EkonomiArtikel

Kerja Keras Saja Ternyata Belum Cukup untuk Keluar dari Kemiskinan

Redaksi Intarta

Oleh

Kerja Keras Saja Ternyata Belum Cukup untuk Keluar dari Kemiskinan
Ilustrasi pemberitaan Intarta (Foto: Intarta/Redaksi Intarta)

Reading Comfort

INTARTA.com - Setiap pagi, sebelum matahari terbit, seorang pria mendorong gerobaknya keluar dari gang sempit. Ia tidak pernah malas. Namun sekeras apa pun ia bekerja, uang yang tersisa di akhir bulan kerap tidak cukup. Kisah seperti itu bukan pengecualian, melainkan gambaran jutaan pekerja yang hidupnya bergantung pada semangat yang sama setiap hari, tetapi tabungannya tetap menipis.

Pertanyaan yang kemudian muncul terasa sederhana sekaligus getir: seberapa keras seseorang harus bekerja agar bisa lepas dari kemiskinan? Mengapa ada orang yang bekerja 12 jam sehari, bahkan mengambil dua sampai tiga pekerjaan sampingan, tetapi tak kunjung naik kelas? Jawabannya tidak terletak pada kemalasan, melainkan pada struktur ekonomi yang ikut menentukan hasil dari kerja itu.

Baca Juga:Memutus Rantai Kemiskinan Dimulai dari Cara Berpikir, Bukan dari Gaji Besar

Ketika Upah Tak Lagi Mengejar Biaya Hidup

Di banyak daerah, upah minimum provinsi atau UMP masih berkisar sekitar 3,1 juta rupiah per bulan. Hitungan sederhana menunjukkan biaya hidup satu rumah tangga, mulai dari makan, listrik, transportasi, hingga sekolah anak, sering kali jauh lebih besar daripada penghasilan itu. Seseorang bisa bekerja penuh waktu dengan bayaran minimum, tetapi tetap kejar-kejaran dengan pengeluaran.

Badan Pusat Statistik mencatat, pada Maret 2025, sekitar 23,85 juta orang berada di bawah garis kemiskinan, setara dengan 8,47 persen dari total penduduk. Angka itu menegaskan bahwa bekerja saja belum cukup: sebagian besar orang yang tercatat miskin sesungguhnya tetap bekerja, tetapi hasil kerjanya tidak sebanding dengan kebutuhan hidupnya.
Baca Juga:Sudah Menabung tapi Saldo Tak Kunjung Bertambah? Ini Lima Kesalahan yang Sering Tak Disadari

Produktivitas pekerja meningkat dari tahun ke tahun, tetapi kenaikan upah sering tidak sejalan dengan kenaikan harga barang dan biaya hidup. Perusahaan menekan biaya tenaga kerja agar tetap kompetitif, sehingga banyak pekerja menyumbang nilai besar, tetapi menerima bagian paling kecil dari keuntungan. Di sisi lain, pemilik modal memperoleh keuntungan dari investasi dan properti, sistem yang secara otomatis menggandakan uang mereka. Dari situlah jurang ketimpangan melebar, bukan karena yang di bawah tidak bekerja keras, melainkan karena sistem nilainya tidak adil.

Jebakan yang Memperkuat Dirinya Sendiri

Seorang ibu yang sehari-hari bekerja sebagai penjual keliling menjaga anak, mengantarkan barang, dan menghitung untung. Karena margin usahanya kecil, sementara biaya operasional dan transportasi naik, ia hampir tidak punya celah untuk menabung atau berinvestasi. Akhirnya ia tetap hanya cukup untuk hari itu, tanpa bekal untuk hari esok.

Pola yang sama dialami Pak Andi, seorang tukang ojek yang rajin dan tidak pernah menolak order, tetapi pendapatannya pas-pasan. Saat anaknya sakit, ia harus berutang. Ketika utang bertambah, sebagian pendapatannya habis untuk cicilan, sehingga ruang untuk menabung atau memperbaiki hidup semakin sempit. Inilah yang disebut para ekonom sebagai jebakan kemiskinan: semakin sedikit uang yang dimiliki seseorang, semakin sulit baginya membeli waktu, pendidikan, atau kesempatan yang bisa membebaskannya. Semakin lama, sistem itu memperkuat dirinya sendiri, karena medan yang dipijak selalu miring ke satu arah.

Karl Marx pernah mengingatkan, dalam sistem kapitalisme, nilai yang dihasilkan pekerja lebih besar daripada upah yang mereka terima, dan selisihnya mengalir ke pemilik modal sebagai laba. Dalam bentuk modern, pola itu tampil sebagai upah rendah, kontrak pendek, atau pembagian hasil platform digital yang tidak seimbang. Ditambah perilaku manusia yang kerap mengambil keputusan finansial karena emosi, bukan logika: terbiasa dengan penghasilan rendah, memilih kepuasan sekarang ketimbang investasi masa depan, dan membeli barang bukan karena perlu, melainkan karena takut dianggap tertinggal. Media sosial yang memamerkan gaya hidup glamor ikut menekan orang untuk terlihat berhasil, sehingga uang yang seharusnya bisa disisihkan untuk tabungan atau modal usaha justru hilang di pusaran konsumsi.

Kerja Keras Perlu Arah, Bukan Sekadar Jam Lebih Panjang

Kesadaran bahwa sistemnya timpang bukan alasan untuk menyerah. Justru dari sana, kerja keras bisa diarahkan agar lebih berarti. Langkah paling kecil dimulai dari mencatat pengeluaran, memisahkan kebutuhan dan keinginan, memahami cara kerja utang, dan belajar menanam uang, bukan sekadar menghabiskannya. Literasi finansial bukan milik orang kaya saja, melainkan senjata dasar untuk keluar dari lingkaran sekadar bertahan hidup.

Kerja keras juga lebih berarti bila diarahkan pada penciptaan nilai, bukan hanya pertukaran waktu. Orang yang bisa menciptakan nilai lewat keterampilan, inovasi, atau jaringan, perlahan memiliki posisi tawar yang lebih tinggi. Artinya, jangan sekadar sibuk, tetapi belajar untuk tetap relevan. Pada level yang lebih besar, perubahan membutuhkan solidaritas sosial, upah layak, akses pendidikan dan kesehatan, serta dukungan bagi pekerja kecil. Setiap langkah kolektif, dari memilih pemimpin yang peduli sampai membangun komunitas ekonomi lokal, bisa mempersempit jurang itu.

Pada akhirnya, ini bukan kisah tentang putus asa, melainkan tentang sadar: kemiskinan bukanlah takdir, melainkan konstruksi sosial yang bisa diubah perlahan oleh mereka yang berani memahami permainannya. Langkah pertama mungkin bukan bekerja lebih keras, melainkan berpikir lebih jernih tentang ke mana kerja itu diarahkan.

Tambahkan Intarta Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang →

Topik

i

intarta

Berita & Media

Diskusi

Memuat…

Memuat komentar…

Berita Terkait

Berita Terkini

Lihat Semua