PendidikanArtikel

Bukan Sekadar Jago Ngomong: 5 Latihan Nyata untuk Menguasai Public Speaking

Redaksi Intarta

Oleh

Bukan Sekadar Jago Ngomong: 5 Latihan Nyata untuk Menguasai Public Speaking
Ilustrasi pemberitaan Intarta (Foto: Intarta/Redaksi Intarta)

Reading Comfort

INTARTA.com - Public speaking adalah salah satu kemampuan paling berpengaruh dalam kehidupan manusia. Dampaknya bisa memengaruhi orang lain dan menjadi jalan transfer ilmu tertua di dunia. Bahkan ada ungkapan: orang yang kurang pintar tetapi mahir berbicara cenderung lebih beruntung dalam karier dan kehidupan dibanding orang pintar yang tidak mahir berbicara.

Manfaatnya jelas: menambah daya tarik, sering diandalkan orang, lebih sering tampil di depan. Namun sedikit yang mau mempelajarinya. Padahal definisinya sederhana: jago public speaking berarti bisa mengutarakan ide di kepala dengan bahasa yang mudah dipahami audiens sekaligus mendapat perhatian mereka.

Baca Juga:Pengen Kaya Saja Tidak Cukup: Lima Alasan Banyak Orang Gagal Meski Sudah Kerja Keras

Ingat dua tipe guru di sekolah: yang membuat bosan saat menjelaskan, dan yang membuat kita ingin terus mendengarkannya, karena penjelasannya mudah dipahami dan cara bicaranya menarik perhatian. Itulah inti public speaking. Berikut lima cara menguasainya.

Pahami Dulu Materinya

Kita tidak bisa menjelaskan sesuatu yang tidak kita mengerti. Langkah pertama adalah benar-benar memahami apa yang akan dibicarakan. Tesnya sederhana: bayangkan harus menjelaskan ke anak kecil umur 5 tahun. Kalau bisa membuatnya mengerti dengan penjelasan sejelas mungkin, berarti pemahaman sudah cukup. Tidak harus paham sangat dalam, yang penting paham hal-hal yang akan dijelaskan.

Baca Juga:Menabung Berdua Tanpa Drama: Cara Kompak Mengatur Uang dan Membangun Masa Depan

Latihan 20 Menit Sehari di Depan Cermin

Latihan terbaik menurut pengalaman banyak praktisi: berbicara 20 menit di depan cermin. Uraikan satu hal dengan logika sendiri, bebas topik apa pun. Misalnya kursi: jelaskan apa itu kursi selama 20 menit. Sambil latihan, perhatikan ekspresi, gestur tubuh, dan tangan, pastikan terlihat percaya diri.

Kalau 20 menit terlalu lama, 10 menit cukup; untuk pemula, 5 menit pun tidak apa-apa. Untuk progres lebih cepat, rekam diri sendiri saat latihan, tonton ulang, dan perbaiki yang kurang. Gita Wirjawan adalah contoh nyata pengguna teknik ini: ia mengaku paling tidak bisa berkomunikasi, lalu atas saran atasannya setiap malam berbicara di depan cermin sekitar 20 menit, mengurai apa saja dengan logika, dan ia masih melakukannya sejak umur 24 tahun.

Paksa Diri Menjelaskan Sesederhana Mungkin

Tantangan orang yang belum terbiasa menjelaskan adalah berbicara bertele-tele dan mengulang kalimat yang tidak perlu, dan itulah yang membuat audiens cepat bosan. Latihannya: ambil penjelasan sepanjang satu paragraf, lalu padatkan menjadi 4-8 kata. Contoh soal fotosintesis: dari kalimat panjang yang berputar-putar menjadi tumbuhan menghasilkan makanan dengan cahaya, lalu tumbuh dengan itu.

Latihan rutinnya: ambil satu topik acak, jelaskan dalam 20 detik tanpa berbelit-belit. Ulangi dengan berbagai topik sampai terbiasa menyampaikan informasi secara ringkas dan efektif.

Jadilah Storyteller

Tiga cara di atas membuat penjelasan lancar, tetapi lancar saja tidak cukup, perlu perhatian audiens. Dan manusia memang pada dasarnya suka cerita: otak didesain cenderung menangkap informasi dalam bentuk cerita. Tidak heran kitab suci penuh dengan cerita. Steve Jobs pun setiap presentasi tidak sekadar menjelaskan spesifikasi produk, melainkan bercerita tentang bagaimana produk itu mengubah hidup pembelinya.

Struktur cerita yang efektif sederhana: karakter, konflik, alur, pesan. Contoh: SpongeBob dan Patrick. Patrick mengingatkan bahwa teman-teman SpongeBob palsu dan uangnya akan habis jika terus dihamburkan; SpongeBob yang sombong mengusirnya; tak lama kemudian ramalan itu terbukti. Pesannya jelas tertangkap: jangan sia-siakan waktu dan uang untuk teman yang palsu. Mulailah melatih diri: ambil satu pesan, lalu bungkus dalam format cerita.

Pakai Intonasi yang Menarik

Cara pertama sampai keempat adalah bahan makanannya; intonasi adalah bumbu dan cara masaknya. Tidak ada yang suka mendengar orang bicara datar seperti robot. Intonasi yang bervariasi membuat audiens lebih tertarik dan betah mendengarkan. Tiru gaya bicara orang yang dikagumi, dari podcast, stand up komedi, atau influencer favorit. Dan satu trik penting: diam sejenak sebelum menyampaikan poin penting. Jeda itu membuat audiens lebih fokus.

Bonus: Atasi Rasa Takut Salah

Lima cara di atas bisa kurang berpengaruh kalau masih ada gangguan: malu, cemas, atau takut terlihat bodoh, yang membuat lancar saat latihan tetapi gugup saat maju ke depan. Semua gangguan itu berakar pada satu hal: takut salah. Atasi dengan memainkan pola pikir sendiri.

Dua sugesti yang ampuh: pertama, anggap semua audiens adalah anak kecil, kita biasanya tidak canggung dianggap salah oleh anak kecil. Kedua, remehkan kesalahan itu sendiri. Ulangi di kepala: kalau dianggap salah, terus apa? Apakah hidup berakhir? Toh kesalahan adalah bagian dari proses.

Lancar menjelaskan, mendapat perhatian lewat cerita, dibumbui intonasi menarik, dan bebas dari belenggu takut salah, itulah fondasi public speaking yang hebat. Mulai dari latihan cermin hari ini, dan rasakan sendiri perubahannya.

Tambahkan Intarta Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang →

Topik

i

intarta

Berita & Media

Diskusi

Memuat…

Memuat komentar…

Berita Terkait

Berita Terkini

Lihat Semua