Kacamata Pintar Bisa Merekam Diam-diam, Privasi Orang Sekitar Jadi Sorotan
Oleh

Reading Comfort
adjust the font size
INTARTA.com - Bayangkan sedang mengobrol santai di sebuah tempat makan, lalu menyadari orang di meja sebelah memakai kacamata berkamera. Anda tidak tahu apakah sedang direkam atau tidak. Kegelisahan semacam inilah yang kini mengiringi perangkat berbasis AI yang bisa melihat, mendengar, dan merespons, dari kacamata pintar sampai pin pintar.
Sejumlah tempat usaha sudah bereaksi. Mengutip Reuters, pemilik tempat di beberapa lokasi, termasuk jaringan pub besar Wetherspoon, mulai membatasi pemakaian kacamata pintar di area mereka.
Baca Juga:Saksi Maret Samuel Akui Lupa Detail Foto Ijazah Jokowi, dari Kacamata hingga Kondisi FotoGugatan Soal Klaim Privasi
Di jalur hukum, gugatan diajukan terhadap Meta dan Luxottica of America. Isinya, klaim privasi pada kacamata pintar buatan mereka dinilai menyesatkan. Kuasa hukum penggugat, Ryan Clarkson, mempertanyakan seberapa jauh privasi orang lain dikorbankan demi kenyamanan pemakai. Menurutnya, tidak ada konsumen waras yang setelah diberi tahu soal privasi lalu menyimpulkan perangkat itu bisa merekam momen paling pribadi mereka, sengaja maupun tidak. Pernyataan ini berasal dari pihak penggugat, dan bahan yang tersedia tidak memuat tanggapan dari Meta maupun Luxottica.
Persaingan di Pasar Kacamata Pintar
Meta termasuk pelopor lewat lini kacamata pintarnya dan dilaporkan segera merilis produk terbaru. Samsung dikabarkan menyusul akhir tahun dengan menggandeng Gentle Monster dan Warby Parker. Wakil Presiden Eksekutif Divisi Mobile Samsung, Jay Kim, menegaskan kacamata itu tidak diposisikan sebagai pengganti total ponsel pintar. Menurutnya, makin banyak pekerjaan diambil alih AI, pengguna makin menuntut sistem yang aman dan sepenuhnya di bawah kendali mereka.
Sebagian produsen memilih jalan lain. Even Realities, perusahaan rintisan asal China, meluncurkan kacamata tanpa kamera lewat model G1 pada 2024 dan generasi keduanya setahun kemudian. Plaud membuat perekam AI berbentuk kartu yang hanya aktif bila dinyalakan manual, lengkap dengan lampu indikator atau pengumuman audio untuk memberi tahu orang sekitar.
Kekhawatiran Lama dalam Bentuk Baru
Direktur riset IDC, Jitesh Ubrani, mengingatkan bahwa ponsel pintar pun dulu ditolak karena kamera dan mikrofonnya, namun kini benda itu ada di saku hampir semua orang. Bedanya, kacamata menempel di wajah dan lebih sulit dikenali sebagai alat perekam, sehingga perdebatan soal privasi ini kemungkinan masih jauh dari selesai.
Tambahkan Intarta Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Topik
intarta
Berita & Media
Diskusi
Memuat…
Memuat komentar…
Berita Terkait

Saksi Maret Samuel Akui Lupa Detail Foto Ijazah Jokowi, dari Kacamata hingga Kondisi Foto

Pengen Kaya Saja Tidak Cukup: Lima Alasan Banyak Orang Gagal Meski Sudah Kerja Keras

Jenuh Menatap Layar, Anak Muda Beramai-ramai Pindah ke Ponsel Jadul

Demi Ekspansi Kecerdasan Buatan, Raksasa Teknologi Cari Dana 20 Miliar Dolar

Gugatan Baru Menyeret Perusahaan AI Usai Kematian Seorang Pengguna

Ketika Kecerdasan Buatan Membongkar Celah Keamanan di Jantung Internet
Berita Terkini
Lihat Semua
Perlambatan Ekonomi Diprediksi Lebih Tajam dan Panjang, Kenaikan Suku Bunga Kelima Membayangi

Demi Ekspansi Kecerdasan Buatan, Raksasa Teknologi Cari Dana 20 Miliar Dolar

Pujian Tulus Sang Pelatih untuk Peraih Bola Emas Jelang Laga Besar

Usulan Donor Organ Anak Dicabut Setelah Tuai Kritik Keras







