OlahragaBerita

Kejuaraan Hoki Es Dunia Terancam Batal, Tuan Rumah Upayakan Solusi Diplomasi

R

Oleh

Kejuaraan Hoki Es Dunia Terancam Batal, Tuan Rumah Upayakan Solusi Diplomasi
Ilustrasi pemberitaan Intarta (Foto: Intarta/Redaksi Intarta)

Reading Comfort

BERLIN - INTARTA.com - Pemerintah Jerman menyatakan penyelenggaraan Kejuaraan Dunia Hoki Es putra pada Mei mendatang praktis mustahil dilaksanakan bila Rusia kembali diizinkan bertanding. Pernyataan itu disampaikan juru bicara pemerintah, Stefan Kornelius, setelah putusan Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS) pada 30 Oktober lalu memerintahkan Federasi Hoki Es Internasional (IIHF) membuka kembali pintu bagi Rusia di pentas internasional.

Terakhir kali Rusia tampil di Kejuaraan Dunia Hoki Es adalah pada Desember 2021 di Red Deer, Alberta. Sejak itu, tim tersebut dilarang berlaga menyusul invasi ke Ukraina, dan putusan CAS yang membatalkan larangan itu kini memicu perdebatan sengit di kalangan negara peserta.

Baca Juga:Misi Bangkit demi Tiga Poin dan Persaingan di Papan Atas

Kornelius mengatakan pembicaraan dengan Federasi Hoki Es Jerman (DEB), IIHF, dan para pemangku kepentingan lain telah memperjelas satu hal: keikutsertaan Rusia akan membuat penyelenggaraan kejuaraan praktis mustahil, baik dari sisi olahraga maupun ekonomi.

"Tujuan kami harus tetap menggelar turnamen sesuai jadwal," kata Kornelius dalam konferensi pers di Berlin, Jumat. "Namun, mengingat boikot yang akan menyusul kembalinya Rusia, hal itu secara efektif menjadi mustahil. Karena itu, kami bermaksud menjajaki — melalui dialog — bagaimana kami tetap bisa memastikan turnamen berlangsung."

Sejumlah negara peserta terkemuka, termasuk Finlandia, Swedia, dan Ceko, telah menyatakan tidak akan bertanding melawan Rusia di turnamen mana pun yang mengizinkan keikutsertaannya. Sejumlah sponsor utama juga mengancam menarik dukungan bila Rusia dibiarkan bermain.

Baca Juga:Tuan Rumah Tumbang 1-3, Dua Pemain Diusir Wasit

Turnamen Junior Jadi Ujian Pertama

Turnamen pertama yang terdampak adalah Kejuaraan Dunia Junior putra yang dibuka di Kanada pada akhir Desember, disusul kejuaraan dunia putra yang dijadwalkan berlangsung di Gelsenkirchen, Mannheim, dan Düsseldorf pada Mei.

Perdana Menteri Kanada Mark Carney awal pekan ini dengan tegas menutup pintu bagi pemain Rusia di Kejuaraan Dunia Junior di Alberta. "Selama Rusia dan Belarus mendukung perang yang ilegal dan tidak beralasan di Ukraina, selama itu pula tidak akan ada atlet mereka yang bertanding mewakili negaranya di Kanada," kata Carney. "Jadi, kalau pertanyaannya khusus soal Kejuaraan Dunia Junior, Rusia tidak akan ada di sana."

Ketua DEB Frank Lutz sebelumnya mengakui Jerman mungkin terpaksa mempertimbangkan mundur sebagai tuan rumah setelah putusan CAS. Ketika ditanya apakah Jerman bisa menerbitkan visa bagi tim Rusia, juru bicara Kementerian Luar Negeri menolak menjawab secara kategoris, tetapi mengisyaratkan hal itu akan sulit di bawah pembatasan yang berlaku saat ini.

"Di saat Rusia melancarkan perang agresi terhadap Ukraina, tidak boleh ada 'kenormalan' — dan kami tentu tidak akan berpura-pura ada," kata juru bicara Martin Giese.

Belum Ada Kata Sepakat di Federasi Internasional

Dewan IIHF semula menjadwalkan dua hari pertemuan, Senin dan Selasa, untuk mencari kesepakatan merespons putusan CAS, sebelum memperpanjang pembahasan hingga hari ketiga pada Kamis. Hingga Jumat, para anggotanya tampak belum mencapai kata sepakat.

Presiden Rusia Vladimir Putin ikut angkat bicara dan menuduh negara-negara yang menentang kembalinya Rusia ke olahraga internasional melanggar hak atlet negaranya. Sementara itu, Kejuaraan Dunia Hoki Es putri — yang tidak terdampak putusan CAS — telah dibuka di Denmark, dan hitung mundur menuju Kejuaraan Dunia Junior di Alberta pada 26 Desember terus berjalan.

Sorotan dari Indonesia

Di Indonesia, hoki es masih menjadi olahraga minor yang penggemarnya mengikuti kejuaraan dunia lewat siaran dan kabar daring. Ketidakpastian status tuan rumah dan daftar peserta tahun ini membuat jadwal tayang serta liputan kejuaraan ikut menggantung, dan penggemar kehilangan satu panggung internasional yang biasanya menjadi rujukan permainan kelas dunia.

Kasus ini juga menjadi contoh nyata bagaimana politik internasional dapat merembet ke lapangan olahraga — sebuah perdebatan yang juga relevan bagi federasi olahraga lain, termasuk di Indonesia, ketika harus memutuskan nasib atlet di tengah konflik. Pemerintah Jerman sendiri menegaskan pembicaraan akan terus berjalan dan masih berharap ada solusi diplomasi agar turnamen tetap digelar sesuai rencana.

Sumber: DW News

Tambahkan Intarta Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang →

Topik

i

intarta

Berita & Media

Diskusi

Memuat…

Memuat komentar…

Berita Terkini

Lihat Semua