Terkini
TeknologiBerita

Otak Gen Z Dipaksa Lembur Setiap Hari: dari Brain Rot sampai Brain Fry

W

Oleh Redaksi Intarta

Minggu, 25 Okt 2026 15:22 WIB

Otak Gen Z Dipaksa Lembur Setiap Hari: dari Brain Rot sampai Brain Fry
Ilustrasi pemberitaan Intarta (Foto: Intarta/Redaksi Intarta)

Reading Comfort

Tumbuh di era teknologi digital ternyata membawa harga yang sangat mahal bagi kesehatan mental Generasi Z (Gen Z). Meski sering dicap secara tidak adil sebagai generasi yang "lembek", mereka justru menghadapi gempuran paparan digital, banjir informasi, dan tekanan hidup yang belum pernah dialami generasi-generasi sebelumnya.

Dari kebiasaan menggulir layar tanpa henti hingga tekanan ekspektasi yang menguras tenaga, otak Gen Z seakan dipaksa bekerja lembur setiap harinya. Belakangan, bermunculan berbagai istilah baru untuk menggambarkan kondisi mental yang sangat lekat dengan keseharian generasi ini.

Brain Rot: Otak Tumpul karena Konten Singkat

Istilah brain rot atau "otak membusuk" belakangan viral untuk menggambarkan kondisi kognitif yang tumpul akibat terlalu banyak mengonsumsi konten singkat dan tidak berfaedah. Fenomena ini sangat erat kaitannya dengan siklus kecanduan dopamin.

Setiap kali seseorang menggeser video pendek di media sosial, otak melepaskan dopamin, hormon pemicu rasa senang. Sayangnya, siklus instan ini perlahan merusak rentang perhatian (attention span), membuat generasi muda makin kesulitan mencerna informasi yang panjang atau menyelesaikan tugas yang membutuhkan fokus mendalam.

Doomscrolling dan Overstimulation

Pernahkah Anda terjebak membaca rentetan berita buruk di X (Twitter) hingga tengah malam, lalu merasa dada sesak atau cemas setelahnya? Itulah yang disebut doomscrolling, kecenderungan mengonsumsi berita negatif tanpa henti.

Jika digabungkan dengan notifikasi ponsel yang bertubi-tubi, kebiasaan ini memicu kondisi stimulasi sensorik berlebih atau overstimulation. Akibatnya, sistem saraf dipaksa terus berada dalam mode waspada tingkat tinggi (fight or flight), yang pada akhirnya menguras habis energi mental dan memicu kecemasan kronis.

Burnout hingga Brain Fry

Kelelahan fisik, emosional, dan mental yang ekstrem alias burnout kini tak lagi sekadar keluhan biasa di tempat kerja. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahkan telah mengklasifikasikan burnout sebagai fenomena pekerjaan global yang resmi.

Di kalangan Gen Z yang harus menghadapi hustle culture, kondisi ini sering memuncak menjadi brain fry atau otak "menggoreng": fase ketika otak terasa benar-benar mogok bekerja karena terlalu lama dipaksa melakukan multitasking dan ketiadaan batas yang jelas antara waktu kerja dan jam istirahat.

Berbagai kondisi ini menjadi pengingat bahwa kesehatan mental generasi digital bukan sekadar label, melainkan persoalan nyata yang lahir dari cara hidup yang selalu terhubung tanpa jeda.

Sumber: Kompas Terkini

Tambahkan Intarta Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang

Topik

Ikuti Intarta di

Facebook

Berita terkini setiap hari, langsung di beranda Facebook Anda.

i

intarta

Berita & Media

Komentar

Memuat…

Memuat komentar…

Berita Terkait

Berita Terkini

Lihat Semua