Terkini
PolitikBerita

150 Guru Besar Kirim Surat Terbuka, Desak Gibran Mundur dari Kursi Wapres

W

Oleh Redaksi Intarta

Minggu, 25 Okt 2026 14:32 WIB

150 Guru Besar Kirim Surat Terbuka, Desak Gibran Mundur dari Kursi Wapres
Ilustrasi pemberitaan Intarta (Foto: Intarta/Redaksi Intarta)

Reading Comfort

Sebanyak 150 guru besar dari berbagai disiplin ilmu di perguruan tinggi Indonesia menulis surat terbuka yang mendesak Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka mundur dari jabatannya. Surat yang tertanggal Senin (19/10/2026) itu bertajuk “Menjaga Marwah Konstitusi, Etika Bernegara, dan Legitimasi Kepemimpinan Nasional” dan ditandatangani para profesor yang tergabung dalam Forum Guru Besar Indonesia.

Pakar hukum tata negara Feri Amsari menilai surat terbuka tersebut merupakan panggilan moral bagi putra sulung mantan Presiden RI Joko Widodo itu. Menurut peneliti Poshdem Universitas Andalas tersebut, seseorang yang memiliki etika sudah seharusnya memenuhi desakan semacam itu.

“Pada dasarnya tentu itu panggilan etika ya. Tentu orang-orang yang memiliki etika akan mematuhi panggilan moral itu,” kata Feri, dikutip dari tayangan Kompas Petang yang diunggah di kanal YouTube KompasTV, Sabtu (24/10/2026).

Putusan MK Jadi Sorotan

Feri lantas menyinggung pernyataan Mahkamah Konstitusi (MK) yang menyebut tidak ditemukan bukti meyakinkan bahwa Gibran Rakabuming Raka memiliki ijazah, sertifikat, atau diploma dari luar negeri yang bisa dijadikan dasar penyetaraan dengan pendidikan paling rendah tamat SMA atau sederajat.

Pernyataan itu terungkap dalam sidang pembacaan putusan perkara Perselisihan Hasil Pemilihan Umum (PHPU) Presiden dan Wakil Presiden Tahun 2024 Nomor 01/PHPU.PRES-XXIV/2026, Selasa (6/10/2026). Menurut Feri, pernyataan MK itu sudah cukup menjadi alasan bagi Gibran untuk berjiwa besar dan mundur.

“Apalagi putusan MK sudah memberikan gambaran bahwa tidak ada ijazah itu, dan tentu daripada diperumit, harusnya proses yang lebih berjiwa besar muncul,” jelas Feri.

Penyetaraan Ijazah yang Dipertanyakan

Feri juga menilai wajar bila para akademisi mempertanyakan proses penyetaraan pendidikan luar negeri Gibran yang terkesan begitu mudah. Ia membandingkan dengan pengurusan penyetaraan ijazah pada umumnya yang bisa memakan waktu berbulan-bulan.

“Wajar saja para guru besar mempertanyakan, karena mereka untuk mengurus penyetaraan ijazah itu rumit, bisa tiga bulan, enam bulan,” ucap Feri. “Nah, ini ada orang yang bisa satu hari.”

Atas dasar itu, Feri menegaskan surat terbuka tersebut adalah panggilan moral dari para guru besar kepada Gibran. Hingga kini, desakan itu masih menjadi perbincangan publik di tengah sorotan terhadap legitimasi kepemimpinan nasional.

Sumber: Tribunnews

Tambahkan Intarta Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang

Topik

Ikuti Intarta di

Facebook

Berita terkini setiap hari, langsung di beranda Facebook Anda.

i

intarta

Berita & Media

Komentar

Memuat…

Memuat komentar…

Berita Terkait

Berita Terkini

Lihat Semua