Investasi ke Diri Sendiri Lebih Masuk Akal daripada Langsung ke Kripto
Oleh

Reading Comfort
adjust the font size
INTARTA.com - Banyak anak muda ingin kaya, tetapi setiap memegang uang selalu habis entah ke mana. Formula mengatur uang berikut dirangkum dari berbagai buku dan video edukasi para profesional, lalu diuji sendiri hingga menemukan versi yang cocok, dengan harapan bisa membantu siapa pun membangun penghasilan sendiri atau setidaknya bertahan di zaman ini.
Benahi Pola Pikir soal Uang Dulu
Sebelum mengatur uang, pola pikir soal uang harus dibenahi dulu. Uang itu bukan garis finis atau tujuan akhir. Garis finisnya adalah ketika uang bekerja untuk kita. Jangan melihat uang sebagai akhir, melainkan bertanya: bagaimana uang ini bisa saya pekerjakan untuk hal lain?
Salah satu cara membuat uang bekerja adalah investasi. Sayangnya, banyak remaja begitu mendengar kata investasi langsung terpikir kripto dan saham yang terlihat memberi cuan besar dalam waktu singkat. Padahal ada bentuk investasi yang nilainya jauh lebih tinggi dan menjadi dasar untuk mendapatkan uang, tetapi justru sering diremehkan: investasi ke diri sendiri.
Kenapa Investasi Diri Didahulukan
Ini salah satu penyesalan terbesar: dulu lebih semangat belajar grafik kripto atau saham daripada mengulik cara mengembangkan skill supaya bisa dapat penghasilan, seperti belajar editing atau dropshipping. Ironisnya, modalnya pun belum seberapa, hanya dari uang jajan.
Masalahnya, keuntungan dari instrumen keuangan seperti kripto atau saham sangat bergantung pada modal. Mau cuan 8 persen dari kripto, tetapi kalau modalnya hanya satu juta, 8 persen dari satu juta itu hanya Rp80.000, itu pun kalau untung. Memang bisa cuan ratusan persen lewat koin meme, tetapi tetap lebih sehat kalau sudah punya penghasilan dari pekerjaan dulu.
Yang dipermasalahkan bukan belajar kripto atau sahamnya, melainkan ketika fokus hanya ke sana padahal belum punya modal dan belum ada penghasilan dari pekerjaan apa pun. Kalau penghasilan masih sedikit atau belum ada, jangan fokuskan uang ke kripto atau saham dulu. Lebih utamakan memutar uang itu untuk membeli kelas, buku, atau seminar supaya dapat skill, lalu pakai skill itu untuk dapat uang: kelas editing, dropshipping, affiliate, dan lainnya. Kalau bingung mau belajar skill apa, cari saja ide bisnis daring, coba dan pelajari yang ingin dicoba. Ambil langkah pertama.
Kunci Utama: Surplus Cash Flow
Masalah paling umum adalah tidak sadar saat memakai uang, hingga akhirnya habis tidak bersisa untuk hal-hal yang tidak berguna. Kuncinya ada di prinsip paling dasar mengatur uang, yaitu surplus cash flow: pemasukan lebih banyak daripada pengeluaran. Realitanya banyak yang terbalik: pemasukan pas-pasan tetapi pengeluarannya seperti konglomerat.
Bagi yang sudah bekerja dengan gaji kecil, misalnya Rp2 juta per bulan atau kurang, satu-satunya cara bisa investasi ke diri sendiri adalah menekan gaya hidup: potong pengeluaran yang tidak perlu seperti nongkrong yang tidak penting atau top up gim hanya untuk membeli skin. Kalau dari Rp2 juta itu berhasil menyisihkan Rp300.000, pakai untuk membeli buku, ikut kelas daring, atau mulai mencicil alat penunjang penghasilan seperti laptop atau ponsel yang lebih baik untuk freelance. Kelihatannya kecil, tetapi dari situlah semua proses perkembangan dimulai.
Bagi yang belum bekerja dan masih mendapat uang jajan dari orang tua, justru punya kelebihan: tidak punya beban hidup seperti cicilan. Setiap dapat uang, langsung pisahkan 30 sampai 40 persen untuk investasi ke diri sendiri. Misalnya uang jajan Rp100.000, jangan pakai semuanya untuk hal konsumtif, langsung sisihkan Rp30.000 sampai Rp40.000 untuk membeli buku atau menabung untuk kelas daring.
Waspadai Latte Factor dan Gengsi
Uang yang cepat habis tanpa terasa biasanya bukan dari pengeluaran terbesar seperti servis motor, melainkan dari yang namanya latte factor, istilah yang dipopulerkan David Bach. Pengeluaran kecil yang tampak sepele, seperti membeli kopi tiap hari, bisa menumpuk jadi jumlah besar jika dilakukan terus-menerus. Misalnya kopi Rp30.000 setiap hari: Rp30.000 dikali 30 hari menjadi Rp900.000 sebulan, dikali setahun menjadi Rp10.800.000. Dan latte factor dalam hidup tidak hanya kopi, ada jajanan receh, bahkan rokok.
Cara menghindarinya mau tidak mau adalah membangun kebiasaan mencatat semua pengeluaran dan pemasukan. Pakai aplikasi, spreadsheet, catatan di ponsel, atau buku tulis, yang penting sadar dulu ke mana uang keluar. Setelah menulis semua pengeluaran dalam sehari, akan terlihat pengeluaran tidak penting apa yang perlu dipangkas agar bisa mencapai surplus cash flow dan punya sisa uang untuk investasi ke diri sendiri.
Terakhir, jangan prioritaskan gengsi atau omongan orang. Banyak yang menghalangi dirinya sendiri dengan pikiran kalau gagal bagaimana, malu jualan kalau tidak laku, atau takut dikira tidak punya uang saat hidup hemat. Padahal realitanya, orang yang ditakuti penilaiannya tidak memberi kita makan, bahkan mungkin tidak ada kontribusinya dalam hidup. Ingat perkataan Aristoteles: kalau ingin menghindari kritik, maka jangan katakan apa pun, jangan lakukan apa pun, dan jangan jadi apa pun. Hidup di dunia ini memang tidak bisa lepas dari penilaian orang, baik dan buruk. Maka lakukan saja apa yang bisa meningkatkan kualitas hidup, tidak usah takut dihakimi orang. Realistis saja: kita makan pakai uang, bukan dari omongan orang.
Jangan pandang uang sebagai tujuan terakhir. Tujuannya adalah membuat uang bekerja untuk kita, dan satu-satunya cara adalah investasi. Kalau penghasilan masih sedikit atau belum ada, fokuskan investasi ke diri sendiri sampai punya penghasilan atau penghasilan bertambah. Supaya punya uang untuk investasi, ciptakan surplus cash flow dulu dengan mengatur uang dan menekan gaya hidup. Dan terakhir, jangan prioritaskan gengsi dalam prosesnya, lakukan saja apa yang membuat hidup berkembang.
Tambahkan Intarta Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Topik
intarta
Berita & Media
Diskusi
Memuat…
Memuat komentar…
Berita Terkait

Pengen Kaya Saja Tidak Cukup: Lima Alasan Banyak Orang Gagal Meski Sudah Kerja Keras

Gaji Selalu Habis Sebelum Akhir Bulan? Ini 6 Cara Menabung yang Masih Masuk Akal

Gaji Selalu Habis Sebelum Akhir Bulan? Ini 6 Penyebab yang Jarang Disadari

Gaji Naik tapi Tabungan Tetap Segitu? Lima Kebiasaan Sederhana Ini Bisa Mengubahnya

Memutus Rantai Kemiskinan Dimulai dari Cara Berpikir, Bukan dari Gaji Besar

Hidup Tenang Tanpa Harus Kaya Raya: Seni Mengelola Uang dengan Sadar
Berita Terkini
Lihat Semua
Demi Ekspansi Kecerdasan Buatan, Raksasa Teknologi Cari Dana 20 Miliar Dolar

Pujian Tulus Sang Pelatih untuk Peraih Bola Emas Jelang Laga Besar

Usulan Donor Organ Anak Dicabut Setelah Tuai Kritik Keras

Peringatan Serangan Palsu Mengguncang Aplikasi Siaga, Warga Diminta Tetap Tenang







