Washington-Tel Aviv Kabarnya Matangkan Serangan ke Iran Usai Pemilu AS
Oleh Redaksi Intarta
Kamis, 22 Okt 2026 08:43 WIB

Reading Comfort
adjust the font size
Mengutip pejabat AS dan pihak-pihak yang mengetahui pembahasan tersebut, militer kedua negara disebut telah meningkatkan latihan, termasuk penerbangan di atas wilayah Irak untuk melatih manuver serangan.
“Target potensial mencakup fasilitas nuklir, persenjataan rudal dan pesawat nirawak, serta infrastruktur energi Iran,” demikian laporan tersebut, dikutip Kamis (22/10/2026).
Bahas Serangan Lanjutan
Laporan itu juga menyebut Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth bertemu dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di Israel pekan ini untuk membahas kemungkinan serangan lanjutan. Salah satu sasaran yang dipertimbangkan adalah Pickaxe Mountain, fasilitas yang disebut berada jauh di bawah tanah dan dikaitkan dengan program nuklir Iran.
Meski persiapan militer dilaporkan meningkat, belum ada kepastian Presiden AS Donald Trump akan menyetujui operasi tersebut. Trump sebelumnya berulang kali menyatakan keengganan untuk kembali melibatkan AS dalam pertempuran besar tahun ini.
Diplomasi Masih Jadi Opsi
Awal Oktober, Trump mengatakan AS tidak akan menyerang Iran sebelum pemilu paruh waktu karena kedua pihak sedang menjalani “diskusi yang produktif”. Pernyataan itu mengindikasikan jalur diplomasi masih menjadi salah satu pertimbangan Washington.
Seorang pejabat Gedung Putih mengatakan pemerintah tidak akan berkomentar mengenai rencana militer “yang mungkin ada atau mungkin tidak ada”. Namun pejabat itu menegaskan Trump tetap membuka semua opsi untuk memastikan Iran tidak memperoleh senjata nuklir.
AS dan Israel sebelumnya melancarkan perang terhadap Iran pada 28 Februari. Teheran membalas dengan serangan rudal dan drone ke sejumlah wilayah di kawasan itu serta menutup Selat Hormuz, jalur penting pasokan energi dunia.
Upaya diplomatik pun belum menunjukkan kemajuan berarti. Nota kesepahaman yang ditandatangani AS dan Iran pada Juni setelah mediasi Pakistan dan Qatar dilaporkan mengalami kebuntuan, antara lain akibat perselisihan mengenai navigasi di Selat Hormuz.
Sumber: CNBC Indonesia
Tambahkan Intarta Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Topik
Komentar
Memuat…
Memuat komentar…
Berita Terkait

Fotografer AS Dipukuli Pemukim Israel hingga Tulang Belakang Patah, Washington Berang

Kenapa Gen Z Israel Berbondong-bondong Dukung Kubu Kanan Jauh

Muhammadiyah Murka Trump Jadikan Nama 'Mohammad' Bahan Candaan: Sangat Menyakitkan

Houthi Bantu Iran Jadikan Saudi "Sandera" Perang dengan AS

Trump Tuduh Zelensky Tak Mau Perang Berakhir, Bela Alasan Longgarkan Sanksi Rusia

Trump Gunakan Nama Mohammad untuk Jadi Bahan Candaan
Berita Terkini
Lihat Semua
Airlangga Bidik Rp150 Triliun yang 'Lari' ke Luar Negeri Lewat Pasien Berobat

Yunarto Wijaya: MBG dan Kopdes Merah Putih Tak Boleh Berjalan Pakai Insting

Isu Shadowban Konten Karhutla di Medsos, Meutya Hafid: Komdigi Tak Pernah Minta Diturunkan

Gegara Tersinggung Mimik Wajah, 21 Siswa Keroyok Adik Kelas di SMAN 1 Gorontalo

