EkonomiArtikel

Bukan Cuma Gaji, Ini 5 Tanda Seseorang Termasuk Kelas Menengah Bawah

Redaksi Intarta

Oleh

Bukan Cuma Gaji, Ini 5 Tanda Seseorang Termasuk Kelas Menengah Bawah
Ilustrasi pemberitaan Intarta (Foto: Intarta/Redaksi Intarta)

Reading Comfort

INTARTA.com - Besar kecilnya gaji bulanan ternyata bukan satu-satunya ukuran untuk menilai kondisi ekonomi seseorang. Kesejahteraan justru lebih terlihat dari hal-hal konkret dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari kualitas tempat tinggal, akses pendidikan, sampai cara seseorang menjalani hidupnya.

Sejumlah pengamat ekonomi mencatat ada lima ciri yang kerap melekat pada kelompok kelas bawah maupun menengah bawah. Ciri-ciri ini bukan patokan mutlak, tetapi bisa menjadi gambaran awal tentang seberapa rapuh kondisi keuangan seseorang.

Baca Juga:Kerja Keras Saja Ternyata Belum Cukup untuk Keluar dari Kemiskinan

Tempat tinggal dan jenis pekerjaan

Pertama, soal tempat tinggal. Rumah adalah pos pengeluaran terbesar dalam anggaran kebanyakan rumah tangga. Bila seseorang kesulitan mendapatkan hunian yang aman, nyaman, dan berada di lingkungan yang layak, biasanya sebagian besar penghasilannya sudah habis untuk kebutuhan dasar, sehingga nyaris tidak tersisa ruang untuk hal lain.
Kedua, jenis pekerjaan dan upahnya. Pekerjaan seperti pelayan restoran, sopir truk, pegawai ritel, buruh pabrik, atau petugas kebersihan umumnya dibayar lebih rendah dibanding posisi manajerial atau pekerjaan yang membutuhkan keahlian khusus. Menurut Nathan Brunner, CEO platform pencari kerja Salarship, posisi manajerial atau pekerjaan spesialis biasanya menjadi tanda seseorang berada di kelas menengah.
Baca Juga:Bukan Gaji Besar, Ini Lima Kebiasaan Kecil yang Pelan-Pelan Mengubah Keuangan

Namun jenis pekerjaan saja tidak cukup menjadi patokan. Guru, perawat, akuntan, atau pekerja teknologi informasi bisa berada di kelompok ekonomi yang berbeda-beda, tergantung senioritas, keahlian, sertifikasi, lokasi kerja, sampai besaran penghasilannya.

Tabungan, gaya hidup, dan pendidikan

Ketiga, ada tidaknya tabungan dan investasi. Dana cadangan berfungsi sebagai bantalan saat menghadapi kondisi darurat, sekaligus modal membangun kekayaan jangka panjang. Masalahnya, menyisihkan uang untuk itu menjadi jauh lebih sulit bila penghasilan hanya cukup menutup kebutuhan harian. Tidak adanya dana darurat, tabungan jangka panjang, atau persiapan pensiun bisa menjadi tanda kondisi keuangan seseorang masih rapuh.
Keempat, kemampuan menikmati pengeluaran di luar kebutuhan pokok. Liburan, makan di luar, belanja barang baru, atau sekadar hiburan sesekali adalah contohnya. Bila setiap pengeluaran non-esensial harus dipikir ulang berkali-kali karena keterbatasan anggaran, itu menandakan adanya tekanan ekonomi. Sebaliknya, orang yang punya ruang lebih di anggarannya untuk hal-hal semacam ini biasanya memiliki fleksibilitas keuangan yang lebih besar.

Meski begitu, gaya hidup tetap perlu dilihat bersama kondisi keuangan secara keseluruhan. Orang berpenghasilan terbatas pun tetap bisa menikmati liburan atau hiburan lewat pengaturan anggaran yang ketat.

Kelima, akses ke pendidikan tinggi. Pendidikan tinggi umumnya membuka jalan ke pekerjaan dengan penghasilan dan jenjang karier yang lebih baik. Sebaliknya, mahalnya biaya kuliah dan terbatasnya akses pendidikan sering menjadi penghalang bagi masyarakat berpenghasilan rendah untuk naik kelas secara ekonomi.

Perlu digarisbawahi, kelima ciri ini bukan vonis. Kondisi ekonomi tetap dipengaruhi banyak variabel lain, mulai dari besaran pendapatan, jumlah tanggungan, biaya hidup, aset yang dimiliki, utang, lokasi tempat tinggal, hingga akses terhadap layanan publik.

Tambahkan Intarta Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang →

Topik

i

intarta

Berita & Media

Diskusi

Memuat…

Memuat komentar…

Berita Terkait

Berita Terkini

Lihat Semua