Syuting di Hutan Bali, Film Perang Malaysia Ini Libatkan Kru dan Pemain Indonesia
Oleh Redaksi Intarta
Minggu, 25 Okt 2026 15:51 WIB

Reading Comfort
adjust the font size
Film drama perang sejarah The Ghost and the Gun atau Peluru Senja ternyata diproduksi sepenuhnya di Bali, Indonesia. Film yang mengangkat kisah konflik di Malaya pada 1948 ini melibatkan kru dan aktor Indonesia, termasuk aktris Asmara Abigail.
14 Set Malaysia 1948 Dibangun di Bali
"Kami menyadari 70 persen film ini berada di hutan. Kami punya hutan," ujar Bo dalam konferensi pers dan penayangan perdana film tersebut di Jakarta, Jumat malam (23/10/2026). "Kami membangun 14 set Malaysia tahun 1948. Semuanya dalam jarak yang sangat pendek dari studio."
Proses pengambilan gambar berlangsung selama 26 hari, dengan sebagian besar adegan dilakukan di kawasan hutan. Asisten sutradara Richo Dharma menjelaskan, syuting berlangsung saat musim hujan, padahal cerita awalnya tidak menggambarkan kondisi hujan sehingga sejumlah adegan harus disesuaikan.
Selain memanfaatkan alam Bali, produksi ini juga melibatkan tenaga profesional Indonesia untuk pekerjaan teknis, mulai dari kamera, pencahayaan, hingga tata suara. Sementara itu, proses pascaproduksi dilakukan di Malaysia dan Inggris, dengan melibatkan pemain dan pekerja film dari sejumlah negara.
Kisah Dua Veteran yang Melindungi Desa
Film yang disutradarai Anshul Tiwari ini mengambil latar Malaya pada 1948, ketika wilayah tersebut masih berada di bawah kekuasaan Inggris dan menghadapi konflik bersenjata. Ceritanya berpusat pada dua veteran Perang Dunia II, seorang tentara Malaya dan seorang tentara Inggris, yang terpaksa bekerja sama melindungi sebuah desa dari ancaman kelompok bersenjata.
Namun film ini tidak hanya berfokus pada pertempuran. Kisahnya juga menggambarkan trauma perang, hubungan antarmanusia, serta konflik yang muncul di tengah perubahan politik. Pendekatannya lebih menekankan sisi manusiawi konflik, bukan sekadar adegan perang yang megah.
Pemain Indonesia Fasih Berdialek Pahang
Film ini dibintangi aktor Malaysia Hazman Al Idrus dan Fabian Loo, serta aktris Indonesia Asmara Abigail. Hazman mengaku terkesan dengan kemampuan sejumlah pemain Indonesia yang harus mempelajari dialek Pahang, Malaysia, untuk kebutuhan peran. Menurutnya, dialek daerah itu tidak mudah, bahkan bagi dirinya yang berasal dari Malaysia.
"Beberapa pemain dari Indonesia seperti Asmara Abigail, Indra Paci, ada beberapa pemain dari Bali juga bisa ngobrol berdialek bahasa Pahang. Itu sangat luar biasa buat saya," kata Hazman.
Sumber: CNBC Indonesia
Tambahkan Intarta Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Topik
Ikuti Intarta di
Berita terkini setiap hari, langsung di beranda Facebook Anda.
intarta
Berita & Media
Komentar
Memuat…
Memuat komentar…
Berita Terkait

Kabut Asap Karhutla RI Kembali, Sekolah di Johor Malaysia Ditutup Lima Hari

Jual Pertalite Botolan Rp 70 Ribu, Dua Pria di Klungkung Ditangkap

Malaysia Tawarkan 3 Pesawat dan 52 Personel, Singapura Menyusul untuk Bantu Padamkan Karhutla

Peringatan Keras untuk Perusahaan Pembakar Hutan: Pemerintah Tak Akan Segan Bertindak

Viral Dugaan Anak Dipukul di Malaysia, Menteri PPPA: Kekerasan Tak Pernah Bisa Dibenarkan

Polda Kalteng Tetapkan 43 Tersangka Karhutla, Satu Korporasi Ikut Kena
Berita Terkini
Lihat Semua
Keuskupan Agung New York Sepakat Bayar 800 Juta Dolar AS kepada Para Korban

Tembakan dari Mobil di Luar Arena Tinju Dekat Brisbane, Empat Orang Terluka

Udara Singapura Mulai Membaik, Tiga Wilayah Keluar dari Zona Tidak Sehat

Arab Saudi Tembak Jatuh Rudal Houthi ke Riyadh, Trump Isyaratkan Serangan ke Iran

