Kalah di Pasar Ponsel, Raksasa Lama Ini Justru Menang di Balik Layar Penyelamatan
Oleh

Reading Comfort
adjust the font size
INTARTA.com - Dulu, namanya identik dengan ponsel lipat tipis yang dipakai semua kalangan. Kini, kekuatan terbesar perusahaan berusia hampir satu abad itu justru berada jauh dari etalase toko ponsel: pada radio dan jaringan yang dipakai petugas penyelamat ketika bencana memutus semua jalur komunikasi biasa.
Perjalanan itu bukan sekadar kisah naik-turun sebuah merek. Ia memperlihatkan bagaimana sebuah perusahaan bisa kehilangan mahkota di satu pasar, tetapi bertahan — bahkan tumbuh jauh lebih besar — karena menguasai kebutuhan yang tidak pernah hilang: manusia harus tetap bisa saling memberi kabar saat keadaan paling genting.
Baca Juga:Anthropic Rilis Asisten AI yang Menyapa Duluan Sebelum Anda BertanyaDari Radio Mobil hingga Panggilan Pertama
Semua bermula pada 1928, ketika Paul Galvin mendirikan Galvin Manufacturing dengan modal terbatas. Produk awalnya sederhana: perangkat yang memungkinkan radio memakai listrik rumah tangga sebagai pengganti baterai. Galvin kemudian membaca perubahan zaman — mobil dan radio sama-sama menjadi bagian hidup sehari-hari — dan mengarahkan timnya mengatasi radio mobil yang mahal, sulit dipasang, dan mudah terganggu sistem kelistrikan kendaraan.
Pada 1930, perusahaan itu melahirkan salah satu radio mobil tersukses secara komersial di zamannya. Namanya lahir dari gabungan kata motor dan akhiran Victrola, merek pemutar musik populer saat itu: Motorola. Namun peluang terbesarnya ternyata bukan hiburan. Pada dekade 1930-an, kepolisian membutuhkan cara agar petugas lapangan menerima informasi lebih cepat, dan Motorola mengembangkan radio kendaraan polisi — mula-mula satu arah, kemudian dua arah sehingga petugas bisa melapor sekaligus menerima arahan.
Baca Juga:Jenuh Menatap Layar, Anak Muda Beramai-ramai Pindah ke Ponsel JadulPerang Dunia II mengasah kemampuan itu lebih jauh. Militer membutuhkan perangkat yang bisa dipakai tentara di medan sulit, dan Motorola mengembangkan radio portabel termasuk handy-talky. Setelah perang, perusahaan merambah televisi, semikonduktor, hingga prosesor komputer Apple Macintosh pertama pada 1984, serta memopulerkan pendekatan pengendalian mutu Six Sigma. Pada 20 Juli 1969, perangkat radio Motorola bahkan ikut berperan dalam sistem komunikasi misi Apollo 11 saat manusia pertama mendarat di Bulan.
Puncak, Kejatuhan, dan Pelajaran Mahal
Gagasan paling berani datang dari keyakinan bahwa manusia ingin menghubungi orang, bukan tempat. Pada 3 April 1973, insinyur Martin Cooper berdiri di Manhattan sambil membawa prototipe telepon genggam besar dan menelepon Joel Engel, tokoh riset telepon seluler di Bell Labs, pesaingnya. Panggilan itu membuktikan telepon bisa dipakai tanpa terpasang di kendaraan — tetapi butuh sekitar sepuluh tahun sebelum DynaTAC 8000X dipasarkan pada 1983 dengan harga 3.995 dolar AS dan waktu bicara hanya sekitar 30 menit. Model-model berikutnya yang lebih kecil, MicroTAC pada 1989 dan StarTAC pada 1996, membantu menjadikan ponsel lipat semakin praktis.
Namun keberhasilan tidak selalu melahirkan keputusan tepat. Pada 1990-an, Motorola menanam investasi sekitar 5 miliar dolar AS pada Iridium, jaringan satelit dengan 66 satelit orbit rendah yang memungkinkan panggilan dari hampir seluruh penjuru dunia. Secara teknis itu pencapaian rekayasa luar biasa, tetapi perangkat dan tarifnya sangat mahal sementara jaringan seluler konvensional meluas cepat. Iridium mengajukan kebangkrutan pada 1999, hanya beberapa bulan setelah layanan komersialnya meluncur. Pada periode yang sama, Nokia menyalip Motorola sebagai produsen ponsel terbesar dunia.
Kebangkitan sempat datang lewat RAZR V3 pada 2004 — bodi sangat tipis berbahan metal yang terjual lebih dari 130 juta unit dan dipakai pelajar, pengusaha, hingga selebritas. Sayangnya perusahaan terlalu lama bergantung pada kesuksesan itu dengan variasi warna dan model serupa, sementara industri bergerak ke layar sentuh yang menggabungkan telepon, internet, aplikasi, dan kamera. Setelah iPhone diperkenalkan pada Januari 2007 dan Android meluas, Motorola terlambat beradaptasi; bisnis ponselnya merugi besar pada 2008. Pada 2011, perusahaan dipecah menjadi dua: Motorola Mobility untuk ponsel dan Motorola Solutions untuk radio profesional dan teknologi keselamatan publik. Google mengakuisisi Mobility senilai sekitar 12,5 miliar dolar AS pada 2011 dan merampungkannya pada 2012, lalu menjualnya kepada Lenovo senilai sekitar 2,9 miliar dolar AS pada 2014.
Bisnis yang Tak Terlihat tapi Tak Tergantikan
Bagi banyak orang, pemisahan itu seolah menandai berakhirnya kejayaan Motorola. Kenyataannya justru sebaliknya. Motorola Solutions mempertahankan bisnis yang jarang disorot konsumen tetapi menentukan hidup-mati koordinasi darurat: radio dua arah, jaringan komunikasi petugas, dan sistem pusat komando. Pentingnya teknologi itu terlihat berulang kali — serangan 11 September 2001 memperlihatkan bahaya kegagalan komunikasi antarlembaga di satu lokasi, Badai Katrina pada 2005 menunjukkan listrik dan infrastruktur yang rusak bisa memutus hubungan tim penyelamat, dan pola serupa terulang pada kebakaran hutan Maui 2023 serta Badai Helene 2024, ketika sebagian wilayah kehilangan komunikasi dan layanan dasar.
Perusahaan itu tidak hanya menjual radio. Ia memperluas usaha ke perangkat lunak penerimaan panggilan darurat, pengaturan pengiriman petugas, kamera tubuh polisi, kamera kendaraan, kamera pengawas, hingga analisis video berbasis kecerdasan buatan — sebuah ekosistem dari panggilan pertama sampai pengelolaan bukti digital. Nilai strategis keahlian tersebut tampak dalam sengketa hukum dengan Hytera, produsen radio asal Tiongkok: pada Februari 2020, juri federal menyatakan Hytera bertanggung jawab atas pencurian rahasia dagang Motorola dan memerintahkan ganti rugi lebih dari 760 juta dolar AS.
Pasar pun akhirnya menghargai bagian yang dulu dianggap membosankan itu. Ketika dipisahkan pada 2011, sahamnya diperdagangkan sekitar 40 dolar AS; pada 2025 harganya telah melampaui 450 dolar AS. Pemerintah tetap membutuhkan perangkat komunikasi polisi bahkan saat ekonomi melambat, dan begitu suatu wilayah membangun jaringannya di atas teknologi tersebut, menggantinya membutuhkan investasi besar, pelatihan, dan penyesuaian sistem — sehingga banyak pelanggan bertahan puluhan tahun, ditambah pendapatan berulang dari perangkat lunak dan layanan.
Jaringan yang Tetap Hidup Saat Menara Runtuh
Tantangan berikutnya adalah memastikan komunikasi tetap berjalan ketika jaringan biasa tiba-tiba berhenti. Pada 2025, Motorola Solutions mengambil langkah besar dengan mengakuisisi Silvus Technologies, perusahaan komunikasi asal Los Angeles, senilai sekitar 4,4 miliar dolar AS. Silvus mengembangkan teknologi jaringan mesh yang memungkinkan perangkat radio saling terhubung dan meneruskan sinyal satu sama lain tanpa harus selalu bergantung pada menara komunikasi, sehingga komunikasi tetap berpeluang berjalan meski sebagian jaringan rusak. Teknologi ini berguna dalam operasi militer, terutama menghubungkan pesawat tanpa awak dengan operatornya lewat pengiriman video dan data langsung.
Langkah itu semakin strategis setelah muncul kontrak pertahanan dengan batas nilai sekitar 6,2 miliar dolar AS untuk mendukung pengembangan komunikasi militer — angka tersebut merupakan nilai maksimum program, bukan jaminan seluruh dana langsung diterima. Bagi keselamatan publik, pendekatan serupa dikembangkan lewat sistem Horizon: radio petugas, kendaraan polisi, mobil pemadam kebakaran, ambulans, dan pesawat tanpa awak dihubungkan dalam jaringan yang lebih fleksibel, sehingga ketika menara rusak akibat bencana, perangkat di lapangan bisa membentuk jaringan lokal untuk bertukar suara, video, peta, dan informasi lokasi selama kondisi teknis memungkinkan.
Bagi pembaca di wilayah rawan bencana, ceritanya terasa dekat. Saat banjir, gempa, atau kebakaran memadamkan listrik dan merobohkan menara, ponsel pintar yang biasanya serba bisa bisa kehilangan fungsinya justru pada jam-jam pertama ketika kabar paling dibutuhkan. Jaringan mesh tidak menggantikan seluler dan satelit, melainkan menjadi jalur cadangan ketika menara, kabel, atau sumber listrik terganggu — dan petugas yang tetap terhubung bisa tiba lebih cepat, membagi tugas lebih jelas, dan mengurangi korban. Di sisi lain, tantangannya tetap nyata: kontrak pemerintah bisa berubah atau tertunda, teknologi baru harus membuktikan keandalannya di lapangan, dan meluasnya kamera serta analisis video menuntut aturan yang jelas untuk melindungi data dan privasi masyarakat.
Pada akhirnya, kisah ini mengingatkan bahwa keberhasilan perusahaan tidak hanya ditentukan popularitas produknya. Motorola mungkin pernah kehilangan mahkota di pasar ponsel, tetapi warisannya kini berkembang di balik layar — lewat perangkat radio yang membantu petugas saling terhubung, berbagi informasi, dan menyelamatkan nyawa. Terkadang, teknologi paling berharga bukanlah yang dipakai semua orang setiap hari, melainkan yang tetap bekerja ketika semua sistem lain gagal dan manusia sangat membutuhkan pertolongan.
Tambahkan Intarta Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Topik
intarta
Berita & Media
Diskusi
Memuat…
Memuat komentar…
Berita Terkait

Anthropic Rilis Asisten AI yang Menyapa Duluan Sebelum Anda Bertanya

Jenuh Menatap Layar, Anak Muda Beramai-ramai Pindah ke Ponsel Jadul

Dibuka Sampai Sekrup Terakhir, Ponsel Flagship Ini Ternyata Punya Kejutan Besar

Anthropic Resmi Ajukan IPO, Valuasi Ditaksir hingga 2 Triliun Dolar AS

Ketika Kecerdasan Buatan Membongkar Celah Keamanan di Jantung Internet

Tujuh Kendaraan Terbang Paling Menarik, dari Mobil Sport Sampai Taksi Udara
Berita Terkini
Lihat Semua
Tujuh Kendaraan Terbang Paling Menarik, dari Mobil Sport Sampai Taksi Udara

Dibuka Sampai Sekrup Terakhir, Ponsel Flagship Ini Ternyata Punya Kejutan Besar

Pengurus Ungkap Detik-detik Penggeledahan Dini Hari yang Bikin Santriwati Ketakutan

Polri Janji Evaluasi Penggeledahan yang Bikin Santriwati Trauma

