PendidikanArtikel

Kecerdasan dari Ibu Lewat Kromosom X? Sains Membantahnya

Redaksi Intarta

Oleh

Kecerdasan dari Ibu Lewat Kromosom X? Sains Membantahnya
Ilustrasi pemberitaan Intarta (Foto: Intarta/Redaksi Intarta)

Reading Comfort

INTARTA.com - Klaim bahwa kecerdasan anak lebih banyak diwariskan dari ibu lewat kromosom X sudah beredar bertahun-tahun di media populer, dari portal berita besar sampai situs parenting, padahal klaim ini bersumber dari tulisan blog populer, bukan jurnal ilmiah, dan peneliti yang namanya dicatut justru sudah membantahnya secara langsung.

Dari Mana Klaim Kromosom X Ini Sebenarnya Berasal?

Baca Juga:Celah Kritis PHP Ditemukan Lewat Kecerdasan Buatan, Sejumlah Negara Tutup Situs Pemerintah

Klaim ini pertama kali menyebar luas lewat sebuah postingan viral di Psychology Spot, situs psikologi populer, bukan jurnal akademis yang melalui proses tinjauan sejawat. Postingan itu mengaitkan temuannya dengan studi tahun 1994 oleh Medical Research Council Social and Public Health Sciences Unit di Glasgow, Skotlandia, yang disebut mewawancarai 12.686 orang berusia 14-22 tahun.

Yang menarik, ketika jurnalis sains menelusuri klaim ini ke sumbernya, unit riset tersebut tidak bisa menemukan studi yang dimaksud. Media sains KQED menghubungi langsung Geoff Der, peneliti senior di unit itu. Jawabannya: postingan viral tersebut kemungkinan besar salah mengutip. Studi yang paling mendekati justru soal hubungan menyusui dengan kecerdasan anak, sama sekali bukan soal pewarisan gen lewat kromosom X.

Jurnalis sains Emily Willingham di Forbes juga membedah klaim ini secara terpisah, dan menyimpulkan dasarnya lemah: sekalipun ibu memang punya dua kromosom X, itu tidak berarti keduanya otomatis membawa gen kecerdasan yang identik.

Baca Juga:Dinilai Ber-IQ di Atas Rata-Rata, Tersangka Pembunuhan Ibu dan Anak di Madiun Diduga Butuh Dua Hari Hapus Jejak

Satu angka dalam klaim ini tetap berdiri secara ilmiah: perkiraan bahwa 40-60 persen kecerdasan dipengaruhi faktor keturunan. Itu konsisten dengan riset genetika perilaku secara umum, biasanya dari studi anak kembar. Tapi angka ini berdiri sendiri, tidak terkait dengan cerita spesifik kromosom X dari ibu yang sudah dibantah di atas.

Kalau Bukan Lewat Daftar Ciri, Bagaimana Psikolog Mengenali Anak Berbakat?

Ini bagian yang jarang dijelaskan media populer. Psikolog pendidikan tidak mengandalkan daftar centang seperti suka bertanya atau punya selera humor dewasa sebagai alat diagnosis. Yang mereka pakai adalah tes psikometrik terstandar, di antaranya WISC-V (Wechsler Intelligence Scale for Children) untuk anak usia 6-16 tahun, yang mengukur pemahaman verbal, penalaran visual, memori kerja, dan kecepatan pemrosesan, WPPSI untuk anak prasekolah yang lebih muda, serta Stanford-Binet (SB5) dan Raven's Progressive Matrices, yang lebih menekankan penalaran nonverbal dan berguna untuk anak dari latar belakang bahasa atau budaya berbeda.

Ambang batas berbakat pun tidak seragam. Sebagian besar riset memakai skor IQ di kisaran 120-130 ke atas, tapi ada juga yang memakai kriteria top 1 persen atau top 5 persen dari populasi. Artinya, tidak ada satu angka sakti yang berlaku universal. Bedanya, psikolog sampai pada kesimpulan itu lewat instrumen terukur, bukan cuma observasi orang tua di rumah.

Ciri kognitif dan psikologis yang benar-benar didukung riset juga lebih spesifik daripada daftar viral: anak berbakat cenderung unggul dalam memori kerja verbal, kontrol inhibisi atau menahan respons impulsif, kecepatan pemrosesan informasi, dan pemecahan masalah geometris. Secara psikologis, mereka juga cenderung mencetak skor lebih tinggi pada motivasi intrinsik, efikasi diri, dan keterbukaan terhadap pengalaman baru, tiga hal yang lebih sulit diamati sekilas dibanding suka bertanya banyak hal.

Twice Exceptional, yang Nyaris Tak Pernah Disebut

Satu hal yang nyaris tidak pernah disebut di listicle populer: sebagian anak berbakat juga punya kondisi seperti disleksia, ADHD, atau kondisi spektrum autisme. Istilah untuk ini adalah twice exceptional (2e). Pada anak-anak ini, kemampuan kognitif tinggi bisa menutupi kesulitan belajarnya, atau sebaliknya, kesulitan belajarnya menutupi potensi kognitifnya, sehingga keduanya sama-sama luput terdeteksi kalau hanya mengandalkan pengamatan sepintas dari daftar ciri umum. Ini salah satu alasan utama kenapa psikolog pendidikan menekankan pentingnya asesmen formal, bukan sekadar mencocokkan anak dengan daftar di internet.

Apa yang Sebaiknya Dilakukan Orang Tua?

Kalau Anda mencurigai anak Anda punya kemampuan di atas rata-rata, langkah yang lebih bermanfaat daripada mencocokkan dengan listicle adalah berkonsultasi ke psikolog anak atau psikolog pendidikan yang bisa melakukan asesmen terstandar, bukan sekadar observasi informal. Perhatikan pola, bukan satu momen: satu kali anak menunjukkan kosakata canggih tidak serta-merta berarti jenius, psikolog melihat konsistensi lintas waktu dan konteks. Jangan buru-buru melabeli, dan jangan buru-buru menolak kemungkinan itu juga, karena label yang salah, baik terlalu cepat menyematkan maupun terlalu cepat menampik, sama-sama bisa memengaruhi cara anak dipandang dan diperlakukan di sekolah maupun di rumah.

Kecerdasan dari ibu lewat kromosom X adalah contoh baik soal bagaimana klaim sains yang terdengar meyakinkan, lengkap dengan angka spesifik yang tampak presisi, bisa terus disalin dari satu situs ke situs lain selama bertahun-tahun tanpa ada yang mengecek ke sumber primernya. Yang sebenarnya diketahui sains jauh lebih membumi: kecerdasan memang sebagian diwariskan, tapi bukan lewat jalur ibu-saja yang diklaim listicle tersebut, dan mengenali anak berbakat sungguhan butuh instrumen terukur, bukan daftar centang dari artikel yang beredar viral.

Tambahkan Intarta Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang →

Topik

i

intarta

Berita & Media

Diskusi

Memuat…

Memuat komentar…

Berita Terkait

Berita Terkini

Lihat Semua