TeknologiArtikel

Minta AI Buatkan Dongeng Hewan, Tokoh Utamanya Hampir Tak Pernah Perempuan

Redaksi Intarta

Oleh

Minta AI Buatkan Dongeng Hewan, Tokoh Utamanya Hampir Tak Pernah Perempuan
Ilustrasi pemberitaan Intarta (Foto: Intarta/Redaksi Intarta)

Reading Comfort

INTARTA.com - Pernah meminta AI membuatkan dongeng pengantar tidur tentang hewan yang bisa berbicara? Kemungkinan besar tokoh utamanya bukan perempuan. Bukan karena AI sengaja menciptakan tokoh laki-laki yang gagah berani, justru sebaliknya. AI yang terlalu takut terlihat bias malah memilih untuk tidak memiliki gender sama sekali, dan ketika akhirnya terpaksa memilih, hampir selalu jatuhnya ke laki-laki.

Ini bukan teori konspirasi, melainkan hasil riset sungguhan. Penelitiannya dipimpin Melanie Walsh, dosen di Information School, University of Washington, bersama dua mahasiswanya, Imani Finkley dan Yuanxi Li. Mereka menguji 6 model AI paling populer saat ini: GPT-4o, GPT-5.1, Gemini 2.5, Claude Sonnet 4.5, Mistral Medium, dan model open-source OLMo 3.

Baca Juga:Ketika Kecerdasan Buatan Membongkar Celah Keamanan di Jantung Internet

Prompt-nya sederhana dan sama untuk semua model: lanjutkan cerita tentang seekor hewan yang gendernya sengaja tidak disebutkan sama sekali.

Hanya 1 dari 46 Cerita Bertokoh Perempuan

Dari 23.800 cerita yang berhasil dikumpulkan, hanya 513 cerita yang tokoh utamanya perempuan. Artinya cuma 1 dari 46 cerita. Sisanya terbagi menjadi 57 persen dibuat netral, tidak punya gender, memakai kata ganti it atau bahkan tidak memakai kata ganti sama sekali, 41 persen menjadi laki-laki, dan hanya 2 persen yang menjadi perempuan.

Baca Juga:Gugatan Baru Menyeret Perusahaan AI Usai Kematian Seorang Pengguna

Ini bukan riset pertama mereka. Tahun lalu, tim yang sama bekerja sama dengan jurnalis dari The Pudding, membedah 300 buku cerita anak paling populer. Hasilnya mirip sekali. Dari 13 hewan yang paling sering jadi tokoh, hampir semuanya digambarkan sebagai jantan. Pengecualiannya hanya kucing, bebek, dan burung yang agak lebih sering jadi betina.

Walsh juga sempat menguji 1.300 orang sungguhan yang diminta melanjutkan kalimat tentang seekor beruang yang pergi ke sungai, dan hasilnya manusia malah lebih bias ke laki-laki daripada AI.

AI Menciptakan Bias Versi Sendiri

Pertanyaan besarnya: apakah AI akan ikut-ikutan bias manusia, atau membuat jalur sendiri? Jawabannya dipresentasikan tanggal 25 Juni 2026 di konferensi ACM di Montreal: AI menciptakan bias versinya sendiri yang lebih ekstrem. AI tidak meniru bias manusia, melainkan lari ke netralitas yang kebablasan, sampai-sampai karakter perempuan nyaris punah.

Tidak semua model sama. Yang paling netral adalah OLMo 3, dengan 85 persen ceritanya dibuat tanpa gender sama sekali. Yang paling maskulin adalah GPT-5.1 dan Gemini 2.5, dengan 65 persen dan 63 persen ceritanya langsung menjadi laki-laki. Yang paling mending adalah Claude Sonnet 4.5, yang punya persentase tokoh perempuan tertinggi, tapi tertinggi di sini pun hanya 4 persen.

Jika dilihat dari hewannya, kucing menjadi juara untuk tokoh perempuan, tapi hanya 7 persen. Sementara burung, 96 persen ceritanya dibuat netral total.

Netralitas yang Malah Menghapus

Ini bagian yang paling ironis. Orang mengira netral berarti memakai they/them yang inklusif, ternyata tidak. Dari ribuan cerita itu, kata they/them tunggal cuma muncul 2 kali, padahal pada peserta manusia ada sekitar 3 persen yang memakainya. Sebagian besar AI lebih memilih memakai it, yang kesannya seperti benda, atau mengakali kalimat agar tidak perlu memakai kata ganti.

Kata Walsh kepada UW News, hipotesis mereka adalah perusahaan AI memakai netralitas, baik lewat pronoun it/its atau tanpa pronoun sama sekali, sebagai cara menghindari bias gender dalam konteks yang ambigu. Niatnya mau netral biar adil, yang terjadi justru karakter perempuan dan identitas non-maskulin lainnya ikut terhapus. Kata penulis utamanya, Imani Finkley, ini bukan solusi, ini malah menghilangkan.

Karena model-model ini kebanyakan tertutup, para peneliti juga hanya bisa mengamati dari luar tanpa tahu persis kenapa hal ini bisa terjadi.

Dampaknya bagi Cerita Anak

Saat ini sudah ada tools seperti Gemini Storybook dari Google yang dipakai orang tua dan guru untuk membuat buku cerita bergambar buat anak. Bahkan awal Agustus 2026 Google baru saja merilis fitur Interactive Storytime di Google Home, sehingga cerita bisa dibuat langsung lewat suara.

Bayangkan jika anak-anak tumbuh dengan dongeng AI yang tokoh utamanya hampir tidak pernah perempuan kalau tidak diminta. Pelajaran pentingnya sederhana: kalau mau dongeng AI dengan tokoh utama perempuan yang keren, harus diminta secara eksplisit, misalnya buatkan dongeng tentang kancil perempuan yang pemberani. Kalau tidak, sistemnya akan default ke netral atau laki-laki, bukan karena dia seksis, tapi karena dia terlalu takut dibilang seksis.

Tim peneliti bilang mereka mau melanjutkan riset ini ke bahasa lain selain Inggris. Mereka menganggap tes ini seperti Bechdel Test-nya film, tapi buat AI, alat untuk mengecek seberapa adil AI dalam membuat cerita.

Tambahkan Intarta Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang →

Topik

i

intarta

Berita & Media

Diskusi

Memuat…

Memuat komentar…

Berita Terkait

Berita Terkini

Lihat Semua