Airlangga Bidik Rp150 Triliun yang 'Lari' ke Luar Negeri Lewat Pasien Berobat
Oleh Redaksi Intarta
Kamis, 22 Okt 2026 08:42 WIB

Reading Comfort
adjust the font size
Pemerintah tengah membidik dana jumbo yang selama ini mengalir ke luar negeri akibat kebiasaan masyarakat Indonesia berobat di luar negeri. Nilai yang dibidik mencapai Rp150 triliun, dan diharapkan kembali masuk ke kas negara lewat kawasan ekonomi khusus (KEK) di sektor kesehatan.
Target tersebut diungkapkan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto kepada awak media di kantornya, Rabu (21/10/2026). Menurutnya, potensi devisa yang keluar itu berasal dari sekitar 2 juta pasien asal Indonesia yang memilih pengobatan dan perawatan di fasilitas kesehatan luar negeri.
“Ini punya potensi untuk substitusi kepada orang Indonesia yang berobat di luar negeri, itu pengeluarannya sekitar Rp150 triliun. Ini yang bisa kita substitusi dengan KEK yang ada,” ujar Airlangga.
Tiga KEK Kesehatan Jadi Andalan
Saat ini Indonesia sudah memiliki tiga KEK sektor kesehatan, yaitu KEK Sanur, KEK Edukasi, Teknologi, dan Kesehatan Internasional Banten, serta KEK Pariwisata dan Kesehatan Internasional Batam. Kawasan-kawasan itu diharapkan mampu menampung pasien dalam negeri yang selama ini berobat ke luar negeri.
Tak hanya menahan arus keluar, pemerintah juga menargetkan menarik devisa masuk. Pemerintah mematok target Rp200 triliun dari 1,25 juta pasien internasional, dengan asumsi rata-rata pengeluaran Rp160 juta per pasien. KEK Sanur menjadi ujung tombak dengan menyasar pasar Australia, Singapura, Malaysia, Korea Selatan, Jepang, negara-negara Eropa dan Amerika Utara, hingga Timur Tengah.
Tiga Dampak Pengembangan KEK Kesehatan
Kedua, investasi di industri kesehatan. Pemerintah akan mengundang investor memproduksi alat kesehatan dan obat-obatan yang selama ini tidak diproduksi di dalam negeri. Ketiga, peralihan pengetahuan dari dokter asing ke dokter dalam negeri.
“Kita sudah menerbitkan surat izin praktik untuk dokter asing di wilayah KEK. Dengan begitu peralihan pengetahuan dari dokter asing bisa pindah ke dokter kita, sehingga nantinya dokter kita bisa mandiri melakukan pelayanan bertaraf internasional,” ujar Dante.
Sumber: CNBC Indonesia
Tambahkan Intarta Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Topik
Komentar
Memuat…
Memuat komentar…
Berita Terkait

Wacana HP Gratis Dikritik: Ekonom UGM Sebut Bisa Sedot APBN hingga Rp74 Triliun

Ekonom Khawatir Gaji ASN Lewat Kopdes Merah Putih Macet dan Ganggu Likuiditas BPD

IHSG Melesat 5,65 Persen ke 5.278, Transaksi Tembus Rp26,4 Triliun

Kasus Ebola di Kenya Capai Sembilan, Nigeria Konfirmasi Kasus Pertama

Peringatan Keras untuk Perusahaan Pembakar Hutan: Pemerintah Tak Akan Segan Bertindak

Wali Kota Sabang Ajak Warga Pakai Produk UMKM Lokal: "Kenapa Harus Jahit di Luar Sabang?"
Berita Terkini
Lihat Semua
Washington-Tel Aviv Kabarnya Matangkan Serangan ke Iran Usai Pemilu AS

Yunarto Wijaya: MBG dan Kopdes Merah Putih Tak Boleh Berjalan Pakai Insting

Isu Shadowban Konten Karhutla di Medsos, Meutya Hafid: Komdigi Tak Pernah Minta Diturunkan

Gegara Tersinggung Mimik Wajah, 21 Siswa Keroyok Adik Kelas di SMAN 1 Gorontalo

