InternasionalBerita

Peringatan Serangan Palsu Mengguncang Aplikasi Siaga, Warga Diminta Tetap Tenang

Redaksi Intarta

Oleh

Peringatan Serangan Palsu Mengguncang Aplikasi Siaga, Warga Diminta Tetap Tenang
Ilustrasi pemberitaan Intarta (Foto: Intarta/Redaksi Intarta)

Reading Comfort

KYIV - INTARTA.com - Aplikasi peringatan serangan udara yang dipakai jutaan warga diretas pada Minggu malam, sehingga mengirimkan peringatan merah palsu ke seluruh negeri, termasuk peringatan radiasi, serangan kimia, dan pertempuran jalanan di sejumlah wilayah termasuk ibu kota.

Beberapa jam kemudian, pemerintah negara lawan menyatakan aplikasi serupa miliknya juga dibobol dan menyebarkan informasi palsu, sebagian berisi kata-kata kasar. Belum jelas siapa pelaku di balik kedua insiden itu, maupun apakah keduanya saling terkait.

Baca Juga:Kyiv Kini di Garis Depan: Serangan Rusia Makin Gencar, Warga Tidur Berdesakan di Stasiun Bawah Tanah

Warga yang sudah terbiasa menerima peringatan hampir setiap malam selama lebih dari empat tahun perang mengaku kaget sekaligus curiga. Seorang warga ibu kota menuturkan pikiran pertamanya adalah ketidaksiapan menghadapi serangan nuklir, padahal ia sudah terbiasa bersiap menghadapi pemadaman listrik serta gangguan air dan pemanas. Kecurigaan muncul ketika suaminya menerima peringatan pertempuran jalanan dan pesan lain berbahasa asing, padahal notifikasi resmi biasanya memakai bahasa setempat.

Angkatan udara setempat lewat kanal Telegram menyatakan aplikasi itu kemungkinan mengalami gangguan dari pihak tidak bersahabat, menegaskan tidak ada ancaman radiasi, dan meminta warga mengikuti kanal resminya. Pemerintah kemudian menonaktifkan sementara aplikasi tersebut untuk pemeliharaan karena diduga telah disusupi.

Perang Siber yang Menyasar Rasa Aman Warga

Baca Juga:Dimediasi Melania Trump, Rusia dan Ukraina Sepakat Gencatan Senjata di Kota Oleshky

Di sisi lain, pemerintah lawan menyebut aplikasinya dihantam serangan siber besar-besaran yang menyebarkan informasi palsu kepada publik. Sebuah tangkapan layar yang beredar di Telegram, dibagikan kelompok partisan yang beroperasi di wilayah pendudukan, memperlihatkan peringatan palsu soal hulu ledak yang diluncurkan ke semua wilayah, lengkap dengan imbauan menimbun makanan tiga minggu dan bersembunyi.

Juru bicara kepresidenan lawan tidak menjawab insiden itu secara khusus, tetapi menyatakan seluruh sumber daya internet pemerintah terus-menerus diserang, termasuk situs kepresidenan yang disasar sepanjang waktu, dan menyebut perkembangan teknologi kecerdasan buatan ikut meningkatkan serangan siber. Kementerian darurat setempat menyatakan fungsi penuh aplikasi akan pulih pada akhir hari dan peretasan itu tidak mengganggu sistem peringatan yang lebih luas.

Para ahli menilai bahasa informal dalam peringatan palsu itu mengarah pada kelompok peretas aktivis yang bisa berpihak pada salah satu kubu tanpa diarahkan resmi oleh pemerintah. Pakar kebijakan siber dari Universitas Stanford, Herbert Lin, menyebut ini kemungkinan pertama kalinya peretasan semacam itu menyasar aplikasi informasi resmi, tetapi ia menduga bukan yang terakhir.

Ketua komite urusan luar negeri parlemen, Oleksander Merezhko, mengatakan serangan itu tidak menimbulkan kepanikan ekstrem karena warga, terutama di ibu kota, sudah terbiasa dengan peringatan yang nyaris tanpa henti, dan pesan berbahasa asing langsung menimbulkan kecurigaan.

Pelajaran yang bisa dipetik pembaca di Indonesia cukup jelas: dalam situasi darurat, satu aplikasi saja tidak cukup menjadi pegangan. Warga perlu membandingkan peringatan dengan kanal resmi lain, memperhatikan bahasa dan format pesan yang janggal, serta tidak langsung menyebarkan tangkapan layar yang belum terverifikasi, karena kepanikan justru menjadi tujuan utama pelaku peretasan. Bagi lembaga yang mengelola sistem peringatan publik, insiden ini menegaskan pentingnya cadangan kanal komunikasi dan perbaikan cepat begitu anomali terdeteksi, agar kepercayaan publik tidak runtuh saat ancaman nyata datang.

Insiden ini terjadi hanya beberapa menit sebelum berakhirnya gencatan senjata lokal di wilayah garis depan Kherson, yang diberlakukan sejak Selasa sebelumnya antara lain untuk memungkinkan evakuasi warga sipil dari kota Oleshky yang diduduki. Pertempuran berlanjut di tempat lain selama gencatan itu, termasuk serangan di peron kereta di kota Dnipro pada Kamis yang menewaskan 15 orang.

Sumber: BBC News

Tambahkan Intarta Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang →

Topik

i

intarta

Berita & Media

Diskusi

Memuat…

Memuat komentar…

Berita Terkait

Berita Terkini

Lihat Semua