawab umat — semangat yang kemudian menjadi landasan historis peringatan Hari Santri Nasional, yang ditetapkan pemerintah setiap 22 Oktober melalui Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015.

Sejarah Bukan Sekadar Seremoni

Namun, menurut KH. Nurul Badruttamam, sejarah tidak seharusnya hanya menjadi ingatan yang dirawat melalui seremoni. Sejarah mesti menjadi sumber inspirasi untuk membaca tantangan zaman dan menentukan bentuk pengabdian berikutnya.

Pada Hari Santri Nasional 2026 yang bertema "Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas", tantangan pendidikan santri terus berkembang seiring perubahan zaman. Berbagai inisiatif penguatan literasi digital telah mulai dikembangkan, namun ikhtiar ini perlu terus diperluas agar kecakapan digital tidak hanya menjadi program sesaat, melainkan bagian berkelanjutan dari proses pendidikan pesantren.

Siapa Mendidik Santri di Era Digital?

Pertanyaan yang layak diajukan, tulisnya: siapakah yang mendidik santri ketika sebagian ruang belajar, ruang pergaulan, bahkan ruang pembentukan pendapat mereka telah berpindah ke dunia digital?

"Pertanyaan ini bukan untuk mempertentangkan kitab kuning dengan algoritma. Justru sebaliknya, kita perlu memastikan bahwa kedalaman tradisi keilmuan pesantren tetap menjadi kekuatan ketika santri memasuki dunia yang semakin dipengaruhi teknologi, kecerdasan buatan, dan arus informasi tanpa batas."

Di sinilah pentingnya membangun sinergi antara pemerintah, pengasuh pesantren, keluarga, dan penyelenggara teknologi — agar santri mampu memanfaatkan kemajuan digital tanpa kehilangan kedalaman ilmu dan keluhuran akhlak.

Sumber: Republika

Tambahkan Intarta Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang

Topik

Komentar

Memuat…

Memuat komentar…

Berita Terkait

Berita Terkini

Lihat Semua