TeknologiArtikel

Internet Satelit Menjangkau Puluhan Ribu Layanan Publik di Wilayah Terpencil

Redaksi Intarta

Oleh

Internet Satelit Menjangkau Puluhan Ribu Layanan Publik di Wilayah Terpencil
Ilustrasi pemberitaan Intarta (Foto: Intarta/Redaksi Intarta)

Reading Comfort

INTARTA.com - Satelit SATRIA-1 semakin memperkuat perannya dalam memperluas akses internet, terutama di daerah terdepan, terluar, dan tertinggal. Hingga awal Juni 2026, satelit ini telah menyediakan layanan internet di 31.803 fasilitas layanan publik, mulai dari sekolah, pusat kesehatan, kantor pemerintahan desa, hingga fasilitas sosial lainnya.

Sekolah Mendominasi Titik Layanan

Baca Juga:Starlink Ukraina Kembali Normal, Zelenskyy: Kecepatan Sudah Sesuai Kebutuhan

Data Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi mencatat sekitar 21.718 titik atau kurang lebih 68 persen dari seluruh lokasi yang terhubung merupakan sekolah, terutama di kawasan 3T. Sisanya mencakup 6.353 kantor pemerintahan, 1.880 fasilitas kesehatan, 528 fasilitas pertahanan dan keamanan, 488 balai masyarakat, dan 437 rumah ibadah, ditambah ratusan fasilitas pelayanan publik lainnya.

Sebaran ini menunjukkan internet satelit tidak lagi sekadar menyediakan koneksi komunikasi, melainkan menjadi infrastruktur pendukung pelayanan publik di wilayah yang belum terjangkau optimal oleh jaringan kabel maupun BTS.

Melengkapi Serat Optik dan BTS

Baca Juga:India Luncurkan Satelit NVS-03, Perkuat Alternatif GPS Buatan Sendiri

Dengan kapasitas transmisi hingga 150 gigabit per detik, SATRIA-1 menjadi salah satu satelit internet berkapasitas terbesar di Asia saat mulai beroperasi. Kehadirannya melengkapi jaringan serat optik nasional dan pengembangan BTS di daerah yang sebelumnya sulit mengakses telekomunikasi.

Pemanfaatannya juga diperluas untuk program prioritas seperti Sekolah Rakyat dan Koperasi Desa Merah Putih, sehingga internet dapat dipakai untuk pendidikan, pemerintahan desa, hingga pengembangan ekonomi masyarakat.

Dampak Nyata bagi UMKM dan Layanan Publik

Perluasan akses membuka peluang lebih besar bagi pelaku UMKM untuk menjangkau konsumen lintas daerah tanpa membuka cabang baru, sekaligus mengakses pembayaran digital dan pembiayaan formal dengan lebih mudah. Sekolah memperoleh sumber belajar yang lebih luas, fasilitas kesehatan mulai mengembangkan telemedisin, dan berbagai layanan pemerintahan kian tersedia secara daring.

Konteksnya, laporan e-Conomy SEA yang disusun Google bersama Temasek dan Bain & Company memperkirakan nilai ekonomi digital mencapai hampir 100 miliar dolar Amerika Serikat pada 2025, tertinggi di kawasan Asia Tenggara. Meski demikian, pemerintah menilai keberhasilan transformasi digital harus diukur dari manfaat nyata yang dirasakan masyarakat, seperti makin mudahnya memperoleh pendidikan, layanan kesehatan, pelayanan publik, dan peluang ekonomi tanpa terhambat kondisi geografis.

Tantangan Berikutnya: Kualitas dan Literasi

Jaringan saja belum cukup. Pemerintah masih menghadapi pekerjaan meningkatkan kualitas koneksi di sejumlah wilayah sekaligus memperkuat literasi digital agar masyarakat memanfaatkan teknologi secara produktif, aman, dan bertanggung jawab.

Strategi ke depan juga mencakup pengembangan talenta digital, perlindungan data pribadi, penguatan keamanan siber, dan peningkatan kapasitas digital institusi publik. Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional, Bappenas menargetkan ekonomi digital menyumbang sekitar 12-13 persen terhadap Produk Domestik Bruto pada 2029.

Pemerataan pembangunan pun kini memiliki indikator baru: siswa yang bisa belajar dari daerah terpencil, pasien yang berkonsultasi secara daring, pelaku usaha yang memperluas pasar, dan warga yang memperoleh layanan pemerintah tanpa harus bepergian jauh.

Tambahkan Intarta Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang →

Topik

i

intarta

Berita & Media

Diskusi

Memuat…

Memuat komentar…

Berita Terkait

Berita Terkini

Lihat Semua