Panduan Mengatur Keuangan untuk Pemula: Dari Dana Darurat hingga Investasi Reksadana
Oleh

Reading Comfort
adjust the font size
INTARTA.com - Mengatur keuangan pribadi kerap terasa rumit bagi pemula. Namun menurut perencana keuangan Teguh, kuncinya justru sederhana: kenali dulu kondisi keuangan sendiri, tentukan tujuan, lalu pilih produk investasi yang sesuai.
Teguh, yang sempat menjadi perencana keuangan Raditya Dika sejak 2010, menjelaskan langkah pertama adalah mengecek kesehatan finansial. Caranya, bandingkan pendapatan dengan pengeluaran — jika pengeluaran lebih besar dari pendapatan, kondisi keuangan sudah tidak sehat. Selanjutnya, bandingkan total utang dengan aset; utang yang nilainya melebihi aset juga menandakan masalah. Terakhir, pastikan cicilan utang setiap bulan tidak melebihi 30 persen dari pendapatan.
Baca Juga:Bukan Besarnya Gaji, tapi Cara Menyimpan: Lima Kebiasaan yang Membuat Uang Terus BekerjaSiapkan Dana Darurat Dulu
Setelah kondisi keuangan sehat, langkah berikutnya adalah menyiapkan dana darurat. Besarannya minimal tiga kali pengeluaran bulanan bagi yang masih lajang, dan enam kali pengeluaran bulanan bagi yang sudah memiliki tanggungan seperti istri dan anak.
Dana darurat berfungsi sebagai penyangga ketika terjadi kondisi tak terduga, misalnya kehilangan pekerjaan atau anggota keluarga sakit. Teguh sendiri menerapkan prinsip tidak menyimpan uang di tabungan melebihi tiga bulan pengeluaran — kelebihan dananya dialihkan ke investasi karena mengendap di tabungan dianggap rugi dari sisi opportunity cost .
Baca Juga:Menabung Berdua Tanpa Drama: Cara Kompak Mengatur Uang dan Membangun Masa DepanInvestasi Harus Punya Tujuan
Menurut Teguh, kesalahan umum pemula adalah berinvestasi tanpa tujuan yang jelas. Padahal tujuan inilah yang menentukan produk investasi apa yang tepat. Tujuan menikah lima tahun lagi tentu berbeda perlakuannya dengan tujuan pensiun 20 tahun lagi.
Prinsipnya: semakin pendek jangka waktu menuju tujuan, semakin konservatif produk yang dipilih. Untuk kebutuhan tiga tahun ke depan seperti liburan, reksadana pasar uang atau pendapatan tetap lebih cocok. Sementara untuk tujuan jangka panjang seperti pensiun, reksadana saham masih bisa dipertimbangkan.
Yang tak kalah penting, alokasi investasi perlu direvisi seiring mendekatnya waktu tujuan. Contohnya, dana pendidikan anak yang semula ditempatkan di reksadana saham dan campuran bisa dipindahkan ke deposito ketika waktu kuliah tinggal dua tahun lagi — karena kebutuhan itu bersifat wajib dan tidak bisa ditunda.
Kenali Profil Risiko Diri Sendiri
Selain jangka waktu, profil risiko juga menentukan pilihan produk. Teguh membagi profil risiko menjadi tiga: konservatif, moderat, dan agresif. Orang bertipe konservatif yang panik saat nilai investasinya turun sebaiknya tidak ditempatkan di reksadana saham — sekalipun tujuannya 30 tahun lagi — karena tekanan psikologis di tengah jalan justru bisa merusak rencana keuangannya.
Investasi itu bukan cuma soal mengejar return. Yang perlu dipikirkan adalah pada saat kita punya kebutuhan di masa depan, kita sudah menyiapkannya dari sekarang.
Metode Dollar Cost Averaging
Bagi pemula yang tidak punya waktu memantau pasar, Teguh menyarankan metode dollar cost averaging : berinvestasi rutin setiap bulan pada tanggal yang sudah ditentukan, tanpa melihat pergerakan pasar. Saat pasar naik, investor membeli dengan harga mahal; saat pasar turun, membeli dengan harga murah. Dalam jangka panjang, harga beli akan terata-rata.
Ia juga mengingatkan bahwa tujuan yang bersifat nice to have seperti jalan-jalan ke luar negeri atau membeli mobil boleh ditempuh dengan produk yang lebih agresif, karena jika target belum tercapai, rencana tersebut bisa ditunda atau disesuaikan. Sebaliknya, kebutuhan wajib seperti biaya sekolah anak tidak boleh dikompromikan.
Beli di Tempat Berizin, Mulai dari Nominal Kecil
Untuk membeli reksadana, masyarakat bisa datang ke bank — pastikan cabang tersebut memiliki staf bersertifikasi WAPER (Wakil Agen Penjual Reksadana) sesuai ketentuan OJK — atau melalui aplikasi yang berizin sebagai Agen Penjual Reksadana.
Kabar baiknya, investasi kini bisa dimulai dari nominal sangat kecil. Reksadana ada yang bisa dibeli mulai Rp10 ribu, dan saham mulai Rp100 ribu. Data Bursa Efek Indonesia mencatat jumlah investor terus meningkat signifikan, dengan pertumbuhan terbesar berasal dari kalangan milenial.
Bagi yang masih ragu, Teguh menyarankan untuk langsung mencoba dengan nominal kecil, misalnya Rp1 juta, agar merasakan langsung naik-turunnya pasar dan mengenali profil risiko diri sendiri. Namun ia menekankan, berinvestasi dengan tujuan yang jelas tetap jauh lebih baik daripada sekadar mencoba-coba.
Sumber: CARA NGATUR DUIT UNTUK PEMULA — YouTube - Raditya Dika
Tambahkan Intarta Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Topik
intarta
Berita & Media
Diskusi
Memuat…
Memuat komentar…
Berita Terkait

Bukan Besarnya Gaji, tapi Cara Menyimpan: Lima Kebiasaan yang Membuat Uang Terus Bekerja

Menabung Berdua Tanpa Drama: Cara Kompak Mengatur Uang dan Membangun Masa Depan

Gaji Selalu Habis Sebelum Akhir Bulan? Ini 6 Cara Menabung yang Masih Masuk Akal

Sepuluh Ribu Sehari, Jalan Pelan Menuju Tabungan yang Terasa

Gaji Pas-pasan Tetap Bisa Menabung dengan Lima Langkah Ini

Sudah Menabung tapi Saldo Tak Kunjung Bertambah? Ini Lima Kesalahan yang Sering Tak Disadari
Berita Terkini
Lihat Semua
Perlambatan Ekonomi Diprediksi Lebih Tajam dan Panjang, Kenaikan Suku Bunga Kelima Membayangi

Demi Ekspansi Kecerdasan Buatan, Raksasa Teknologi Cari Dana 20 Miliar Dolar

Pujian Tulus Sang Pelatih untuk Peraih Bola Emas Jelang Laga Besar

Usulan Donor Organ Anak Dicabut Setelah Tuai Kritik Keras







