TeknologiArtikel

Kejar Ambisi AI, Tambahan Listrik 1.500 MW Jadi Tantangan

Redaksi Intarta

Oleh

Kejar Ambisi AI, Tambahan Listrik 1.500 MW Jadi Tantangan
Ilustrasi pemberitaan Intarta (Foto: Intarta/Redaksi Intarta)

Reading Comfort

INTARTA.com - Target pertumbuhan ekonomi 8 persen membawa konsekuensi langsung pada kebutuhan listrik. Industri pusat data dan kecerdasan buatan yang sedang naik daun dikenal sangat boros energi, sehingga ambisi itu tidak akan tercapai tanpa pasokan daya yang kuat.

Tambahan 1.500 Megawatt untuk Dua Tahun

Baca Juga:Ditolak Mentah-mentah, Warga Pennsylvania Tolak Uang Rp154 Juta demi Menolak Pusat Data Raksasa

Dalam acara Energy Management Launch yang digelar Indosat Ooredoo Hutchison, Director & Chief Business Officer IOH M. Danny Buldansyah menyebut Indonesia butuh tambahan setidaknya 1.500 megawatt listrik hanya untuk menopang perkembangan AI dalam dua tahun ke depan. Angka itu setara dengan kebutuhan satu pembangkit besar atau konsumsi satu provinsi.

Di atas kertas, modalnya tersedia: lahan luas, talenta digital melimpah, dan biaya operasional yang disebut lebih murah dibanding negara tetangga. Namun Senior VP Head of IoT & Big Data IOH Melvin Jeffrey Chan mengingatkan 68 persen listrik masih bergantung pada batu bara, sehingga sistem kelistrikan rentan dan tidak efisien.

Solusi Manajemen Energi Berbasis AI

Baca Juga:Demi Ekspansi Kecerdasan Buatan, Raksasa Teknologi Cari Dana 20 Miliar Dolar

Gangguan listrik juga memicu masalah berantai, dari risiko kebakaran akibat korsleting sampai kerugian finansial saat operasional berhenti mendadak. Melvin menilai, tanpa pemantauan real-time dan dengan manajemen energi yang masih reaktif, banyak biaya terbuang karena kegagalan fasilitas dan downtime.

Indosat menawarkan solusi Energy Management berbasis AI dan IoT dengan pendekatan full-stack dalam satu platform. Lapisan pertama adalah sensor dan meteran pintar di lapangan, lapisan kedua IoT gateway yang terhubung jaringan Indosat untuk mengirim data, dan lapisan ketiga platform analitik AI yang mengubah data menjadi peringatan dini dan dashboard prediktif.

Solusi itu diklaim sudah diterapkan pada pemantauan daya penerangan jalan pintar dan utilitas gedung yang mampu menekan biaya energi hingga 30 persen, serta pemantauan genset, transformator, dan baterai dari jarak jauh. Melvin mengklaim sistemnya bisa memberi penghematan energi 10 sampai 15 persen dengan balik modal dalam 6 hingga 15 bulan, dan memprediksi hingga 40 persen potensi gangguan sebelum terjadi.

Jika tambahan daya untuk AI tidak disiapkan, investasi pusat data berisiko pindah ke negara tetangga, sementara industri menanggung tagihan membengkak dan risiko operasional berhenti.

Tambahkan Intarta Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang →

Topik

i

intarta

Berita & Media

Diskusi

Memuat…

Memuat komentar…

Berita Terkait

Berita Terkini

Lihat Semua