Terkini
PolitikBerita

Terancam Serangan Houthi, AS Tarik Sebagian Pasukan dan Diplomat dari Timur Tengah

W

Oleh Redaksi Intarta

Kamis, 22 Okt 2026 10:28 WIB

Terancam Serangan Houthi, AS Tarik Sebagian Pasukan dan Diplomat dari Timur Tengah
Ilustrasi pemberitaan Intarta (Foto: Intarta/Redaksi Intarta)

Reading Comfort

Amerika Serikat dilaporkan mulai mengurangi kehadiran personel militernya di sejumlah pangkalan di Timur Tengah. Pada saat yang sama, pemerintah AS memerintahkan sejumlah diplomat nonesensial beserta keluarga mereka meninggalkan Arab Saudi.
NBC News melaporkan pengurangan personel militer AS tersebut dengan mengutip dua pejabat AS. Departemen Luar Negeri AS juga mengambil langkah mengurangi jumlah personel di sejumlah perwakilan diplomatik di kawasan itu.

Ancaman Houthi Meningkat

Langkah itu diambil di tengah meningkatnya ancaman keamanan dan kekhawatiran meluasnya konflik di Timur Tengah. Reuters melaporkan pada Rabu (21/10/2026), Departemen Luar Negeri AS telah memerintahkan pegawai pemerintah nonesensial dan anggota keluarga mereka meninggalkan Arab Saudi.

Juru bicara Departemen Luar Negeri AS Tommy Pigott menyatakan perintah itu diambil menyusul meningkatnya ancaman serangan kelompok Houthi yang didukung Iran terhadap sasaran sipil dan infrastruktur penting di Arab Saudi.

"Kelompok Houthi yang didukung Iran semakin meningkatkan permusuhan terhadap Arab Saudi, termasuk serangan terhadap bandara sipil dan infrastruktur penting lainnya yang mengakibatkan korban sipil serta gangguan perjalanan yang serius," demikian pernyataan Pigott sebagaimana dikutip Reuters.

Serangan Tewaskan Warga Sipil

Situasi keamanan di Arab Saudi memburuk setelah serangkaian serangan menyasar fasilitas penting. Otoritas setempat melaporkan serangan di Bandara Internasional King Fahd di Dammam yang menewaskan satu orang dan melukai delapan lainnya.

Sebelumnya, Kementerian Energi Arab Saudi melaporkan dua orang tewas setelah pertahanan udara mencegat sebuah drone yang berupaya menyerang fasilitas di ladang minyak Shaybah milik Saudi Aramco.

Serangan-serangan itu menambah kekhawatiran terhadap keselamatan warga sipil, personel asing, serta kelangsungan operasional fasilitas strategis di kawasan Teluk. Namun, pengurangan personel militer AS tersebut tidak dengan sendirinya menunjukkan bahwa Washington telah memutuskan melancarkan operasi militer baru.

Sumber: Republika

Tambahkan Intarta Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang

Topik

Komentar

Memuat…

Memuat komentar…

Berita Terkait

Berita Terkini

Lihat Semua